WARTAIDAMAN.com
Satria tiba di suatu tempat yang mengasyikan. Kata orang itu namanya Jam Gadang. Ada Jam besar dan banyak orang lalu lalang di situ. Mobil yang parkir di jalan-jalan di sekeliling Jam Gadang pun banyak. Ada mall, ada pasar tradisional.
Menurut orang yang mengantar tadi, banyak orang yang belanja di pasar Aur Kuning untuk kemudian dijual lagi ke kota lain, bahkan ada yang sampai ke Malaysia.
Pergi ke Bukittinggi untuk belanja, kemudian bahan belanjaannya dijual.
‘Wah bukan main nih. Pantesan kok ramai banget suasana di Jam gadang ini. Rasanya kalau melihat Jam Gadang di Kota Bukittinggi ini, seperti melihat Big Ben di London, atau melihat Zam Zam Tower di Mekkah.’ Pikir Satria.
Walaupun belum setinggi ke dua tempat itu, tapi melihat Jam Gadang dengan bangunan atasnya merupakan simbol rumah adat Minangkabau. Pemandangan Jam Gadang menjadi sangat eksotis, bukan saja bagi masyarakat Minangkabau, tetapi begitu juga kesan Satria, yang nota bene, belum begitu kenal dengan budaya Minang.
Wajar kalau kemudian di sekitar Jam Gadang kemudian muncul banyak aktivitas ekonomi.
Jam Gadang menjadi pusat lalu lalang banyak orang, apalagi konon, kalau naik ke bangunan rumah, bagojong, rumah adat Minangkabau itu, kita dapat melihat panorama ke seluruh Kota Bukittinggi, Satria jadi seperti membayangkan Tugu Monas.
Hanya Satria tetap agak bingung,’kok tidak ada yang tahu tentang Istana Langit Timur, ya? Padahal kata Andri Sipil, Istana Langit Timur itu berada di kota pemberhentian terakhir. Bukittinggi itu kota pemberhentian terakhir. Tetapi mengapa tidak ada yang tahu tentang Istana Langit Timur.’
Dalam kebingungannya Satria berdiri-berdiri tegak saja, melihat orang lalu lalang di Jam Gadang.
“Jadi ke Goa Jepang, nggak yuang?” tiba-tiba pengantar itu datang lagi mendekati Satria.
‘Goa Jepang apalagi itu ya?’ pikir Satria.
‘Barangkali kalau pergi ke Goa Jepang, nanti di sana ada yang tahu tentang Istana langit Timur. Boleh juga tuh, mencoba ke Goa Jepang.’ Lamun Satria melambung.
“Baik Bang, Antar saya ke Goa Jepang.” Putus Satria.
Tidak lama kemudian Satria sudah sampai di tempat wisata Panorama, dekat sekali begini, tahu begitu tadi Satria jalan kaki saja. Tapi kan Satria belum pernah ke sini.
“Ini Panorama Bang, Goa Jepang, Ngarai Sianok, apa itu Bang?” tanya Satria agak berharap besar.
Tadi di Jam Gadang walau banyak orang hanya satu tempat wisata. Di sini Satria baca, ada taman wisata Panorma, ada Goa Jepang ada pula Ngarai Sianok.
“Buyuang masuk saja. Nanti di sana ada yang memberi tahu.” kayaknya pengantar itu ingin segera berangkat lagi. Beda dengan waktu ke Jam Gadang, banyak ceritanya di perjalanan menuju Jam Gadang.
Satria disuruh melihat angka yang menunjukkan jam 4 yang ditulis IIII, bukan IV. Entah katanya supaya sejajar dengan angka VIII, sehingga angka romawi itu tampak kelihatan seimbang. Ah, bingung Satria dibuatnya. Ada pula Satria tadi sempat mendengar Raja Louis XIV yang menyuruh membuat angka pada jam itu begitu. Bah, mengapa Raja itu tidak menyuruh menulis gelarnya Louis ke XIIII sekalian.
Tapi memang Jam Gadang tadi antik. Satria sebenarnya ingin berlama-lama di situ. Tapi Satria tidak menemukan petunjuk Istana Langit Timur di sana. Jadi sekarang Satria akan mencoba lebih keras mencari petunjuk tentang Istana Langit Timur, di Taman Panorama, Goa Jepang atau bahkan Ngarai Sianok.
Panorama rupanya merupakan tempat wisata di tengah Kota Bukittinggi, dari Panorama sesuai namanya dapat memandang jauh ke depan, indahnya Ngarai Sianok.
Dari ketinggian Kota Bukittinggi, di depan Taman Panorama terbentang jauh ke depan suatu pemandangan alam bak lukisan yang luar biasa, Ngarai Sianok.
Namun Satria masih diselimuti dengan perasaan tidak menentu karena belum juga menemukan tanda-tanda tentang Istana Langit Timur, segera Satria mencari petunjuk ke arah Goa Jepang.
Lagi-lagi Satria menjumpai tempat yang jauh lebih sepi, beda dengan suasana di Jam Gadang yang kelihatan sekali, sebagai Pusat Wisata. Di Goa Jepang Satria juga tidak mendapatkan informasi mengenai Istana langit Timur. Satria mencoba masuk ke bawah, perasaan Satria anak tangga yang dituruninya ini banyak sekali, semakin ke bawah tentu semakin gelap. begitu sampai di bawah, ada lorong yang diterangi lampu.
Wah, kalau tidak ada lampunya, Satria bisa saja merasa takut. Siang hari saja gelap, apalagi malam. Tanpa disadari tangan Satria menyentuh dinding Goa Jepang, kemudian tiba-tiba Satria mendengar dialog:
“Aku tak mau bertemu dengannya.”
“Kau tahu bukan? Di Istana Pagar Ruyung ini, dia diperlakukan seperti apa?”
‘Istana Pagar Ruyung, apa pula itu?
‘Satria mencari Istana Langit Timur, kok malah seperti ada yang bersuara dan menyebut Istana Pagar Ruyung?’ Lamun Satria.
Satria mencoba memperhatikan secara jelas apa yang dilihatnya, hanya ada seperti bayangan dua orang perempuan yang sedang melakukan pembicaraan, semakin Satria perhatikan semakin kabur dan kemudian hilang.
‘Istana Pagar Ruyung, mungkin ini suatu petunjuk, di sana mungkin Satria dapat menemukan Istana Langit Timur.’ Pikir Satria.
“Istana Pagaruyung, itu di Batu Sangkar, sekitar 60 km dari sini. Kalau mau sewa boleh 200 ribu dari sini.”
‘Bah hampir sama dengan naik bus dari Jawa nih. Apa boleh buat.’ Pikir Satria. Tujuan dia ke sinj kan memang ingin mencari info tentang Istana Langit Timur. ‘Barangkali di Istana Pagaruyung, Satria dapat menemukan petunjuk yang lebih pasti.’ Pikir Satria.
###
‘Wah megahnya Istana Pagaruyung ini.’ pikir Satria.
Satria masuk ke dalam Istana Pagarruyung dengan hati-hati. Maklum bangunan Istana yang begitu megah itu, merupakan bangunan besar yang mempunyai ciri khas Minang Kabau.
Namun Satria agak terkejut ketika menjumpai di salah satu ruangan itu, ada sebuah prasasti yang tertulis nama Adityawarman.
Satria seperti merasa pernah mendengar nama itu. rasanya nama itu begitu akrab di telinga Satria. ‘Aditya, Satria,’ begitu pikir Satria.
‘Adityawarman, Satria Pratama, ah beda.’ lamun Satria lagi.
Tanpa sengaja Satria, kembali tangan Satria memegang salah satu dinding Istana Pagarruyung.
Tiba-tiba Satria seperti terbawa masuk ke dalam suatu ruangan bagunan modern, yang biasa dilihatnya di kota-kota lain, seperti di Jakarta saja.
Namun betapa terkejut Satria sesampainya di dalam.
Terlihat oleh Satria ada seorang perempuan yang ketakutan karena sedang mendapat ancaman seekor harimau. Anehnya harimau tersebut berjalan pelan berputar di depan sosok perempuan yang sangat ketakutan.
“Chres, apa maumu sebenarnya?” terdengar wanita itu, bertanya sambil ketakutan.
Tubuhnya yang bersandar di dinding, ke dua tangannya yang nampak memegang dinding tidak dapat dapat menghindar lagi, wajahnya yang kaku dan ke dua bola matanya yang memancarkan rasa takut, menunjukkan wanita ini sudah tidak berdaya.
“Rise, mengapa kau selalu menghindar dariku. Katakan padaku. Siapa yang dapat menolongmu sekarang?” terdengar suara yang ke luar dari mulut harimau itu.
Melihat itu semua, tubuh Satria semakin bergidik. Tanpa sadar Satria berucap: “Is … tana …. Langit …. Timur.”
“Hey, anak muda. Siapa kau ini. Bagaimana kau bisa sampai ke sini.
Kurang ajar. Anak muda tak tahu diri. Berani-beraninya kau masuk ke wilayahku!”
Harimau itu tampsk begitu marah dengan Satria, lalu sambil mengaum menyerang Satria tanpa ampun. Satria jatuh terduduk terkejut melihat harimau itu menyerangnya.
Satria sudah merasa pasrah ketika tidak dapat menghindar lagi, karena posisinya sudah sampai di batas dinding. Tubuh harimau itu terbang seperti akan menerkam kepala Satria.
Tanpa disadari Satria, tiba-tiba dia kemudian teringat Dosi.
Ya. Dosi. Wanita yang dihindari Satria, padahal Dosilah yang berjasa mengembalikan semangat hidup Satria.
Namun setelah merasa dekat Satria justru merasa takut kepada Dosi. Satria pernah membaca postingan-postingan mengerikan Dosi kepada laki-laki. Laki-laki jahat tentunya. Satria rasanya ingin berteriak.
[Mendekatlah ke sini. Aku tahu apa yang kau inginkan. Kau tidak akan puas hanya memiliki tubuhku bukan. Kau akan memperlakukanku bagaikan musang. Buas. Tapi hanya sebentar. Lalu kau akan lemas setelah itu. Rasakan tusuk belatiku ini. Kuhujamkan tepat di jantungmu. Kemudian kugoreskan ke bawah. Biar tubuhmu terkoyak. Bersimbah darah. Hanya itu yang dapat membuatku senang.] teringat Satria dengan postingan Dosi yang ganas.
Satria terkejut.
Tiba-tiba harimau itu terkulai di depannya. Satria bingung, tangannya tiba-tiba berlumuran darah dan memegang pisau. Di sudut mulutnya, Satria juga seperti menelan cairan, antara rasa keringat dan cairan kental. Belum sempat Satria sadar apa yang sesungguhnya terjadi, tiba-tiba ada suara yang sangat dikenal memanggilnya.
“Sat.”
“Dos.”
Satria tambah bingung,’kok Dosi ada di sini?’
Tiba-tiba terdengar bunyi Cling! Bandol segera membuka pesan di smartphonenya.
{Satria di mana kamu. Tolong kunci bagian belakang Istana Langit Timur. Sudah beberapa ayam yang lepas.} Ando Ajo.
“Dos. Tunggu Satria di sini! seru Bandol sambil bergegas.
Bandol adalah nama panggilan Satria Pratama di kampung kelahirannya
BACA:
Sensasi Satria Pratama: Bandol Ditolak Masuk Istana
BACA JUGA:
Sensasi Satria Pratama: Bandol Menuju Goa Jepang
Sensasi Satria Pratama: Bandol Terseret Reklamasi
Sensasi Satria Pratama: Bandol Hilang Ditelan Bumi
Sensasi Satria Pratama: Bandol Ogah Jadi Cyber Army
Sensasi Satria Pratama: Telepon Bandol Disadap
Sensasi Satria Pratama: Bandol Diundang ke Istana Langit Timur
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 170725
Views: 99




















