TAUBAT NABILLA – Part 10 ; _Air Mata Kapten Ade_

Posted by : wartaidaman 30/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

Zahra, Sidiq, Nabilla menunggu di luar ruang ujian. Hari sedang ujian skripsi. Zahra sudah ujian yang pertama. Selama lima belas menit, Sidiq, Nabilla dan Hari menunggu Zahra di luar.

Begitu Zahra keluar, Zahra hampir menangis. Sidiq, Nabilla dan Hari tidak begitu tahu sesungguhnya yang terjadi. Namun, tidak lama kemudian, Zahra sudah dipanggil masuk kembali ke ruangan ujian.

Tidak lama kemudian Zahra keluar dengan wajah riang gembira. Walaupun pipinya masih tampak agak basah, Zahra tidak mau menyembunyikan hal itu.

Barangkali air mata Zahra pun sudah bercampur antara air mata sedih dan bahagia. Sidiq berdiri diam terpaku, melihat kebahagiaan Zahra. Sidiq belum tahu, pada saat giliran ujian nanti.

Tidak lama kemudian Nabilla dipanggil untuk masuk ujian. Sidiq masih serius berpikir tentang ujiannya nanti. Zahra duduk bersama mereka meyakinkan Sidiq. Sementara Hari diam seribu bahasa. Pikiran Hari tidak fokus antara ujian dan permintaan Nabilla, langsung ijab kabul, lulus atau tidak lulus.

Nabilla terlihat sewot sewaktu keluar dari ruang ujian. Tiga puluh menit, waktu yang digunakan Nabilla untuk ujian. Nabilla sudah tidak sabar lagi untuk segera meninggalkan kampus karena ada jadwal ijab kabul yang sudah disiapkan untuk pernikanannya dengan Hari. Zahra mengingatkan Nabilla, bahwa sebentar lagi Nabilla akan dipanggil untuk mengetahui hasil ujiannya, lulus atau tidak. Betul juga kata Zahra. Nabilla pun dipanggil lagi ke ruang ujian.
Tidak lama kemudian Nabilla keluar sambil berteriak, “Aku lulus!”

Nabilla langsung berlari ke arah Hari, Nabilla bermaksud memeluk Hari. Untung Sidiq mengingatkan Nabilla, bahwa di sini masih banyak orang.

Namun, belum sempat Sidiq bicara banyak, terdengar panggilan supaya Sidiq segera masuk ruang ujian. Sidiq pun bergegas masuk ke dalam ruang ujian.

Lima belas menit waktu berlalu, belum ada tanda-tanda Sidiq keluar dari ruang ujian. Namun, tidak lama kemudian tampak Sidiq keluar dari ruang ujian sambil menghela nafas panjang.

“Alhamdullillah,” seru Sidiq.

Tak lama kemudian Sidiq, dipanggil lagi ke dalam ruang ujian. Setelah itu Sidiq keluar ruang ujian dengan penuh sukacita. kedua tangan Sidiq tampak terbuka sambil berlari menuju Zahra. Sidiq tampak bagai akan memeluk Zahra. Zahra pun bersiap menutup memegang skripsi dengan kedua tangannya untuk memukul-mukulkannya ke jidad Sidiq. Zahra lakukan itu, biar Sidiq tidak nekat memelukanya. Malu kalau kelihatan orang banyak, mereka saling tubrukan di depan ruang ujian. Nabilla tertawa melihat kelakuan Sidiq. Namun, tidak lama kemudian Nabilla sadar, bahwa sebentar lagi Hari pasti akan dipanggil ke ruang ujian.

Di saat itu, tiba-tiba Auria datang dengan wajah kusut. Di belakang Auria tampak Reza dan Gie mengikuti dengan wajah murung. Entah ada apa pula dengan tiga mahasiswa ini. Namun, sebelum mereka sempat bicara, tiba-tiba nama Hari dipanggil masuk ke ruang ujian. Untuk sesaat perhatian semua orang tertuju kepada langkah Hari memasuki ruang ujian.

Setelah Hari masuk ke ruang ujian, Zahra yang melihat gelagat yang kurang baik, memanggil Auria sebagai kode untuk mendekat kepadanya. Auria pun, begitu melihat Zahra memberi lampu hijau untuk mendekat, segera menuju ke dekat tempat duduk Zahra. Namun, belum sempat Auria bercerita mengenai suatu hal, tiba-tiba Hari sudah keluar dari ruang ujian.

Hari hanya ujian 5 menit di dalam ruang ujian. Biasanya kalau waktu ujian hanya singkat seperti itu, lulusnya cum laude. Tidak lama Hari memang dipanggil kembali ke ruang ujian. Namun, itu juga tidak memerlukan waktu lama karena Hari akhirnya tampak keluar dari ruang ujian. Wajah Hari tampak cerah. Walaupun begitu Hari tetap melangkah dengan tenang ke arah teman-temannya, sepertinya ujian skripsi bagi Hari bukan suatu hal yang besar.

Melihat Hari wajahnya cerah, Nabilla langsung berlari menghampir Hari sambil berteriak, “Hari!”

Mendengar teriakan Nabilla, Hari seakan mendapat magnet baru, dia pun membalas teriakan Nabilla.

“Nabilla!”

Sesaat kedua insan itu berpelukan. Tepuk tangan pun pecah dari kawan-kawan mereka. Hanya Auria, Reza dan Gie yang tampak kurang bersemangat. Tak lama kemudian ada mobil berhenti di parkiran dekat ruang ujian. Tampak Pengelana keluar dari mobil untuk menjemput Nabilla dan Hari.

Begitu Nabilla melihat ayahnya, Pengelana, sudah sampai di kampus, Nabilla langsung menarik tangan Hari, membawa Hari ke arah mobil ayahnya Pengelana yang berdiri di samping mobilnya.

“Sidiq, tolong bawa motorku!” teriak Nabilla.

Sidiq pun terdiam mendengar kata-kata Nabilla. Sidiq sudah punya rencana sendiri dengan Zahra. Lalu Sidiq membisikkan sesuatu kepada Zahra. Setelah itu Zahra bilang kepada Auria.

“Auria, bisa bantu Sidiq untuk bawa motor Nabilla ke rumahnya?”

“Sidiq ada perlu mendesak denganku untuk urusan syukuran,” tambah Zahra.

“Ok, Oc. Insya Allah,” jawab Auria.

Setelah itu, Auria pun memandang Gie, kemudian ganti berkata:

“Gie, tolong bawa motorku. Ikuti kami!” seru Auria.

“Reza ayo boncengin gue ke rumah Nabilla, Jangan bengong gitu aja, Ganteng!” seru Auria.

Gie baru sadar Auria sudah memilih. Zahra tersenyum simpul melihat kejadian itu. Sidiq pun tidak mau melewatkan waktu yang singkat itu untuk cepat-cepat mengajak Zahra pergi meninggalkan tempat itu.

‘Tugas dari Nabilla sudah diselesaikannya, tinggal tugas untuk Hari yang harus segera dia urus,’ pikir Sidiq.
+++

Sampai di rumah Nabilla, Hari langsung diajak ke bagian belakang rumah. Ada kamar agak kecil di situ. Hari diantar beberapa orang laki-laki yang sudah berada di rumah Nabilla. Sampai di kamar Hari, diberi minum dan camilan. Setelah Hari istirahat sebentar, Hari diminta melepas pakaiannya. Lalu oleh orang-orang itu Hari disiapkan untuk berpakaian pengantin gaya Jogja. Hari tidak dapat menolak.

Setelah Hari siap dengan baju pengantinnya, Hari pun dibawa ke ruang depan rumah Nabilla. Di sana sudah ada Sidiq dan juga Zahra.

Termasuk Auria, Reza dan Gie. Begitu Hari duduk, Sidiq langsung mendekati Hari, lalu membisikkan sesuatu di telinga Hari. Zahra yang melihat tindakan Sidiq, ikut memandang Hari sambil mengangguk-anggukan kepalanya serta menaikkan sedikit bungkusan yang dibawanya. Hari pun menganggukkan kepalanya, melihat Sidiq dan Zahra yang begitu kompak membantunya.

“Saya terima nikahnya Nabilla binti Pengelana dengan mas kawin seperangkat salat, tunai,” seru Hari.

“Sah!” kata Penghulu.

Setelah beberapa dokumen ditandatangani, lalu ada doa dari penghulu, penghulu pun pamit karena ada jadwal di tempat lain.

Hari pun di bawa ke ruang tamu rumah Nabilla yang seperti pendopo. Memang ada sedikit hiasan di back ground dan tentu saja lalu banyak kursi di sana. Hari tidak paham saat tiba-tiba Nabilla melemparinya dengan bunga. Hari diam saja.

‘Menjadi suami Nabilla bagi Hari sudah suatu hal yang luar biasa, kalau cuma dilempari bunga apa artinya?’ pikir Hari.

Hari pun kemudian didudukan bersama Nabilla di pelaminan. Saat Hari disuruh memberi makan Nabilla, Hari pun bersemangat. Diambilnya nasi memakai sendok, lalu Nabilla pun disuapi Hari banyak-banyak. Kontan sorak-sorai bergemuruh di seluruh ruangan. Mereka merasa tindakan Hari itu lucu karena pemberian makan Nabilla oleh Hari itu sebetulnya hanya simbolis, sementara sepertinya Hari melakukannya seperti sungguhan. Tentu saja gelak tawa memenuhi ruangan pendopo rumah Nabilla.

Namun, di balik keriangan para undangan, Kapten Ade diam-diam meneteskan air mata. Kapten Ade merasa sedih dan menyesal karena sudah menjadi kontraktor pembangunan sptic tank komunal di lokasi rumah Hari. Rumah Hari pun saat ini sudah dirobohkan untuk memulai pembangunan mega proyek itu.

Penyesalan Kapten Ade ini membuatnya diam-diam pergi meninggalkan pesta, saat pesta masih berlangsung. Kapten Ade tak lagi memedulikan Sastro yang lagi bergaya berdiri dekat dekat Cogito yang diminta untuk buka stand Cogito Coffe Shop di pesta itu.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 301125

Views: 23

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *