TAUBAT NABILLA – Part 11 ; _Pesta Laki-laki_

Posted by : wartaidaman 30/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

“Cogito, bantu Bang Sastro, ya, kawankan kasih undangan ke Pengantin laki-laki,” bisik Sastro kepada Cogito saat pesta Nabilla dan Hari masih berlangsung.

“Bantu, bagaimana Bang?” tanya Cogito bingung.

“Aku mau undang, Hari pengantin laki-laki itu ke Coffe Shop kamu. Tolong temani aku ke tempat mempelai. Kamu, kan, ada bawa kartu nama?” tambah Sastro.

“Oh, begitu. Ada, Bang,” jawab Cogito sambil menyerahkan kartu nama.
Setelah itu Sastro menuliskan sesuatu di kartu nama Cogito, kemudian dia mengajak Cogito untuk menyalami Hari dan Nabilla. Di saat salaman itu, Sastro mengenalkan diri sebagai staf Cogito Coffe Shop yang diminta berpartisipasi di pesta Nabilla dan Hari. Sastro juga minta Hari untuk memenuhi undangannya, besuk siang di Cogito Coffe Shop.

“Pesta Laki-laki, Tuan Hari untuk menghormati pernikahan anda dengan Putri Nabilla,” kata Sastro, supaya Nabilla dapat memaklumi, kalau dia hanya mengundang Hari sendiri saja.

“Baik, Tuan Sastro. Insya Allah, besok saya datang,” jawab Hari, tanpa rasa curiga.
+++

Auria bingung mencari waktu untuk bicara dengan Zahra tentang berita rubuhnya rumah Harikarena pembangunan program perumahan dan permukiman untuk peningkatan kesehatan lingkungan perumahan permukiman. Zahra asyik saja lengket dengan Sidiq, seolah ingin memberi kesempatan Auria untuk melakukan pedekate kepada Reza dan Gie. Adapun Reza dan Gie yang belum sempat meminta maaf kepada Hari juga bingung, memikirkan cara memberitahu info itu, selain kepada Auria. Suasana pesta yang meriah membuat mereka berdua sulit membicarakan musibah itu. Hal itu membuat Reza dan Gie, tidak begitu memperhatikan kalau Sastro orang yang berkaca mata itu yang memimpin penghancuran rumah Hari ada di sana.
+++

“Hari, masih pagi, kok, sudah rapi, memang mau ke mana, pengantinku?” seru Nabilla.

“Ini memenuhi undangan Pesta Laki-laki dari tamu kemarin yang ikut dalam stand konsumsi pesta kita, Cogito Coffe Shop,” kata Hari.

“Lain kali, kalau mau ambil keputusan, tanya Nabilla dulu!” seru Nabilla.

Hari termenung mendengar kata-kata Nabilla yang mendadak mengeras.

‘Mengapa Nabilla menjadi begini?’ kata Hari dalam hati.

“Aku tidak ingin lama-lama berpisah denganmu, Mas Hari,” desis Nabilla, mengubah nada suaranya. Nabilla sadar, kalau Hari terkejut mendengar perintahnya.

“Insya Allah, Hari akan pergi seperlunya saja,” kata Hari.
+++

“Kalau nanti Hari sudah datang, tolong kamu kasih tanda ‘close’ di pintu Coffe Shop, ya, Cogito. Ini Pesta Laki-laki. Saya hanya ingin berdua dengan Hari di sini!” seru Sastro kepada Cogito, lalu dia menuju ke tempat Sastro biasa.

Cogito diam saja. Kata Sastro kegiatan ini termasuk dalam paket kerjasama perusahaan Sastro yang memilih Cogito Coffe Shop dalam buka stand konsumi saat pesta pernikahan Nabilla dan Hari. Memang pembayaran yang dilakukan perusahaan Sastro sangat besar untuk pemilihan pekerjaan itu kepada Cogito Coffe Shop. Cogito pun mulai merasa tertarik dengan kegesitan Sastro. ‘Tampaknya Sastro ini orang hebat,’pikir Cogito.

“Assalamualaikum,” salam Hari sambil memasuki Cogito Coffe Shop.

“Waalikumsalam. Oh, ada Tuan Hari. Silakan masuk, itu Mas Sastro sudah menunggu di meja yang di dekat TV Layar Lebar,” sapa Cogito, setelah itu Cogito segera mengganti papan di pintu masuk Cogito Coffie Shop dengan ‘Close’.

Hari pun lalu menuju tempat Sastro duduk.

“Assalamualaikum, Tuan Sastro,” salam Hari.

“Waalaikumsalam. Silakan duduk Hari,” kata Sastro.

Cogito melihat Sastro bercerita panjang lebar kepada Hari. Tampak oleh Cogito, Hari diam membisu. Lalu Sastro menyerahkan sebuah map kepada Hari. Hari menerima dan membuka map itu. Namun, muka Hari masih menunjukkan kesedihan.

“Lupakan kenangan indah rumahmu. Mulai besuk kau langsung bertugas sebagai CPNS menggantikan posisi almarhum Ayahandamu, bapak Panuluh. Apalagi kau baru saja menikah dengan Putri Nabilla. Lanjutkan kebahagiaanmu bersama Nabilla!” seru Sastro.

Tiba-tiba Kapten Ade membuka pintu Cogito Coffie Shop, Sastro yang sedang serius dengan hari tidak melihat hal itu, tetapi Cogito melihatnya. Tentu saja Cogito kaget dan langsung berlari menuju pintu dan mencegah Kapten Ade masuk.

“Maaf, Kapten. Coffie Shop sedang tutup,” seru Cogito.

“Aku tahu yang sedang dikerjakan Sastro. Bawa aku ke ruanganmu. Kita nanti bicara sebentar. ”

“Ayo cepat, Kapten, Sastro sedang serius dengan Hari. Nanti mereka keburu tahu,” bisik Cogito sambil membawa Kapten Ade ke ruangannya.
Begitu sampai di ruangan Cogito, Kapten Ade lalu menangis. Cogito pun menjadi bingung, melihat hal itu. Tidak lama kemudian Cogito melihat di layar monitor CCTV-nya, ada orang mau membuka pintu Coffie Shopnya. Cogito buru-buru berlari menuju ke sana.
Saat dilihatnya ada seorang pria yang sudah agak berumur. Namun, tampak masih gagah, membuka pintu Coffie Shop, Cogito lalu menegurnya.

“Maaf, Pak. Coffie Shop sedang tutup,” seru Cogito.

“Lho, kok kalau cewek cantik tadi boleh masuk?” kata pria tua gagah itu.

“Dia, Tante saya, Pak,” jawab Cogito biar bapak gagah itu tidak curiga.

“Baik, Cogito. Om dapat memaklumi. Namamu Cogito, bukan?” kata bapak tua gagah itu sambil menunjuk papan nama yang dipakai Cogito, kemudian berlalu.

“Betul, Pak,” jawab Cogito lega.

“Maaf, boleh tahu nama Bapak? Senang bisa kenal dengan pelanggan Cogito Coffie Shop,” kata Cogito.

“Panggil saja Om Sae, Saefudin … hehe,” kata bapak tua gagah itu sambil pergi meninggalkan Cogito Coffie Shop.

“Siapa dia Cogito?” Tiba-tiba Sastro sudah berada di dekat Cogito bersama Hari yang masih diam membisu, hanya saja kedua tangan Hari memegang sebuah map.

“Entah, ya. Heran juga Cogito. Sudah ada papan ‘Close’ masih juga mau membuka pintu Coffie Shop,” seru Cogito seolah jengkel, supaya tidak disalahkan Sastro.

“Okey, Hari. Selamat bekerja dan nikmati kehidupan barumu bersama Nabilla. Lupakan masa lalu. Lupakan rumahmu. Hidup adalah Hari esok dan Hari esok adalah milikmu, Hari!” seru Sastro yang membimbing Hari untuk keluar dari Cogito Coffie Shop. Hari masih diam membisu, walaupun mulai mencoba tersenyum. Begitu mereka berlalu dari Coffie Shop, Cogito pun lalu berlari menuju ruangannya untuk menemui Kapten Ade. Cogito bersyukur, Sastro, tidak tahu kalau Kapten Ade, Bos dia, ada di dalam ruangannya.

“Cogito, Kapten mau minta tolong kamu,” kata Kapten Ade, begitu Cogito masuk ke ruangannya.

“Kapten tidak tega melihat nasib Hari. Namun, Cogito tidak perlu tahu tentang hal itu. Kapten minta Cogito menemukan orang di kantor Hari bekerja yang dapat dipercaya menjaga rahasia. Serahkan map ini kepada dia. Namun, jangan sampai ada orang lain yang tahu ini misi rahasia,” jelas Kapten Ade sambil menyerahkan map yang disegel.

“Siapa orang itu, Kapten?” tanya Cogito bingung.

“Cari info orang yang dapat dipercaya. Alim begitulah, tidak perlu cepat yang penting dapat dulu orangnya, baru kau berikan map itu. Ingat ini misi rahasia,” bisik Kapten Ade.

“Bolehkah Cogito tahu, mengapa bukan Kapten langsung yang bergerak, tetapi justru Cogito?” tanya Cogito berani.

“Tanganku sudah terlanjur kotor, Cogito. Tolong Kapten, sekali ini,” bisik Kapten Ade, lalu keluar dari ruangan Cogito dan meninggalkan Cogito Coffie Shop.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 301125

Views: 30

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *