Beranda / LIFESTYLE / TAUBAT NABILLA ; _Yang di Bali Pulang ke Thailand_

TAUBAT NABILLA ; _Yang di Bali Pulang ke Thailand_

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

“PAK, kasihan Nabilla,” bisik Bu Lou kepada Pengelana.

“Astagfirullah. Mengapa Nabilla bisa berbuat
begitu? Tapi, kalau kita kejar Nabilla, nanti Ayah, bisa
anggap kita mendukung Nabilla, Lou,” desis Pengelana.

“Kalau begitu izinkan, Lou menemani Nabilla, sekarang,” bisik Bu Lou. Sebagai ibu Bu Lou tidak tahan Nabilla menjerit menyebut-nyebut namanya.

Mendengar jeritan Nabilla, hati Bu Lou bagai tersayat-sayat sembilu. Namun, sebagai istri, Bu Lou harus patuh
dan taat kepada suaminya, menemani Pengelana di pesta pernikahan Pak Ning, ayah suaminya itu.

Untuk itu Bu Lou mencoba minta izin Pengelana untuk menemani Nabilla.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Apa kata Ayah,
kalau kita tidak bersama pada saat beliau menikah?” seru Pengelana. Pengelana masih pening memikirkan ulah Nabilla yang sangat nekad dan bahkan boleh dikatakan kurang ajar terhadap Kapten Ade yang
notabene adalah adik, Geulis, calon istri Ayahnya, Pak Ning.

Pengelana rasanya ingin membukam mulut Nabilla, tapi apa daya, saat Nabilla beraksi, posisi duduknya jauh dari Nabilla. Marah, bingung bercampur aduk perasaan Pengelana melihat tingkah Nabilla.

Pengelana takut ayahnya akan marah karena, dia tidak dapat mencegah Nabilla melakukan tindakan nekad itu.
Pengelana juga khawatir dianggap sebagai anak durhaka karena kalau dia mengejar Nabilla, maka dia meninggalkan ayahnya yang sedang mengadakan pernikahan dengan istri barunya.

“Bapak ini yang dipikirkan, apa kata Ayah saja.
Bukan memikirkan Nabilla, anaknya,” desis Bu Lou.

Pengelana terperangah mendengar kata-kata Bu Lou, istrinya itu. Pengelana pun mengangguk.

“Hati-hati, ya, Lou, mendampingi anakmu,” bisik Pengelana.

“Nabilla itu anakmu juga lho, Pak,” desis Bu Lou.
Pengelana tersentak oleh bisikan Bu Lou.

“Ok, OC, kita temani Nabilla,” seru Pengelana, lalu menggandeng tangan Bu Lou untuk beranjak dari tempat itu. ‘Suatu saat nanti, Insya Allah, aku akan
minta maaf padamu, Ayah,’ pikir Pengelana.

“Alhamdulillah,” bisik Bu Lou sambil mengikuti langkah Pengelana dengan wajah riang gembira.
‘Nabilla mungkin sulit menerima kenyataan, melihat kakeknya menikah. Tapi aku juga punya andil, membuat Nabilla salah duga. Mengapa aku harus
ngomporin Nabilla kalau istri kakeknya nanti akan mengurangi harta warisannya,’ pikir Bu Lou.

“Info ini tidak boleh berkembang,” desis Bu Lou, tanpa sadar kalau dia sedang mengikuti langkah Pengelana.

“Info apa yang tidak boleh berkembang, Lou?” tanya Pengelana.

“Tragedi di pernikahan ayahmu, Pak,” cepat Bu Lou memutuskan pembicaraan.
***

Saat Harmendo turun dari mobil travel bersama Fifin di suatu resto di Gunung Batur, dia agak terkejut,
melihat ada mobil Pak Pengelana parkir di situ.

Harmendo mengenal betul itu salah satu mobil Pak Pengelana, Harmendo sering membantu urusan pekerjaan kantor yang pelaksanaannya ditangani Pak Pengelana. Tentu saja Harmendo sering melihat mobil
Pak Pengelana. ‘Kenapa, mobil Pak Pengelana ada di
sini?’ pikir Harmendo.

Fifin yang merasa kelaparan merasa aneh saja,
melihat kening Harmendo yang berkerut.

‘Suamiku ini
mau ngajak pesiar atau berpikir, sih, pergi ke Bali, ini?’
pikir Fifin. ‘Dari kemarin, sepertinya, wajahnya nggak
plong gitu?’ pikir Fifin lagi.

“Bang, Fifin lapar; nih!” seru Fifin sambil
menggandeng setengah menyeret tangan Harmendo
untuk segera masuk ke resto di Gunung Batur itu.

“Oh, ya. Abang lapar juga, nih. Yuk,” kata
Harmendo seolah sadar kalau dia sedang bersama Fifin
pesiar di Bali, dan sampai di Gunung Batur yang dingin itu. Tentu hal itu membuat Harmendo juga merasa
lapar seperti Fifin.

Harmendo tidak tahu kalau di dalam resto ada
Zahra dan kawan-kawan Nabilla, Sidiq, Auria, Reza dan
Gie yang meminjam mobil Pak Pengelana untuk pesiar
di Bali.
***

[Nabilla histeris!] TIba-tiba ada japri dari Pak
Karyono saat Harmendo membuka Whatssapp-nya.
“Histeris? Ada apa, ya?” desis Harmendo sambil
mengehentikan sendoknya yang akan disuapkan ke
mulut. Mendengar hal itu kontan saja Fifin jengkel.

“Ada apa sih, Bang? Kelihatannya Abang, nggak
bisa enjoy pesiar di Bali ini?” seru Fifin.
Harmendo tidak menjawab pertanyaan Fifin, tetapi
justru kembali membaca japri WA Pak Karyono.

[Nabilla marah-marah di pernikahan Pak Ning.]
“Astagfirullah, Pak Ning menikah?” seru Harmendo
kaget, tanpa sadar kalau sedang makan di tempat
umum.

“Pak Ning, Kakek Nabilla, maksud Abang?” seru Fifin yang tidak kalah kagetnya.
Harmendo dan Fifin tidak menyadari kalau Zahra, Sidiq dan kawan-kawan Nabilla sedang berada di dekat
mereka. Rombongan Sidiq juga tidak kalah terkejut
terdengar nama Nabilla disebut-sebut.

Apalagi
mendengar Pak Ning, kakek Nabilla menikah. ‘Waduh,
bagaimana ini, mobil Pak Pengelana, masih dipakai di
Bali, nih,’ pikir Sidiq.

“Gie, bagaimana kalau kita tanyakan ke Bapak yang
menyebut nama Pak Ning, Kakek Nabilla menikah itu,
kapan beliau menikahnya?” tanya Sidiq.
“Kalau perlu kita segera pulang saja,” tambah
Sidiq.

“Ok. Oc. No problem. Aku ikut kemauan kalian
saja,” seru Gie.
Mendengar jawaban Gie yang mendukung niatnya,

Sidiq pun lalu menemui Harmendo.
“Maaf, Pak. Apakah yang Bapak katakan Pak Ning
tadi, kakeknya Nabilla?” tanya Sidiq.
“Kami teman teman Nabilla dan Hari.” Buru-buru
Sidiq menambahkan penjelasan supaya tidak dianggap
orang luar yang sok pengin tahu pembicaraan orang
lain.

“Oh, kalian teman-teman Nabilla dan Hari. Betul
Pak Ning itu Kakek Nabilla. Beliau menikah hari ini, tapi
…,” kata Harmendo terputus, sadar kalau tidak perlu
menceritakan info dari japri Pak Karyono tentang
Nabilla.

“Tapi, apa, Pak?” keceplosan pula Sidiq bertanya.

“Ya, kita masih di sini, bagaimana lagi?” seru
Harmendo mencoba menghindari membicarakan
Nabilla.

“Kami meminjam mobil Pak Pengelana, dan kami
bermaksud pulang kalau memang Pak Ning, Kakek
Nabilla menikah,” kata Sidiq.

“Berapa orang kalian satu rombongan?” tanya
Harmendo tiba-tiba.

“Lima orang, Pak,” kata Sidiq.

“Kalau begitu kita sama-sama pulang saja. Kami
ikut mobil kalian. Kenalkan saya Harmendo yang
menyewa rumah Pak Pengelana,” kata Harmendo.
Bukan hanya Sidiq yang terkejut, mendengar
permintaan Harmendo, tetapi Fifin tentu saja. Fifin
masih ingin berwisata di Bali.
“Bang, mengapa kita harus cepat-cepat pulang?”
seru Fifin.
“Nggak apa-apa, Abang ingin menghormati Pak
Pengelana,” kata Harmendo.

“Kita, kan, menyewa rumah Beliau,” tambah
Harmendo.

Mendengar kata-kata Harmendo Fifin dan tentu
saja Sidiq tidak dapat menolak keinginan Harmendo
lagi.
***

“Ayah, Nabilla pengin ke Thailand!” seru Nabilla,
saat Pengelana datang menghibur Nabilla bersama Bu Lou.

“Thailand? Itu jauh Nabilla. Mahal pula biayanya,”
seru Pengalana.

“Bapak ini, kalau untuk anaknya semua mahal!”
Tiba-tiba Bu Lou nyerocos. Bu Lou tidak ingin nasehat
buruknya ke Nabilla, saat dia khawatir warisan yang
akan diterima Pengelana berkurangkarena Pak Ning
menikah, akan mencuat dari bibir Nabilla. Hal itu bisa
saja terjadi, kalau Pengelana marah besar kepadaNabilla karena ulahnya yang nekad di pernikahan Pak
Ning tadi.

“Thailand? Ok Oc,” kata Pengelana tanpa sadar
terlepaskarena tidak ingin dianggap tidak mau
menuruti keinginan Nabilla, putri satu-satunya.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 260226

Views: 51

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 68
  • 55
  • 215
  • 91
  • 8,510
  • 21,296
  • 169,335
  • 254,964
  • 150,646
  • 51
  • 4,766
  • 270