SASTRO dan Cogito kehilangan jejak di bandara,
akhirnya Sastro mencari taksi untuk ke rumah Kapten
Ade karena akan menghadiri pernikahan Pak Ning. Pada
saat menunggu antrian untuk mendapatkan taksi
itulah, Cogito kembali melihat Om Sae keluar dari
barisan atrian pengambilan tiket taksi. Tadinya Cogito
ingin berteriak memanggil Om Sae, tetapi tampak
olehnya, Om Sae begitu tergesa melangkah menuju
jalur taksi. Akhirnya Cogito mengurungkan niatnya,
mau menegur Om Sae.
“Ada apa Cogito?” tanya Sastro, saat melihat
Cogito ingin bicara dengan seseorang.
“Itu, Bang. Cogito lihat ada Om Sae, pelanggan
Cogito Coffe Shop,” kata Cogito.
“Yang kemarin jumpa juga di pantai Dream Land.
Rupanya beliau sudah di sini juga,” tambah Cogito.
“Oooh, pelanggan setia, ya?” tanya Satro.
“Ya. Seperti Abang juga, kan?” kata Cogito.
“Cogito, yakin, Abang akan setia padamu?” tanya
Sastro.
“Ah, Abang ini. Bikin malu Cogito aja. Itu
antriannya sudah maju,” kata Cogito.
***
Sampai di rumah Kapten Ade, Sastro dan Cogito
tidak mengetahui insiden Nabilla ribut di pesta itu.
Pesta itu pun berlangsung sederhana. Namun, memang
tamunya luar biasa banyak. Kelihatan konsumsinya
menjadi terlambat mengantisipasi jumlah tamu yang
datang. Pak Ning ingin pesta besar, mengundang
koleganya, pesta pun menyewa gedung pertemuan.
Geulis hanya ingin pesta sederhana, di rumah Kapten
Ade saja.
Namun, karena kolega Pak Ning banyak sekali,
diundang tidak diundang mereka berdatangan,
akibatnya petugas konsumsi kewalahan. Untung
kenalan Kapten Ade juga banyak. Konsumi pun pesan
ganti-gantikarena tidak sesuai prediksi dan tidak mudah
memesan menu yang sama dalam waktu singkat.
Akhirnya banyak tamu yang hanya bersalaman
dengan Pak Ning dan Geulis. Begitu juga Sastro dan
Cogito. Nah pada saat mereka menunggu untuk
bersalaman dengan pengantin itulah, tampak oleh
Cogito, Om Sae sedang bersalaman dengan Pak Ning
sambil bercerita dengan senyum dan tawa lebar.
“Maaf, Pak Ning, boleh tahu, mengapa tiba-tiba
menikah dengan Putri Geulis yang cantik ini?” tanya
Om Sae.
“Itu karena ‘Jalan Mendaki Lagi Sulit’,” kata Pak
Ning. Geulis yang mendengar jawaban Pak Ning pun
tersenyum.
“Masya Allah, Pak Ning menemukan ‘Jalan
Mendaki Lagi Sulit’ itu?” tanya Om Sae menegaskan.
“Berkat, Geulis,” jawab Pak Ning singkat.
“Alhamdulillah. Baarakallah,” seru Om Sae sambil
memeluk dan mencium pipi Pak Ning dengan pipinya.
Geulis pun tersenyum bahagia melihat dua orang lelaki
tua itu berangkulan bahkan berciuman pipi.
Cogito yang mendengar hal itu, bingung. Cogito
tidak mengerti tentang ‘Jalan Mendaki Lagi Sulit’ yang
dibicarakan antara Om Sae dan Pak Ning itu.
***
“Nabilla, tidak sewajarnya, kamu tidak berbuat
begitu di pesta Kakek, Pak Ning,” pelan Pengelana
mencoba menasehati putrinya, Nabilla. Bu Lou agak
cemas, Pengelana menyinggung lagi masalah
pernikahan Pak Ning, padahal Nabilla tampak sudah
tenang, saat permintaannya untuk ke Thailand,
dipenuhi Pengelana.
“Ayah tahu tidak, alasan Kakek menikahi wanita
itu?” tanya Nabilla.
“Tahu persis, sih, tidak. Tapi Kakekmu sempat
mengatakan pilihannya menikahi Bu Geulis adalah
karena akan mencari ‘Jalan Mendaki Lagi Sulit’,” kata
Pengelanan.
“Apa Ayah tidak merasa aneh dengan hal itu?”
tanya Nabilla.
“Laki-laki menikah dengan perempuan, kok,
mencari ‘Jalan Mendaki Lagi Sulit’ … hihi,” kata Nabilla
sambil menahan tawa.
“Hari, ayo, kamu mau juga mencari ‘Jalan Mendaki
Lagi Sulit’, kayak Kakek, nggak?” tawa Nabilla sambil
menggandeng menuju kamar mereka.
Melihat hal itu, Pengalana hanya bisa geleng-
geleng kepala. Sementara Bu Lou menarik napas lega.
Dengan demikian, Nabilla tidak membeberkan
informasi alasan tindakan nekadnya di pesta Pak Ning
dengan Geulis karena hasutannya. Bu Lou pun sampai
melamun karena begitu lega, hatinya. Namun, tiba-tiba
lamunannya hilang, saat mendengar ajakan Pengelana.
“Lou, ayo kita pergi lagi ke pesta Ayah!” seru
Pengelana.
“Nabilla kan sudah tenang dan tidak histeris lagi,”
tambah Pengelana.
Saat Pengelana dan Bu Lou akan keluar rumah,
tahu-tahu Nabilla menghampiri mereka.
“Ayah, katakan pada Kakek. Pulang dari Thailand,
Nabilla mau tinggal di rumah Kakek. Suruh Kakek
tinggal bersama istrinya!” seru Nabilla. ‘Aku ingin tahu,
sampai kapan Kakek dapat menjalani ‘Jalan Mendaki
Lagi Sulit’? Dengan tinggal bersama istrinya, Kakek juga
kan tinggal bersama Kapten Ade yang cantik itu. Tentu
Kakek tiap hari akan melihat kecantikan Kapten Ade di
rumah itu. Apakah Kakek tidak akan tergoda? Nabilla
nggak yakin,’ pikir Nabilla.
***
Saat salaman dengan ayahnya, Pengelana mau
tidak mau mengatakan pesan Nabilla, biar persoalan
tidak berlarut-larut.
“Ayah, maafkan Pengelana, tidak dapat mendidik
Nabilla sebagai anak perempuan yang berbakti,” kata
Pengelana.
“Ayah juga bersalah kepada kalian. Ayah terlalu
memanjakan Nabilla sejak kecil, lebih dari kalian,” kata
Pak Ning. Geulis diam saja, memperhatikan percakapan
ayah dan anak itu.
Mendengar ayahnya berkata begitu, Pengelana
pun segera mengutarakan permintaan Nabilla.
“Ayah, Nabilla ingin pesiar ke Thailand …,” kata
Pengelana, masih ragu untuk melanjutkan kata-
katanya, menyampaikan permintaan Nabilla.
Namun karena ayahnya, Pak Ning tampaknya tidak
begitu terkejut dengan keinginan Nabilla ingin ke
Thailand, maka Pengelana pun akhirnya memberanikan
diri, mengutarakan permintaan Nabilla kepada Pak
Ning.
“Tapi, setelah Nabilla pulang dari Thailand, Nabilla
ingin tinggal berdua dengan Hari di rumah Ayah.
Melanjutkan bulan madunya bersama Hari di sana,”
kata Pengelana mencari dalih.
Mendengar perkataan Pengelana, Pak Ning pun
terkejut.
“Ini … menyangkut … ibumu, Geulis,” jawab Pak
Ning, ragu. Geulis yang dari tadi memperhatikan setiap
ucapan Pengelana, mengetahui suasana hati Pak Ning
suaminya yang tentu saja galau.
“Biar nanti Geulis yang berunding dengan Ade,
Pak,” bisik Geulis kepada Pak Ning.
“Ibu setuju. Biarkan Nabilla tinggal di rumah
kakeknya bersama suaminya,” kata Geulis kepada
Pengelana.
“Terima kasih Ibu. Ayah, Ibu, selamat menempuh
hidup baru. Semoga menjadi keluarga samawa,” kata
Pengelana.
“Ibu, selamat, ya. Senang sekali Lou punya ibu
secantik ini,” kata Bu Lou sambil memeluk Geulis.
‘Alhamdulillah, mereka tidak banyak bertanya tentang
Nabilla?’ pikir Bu Lou.
***
“Ade, maafkan Kakakmu. Geulis selalu tidak pernah
mengajak berunding, jika ingin menikah dengan
seorang pria, kepadamu,” kata Geulis, pada Kapten Ade
sambil menangis memeluk Kapten Ade.
“Kak Geulis, ada apa ini? Hari pertama setelah
malam pengantin, kok malah menangis sedih?
Harusnya kan menangis bahagia,” kata Kapten Ade.
“Kakak mengambil keputusan menikah dengan Pak
Ning tanpa berunding denganmu. Sekarang Kakak akan
tinggal di rumah ini dengan Pak Ning tanpa minta
persetujuan denganmu,” tangis Geulis.
“What’s?” Maksud Kakak?” teriak Kapten Ade.
“Ya. Bukan hanya hari pengantin saja Kakak akan di
sini, tapi Kakak akan tinggal di sini dengan Pak Ning.
Ikut denganmu Ade,” kata Geulis sambil menangis.
“Kak Geulis, serius?” tanya Kapten Ade.
“Serius, Ade,” jawab Geulis.
“Itu permintaan Pak Ning?” tanya Kapten Ade
curiga, kalau Pak Ning masih berusaha mendekati
dirinya.
“Ya … eh … bukan,” kata Geulis bingung.
“Lalu permintaan siapa, Kak?” tanya Kapten Ade.
“Nabilla. Astagfirullah, mengapa aku harus
membuka aib orang lain. Astagfirullah. Ampuni hamba-
Mu yang lemah ini, ya, Allah. Ade maafkan Kakakmu,
Geulis,” seru Geulis semakin menjadi tangisnya.
“Subhanallah,” seru Kapten Ade.
“Kakak dan Pak Ning, boleh tinggal di sini bersama
Ade. Kakak adalah saudara satu-satunya, Ade. Tidak
sepantasnya Ade membiarkan Kakak bersedih. Ingat
Kakak yang memberi tahu Ade, bahwa dalam hidup ini
kita harus mencari ‘Jalan Mendaki Lagi Sulit’. Bukan
begitu, Kak Geulis?” bisik Kapten Ade.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
Kontak order wa/me: 081266804830
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 270226
Views: 53





















