Dr.H.M.Suaidi,M.Ag
Nabi menegaskan :(لا تغضب ) maknanya jangan engkau realisasikan marahmu
جاء رجل إلى النبى ( صلى الله عليه وسلم ) فقال : يارسول الله : علمنى علماً يقربنى من الجنة ويبعدنى عن النار قال : لا تغضب ولك الجنة
seorang laki-laki pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata:’Wahai Rasulullah ajarkan kepadaku suatu ilmu yang mendekatkan aku ke Surga dan menjauhkan aku dari Neraka.’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:’Jangan marah dan bagimu Surga.
Menahan amarah memang sering disebut “bernilai spiritual” dalam konteks dakwah. Ketika kita tidak langsung membalas dengan kemarahan, kita memberi ruang bagi hikmah dan kasih sayang untuk muncul–itulah nilai yang bisa menarik orang lain pada pesan kita.
Mengapa menahan amarah itu bernilai? Orang lebih mudah menerima nasihat dari orang yang tenang, yang kredibel. Ketenangan batin itu mengurangi stres, memperkuat ikhsan (kebaikan). Setiap kali kita menahan diri, niatnya menjadi amal yang berkelanjutan, dan menjadi tinggi potensi pahalanya.
Allah berfirman
وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS Ali ‘Imran 3: 134)
Tentu , bukan berarti kita harus menekan perasaan sampai meledak. Mengelola amarah dengan cara yang sehat–misalnya dengan membaca istighfar, memca doa, berwudhu atau mengalihkan perhatian–menjadikan prosesnya berkelanjutan dan berkemajuan.
Orang yang berbuat baik kepadamu balaslah kebaikan itu berlipat ganda, sedangkan orang yang berbuat jahat kepadamu jangan kau balas kejahatan itu dan Allah akan membalasnya
Pendekatan ini sering dipandang sebagai tanda kekuatan karakter, kontrol diri, dan kebijaksanaan, daripada kelemahan. Tujuannya adalah untuk mempromosikan keharmonisan dan perdamaian, baik dalam hubungan pribadi maupun masyarakat luas.
*anwi/ wi/ nf/ 301125
Views: 22











