Suatu malam sehabis salat Isya, Sidiq berkunjung ke rumah Nabilla. Maksud Sidiq ke rumah Nabilla adalah untuk memenuhi janjinya, membicarakan perjodohan Nabilla dengan Hari, kepada ayah Nabilla, Pengelana.
Walaupun itu suatu hal yang berat dan di luar design Sidiq dalam menjodohkan Hari dengan Nabilla, tetapi mau tidak mau Sidiq harus melakukannya. Nabilla bukan hanya mengajukan syarat itu, membicarakan perjodohannya dengan Hari kepada ayahnya, tetapi dia juga berjanji akan membantu memperlancar pedekate Sidiq kepada teman mahasiswi pujaan hati Sidiq.
Tentu saja Sidiq yang tadinya ragu untuk bertemu dengan ayah Nabilla, menjadi bersemangat. ‘Ini harus kulakukan, bukan saja untuk Hari dan Nabilla, tetapi untuk diriku sendiri!’ pikir Sidiq.
Seperti halnya Hari, Sidiq juga sulit menyatakan cinta kepada pujaan hatinya.
Namun, berbeda dengan Hari, Sidiq masih berani berhubungan dengan pujaan hatinya, bukan hanya melongo saja, kalau mereka sedang bertemu.
+++
“Nak Sidiq yakin, kalau Nabilla bisa hidup bahagia dengan teman Nak Sidiq yang siapa namanya tadi?” tanya Pengelana, ayah Nabilla.
“Insya Allah, Pak. Sidiq juga pelan-pelan sudah mengatakan kepada Nabilla bahwa Sidiq menganggap Nabilla sebagai adik sendiri. Sidiq ingin melihat Nabilla mendapat teman hidup yang setia, jujur dan amanah terhadap pasangannya. Semua syarat-syarat itu ada pada diri Hari, teman dekat saya, Pak,” kata Sidiq.
“Tapi yang saya lihat justru Nak Sidiq yang sering berdua dengan Nabilla dengan waktu yang relatif agak lama, dari pada pria-pria yang lain!” seru Pengelana.
“Atau jangan-jangan Nak Sidiq tidak ingin bertanggung jawab terhadap Nabilla, lalu Nak Sidiq mau melemparkan tanggung jawab itu kepada teman Nak Sidiq!” sergah Pengelana.
“Subhanallah, Pak. Sama sekali itu tidak benar, Pak. Insya Allah, saya masih menjaga kesucian Nabilla, putri Bapak,” jawab Sidiq.
“Mengapa, Bapak begitu mudah melempar tuduhan ke Sidiq?” seru Nabilla.
“Sabar, Nduk, sabar. Jangan bicara kasar dengan bapakmu,” seru Bu Lou, ibunya Nabilla.
“Bapak tidak menuduh, tapi Bapak ingin memastikan. Mengapa Sidiq yang telah sekian lama bergaul denganmu, jutru menyarankan kepada Bapak supaya kamu menerima cinta orang lain yang Bapak bahkan belum tahu siapa dia!” seru Pengelana.
“Tapi kata-kata Bapak tadi, bukan hanya menyakiti hati Sidiq. Tapi juga membuat Nabilla tersinggung! Nabilla tidak terima Bapak berpikir Nabilla sudah berbuat tidak senonoh dengan Sidiq. Kalau Bapak tidak mau minta maaf kepada Sidiq, Nabilla tidak mau tinggal di rumah ini lagi!” seru Nabilla sambil keluar dari rumah.
+++
Sidiq malam itu mengketuk-ketuk pintu rumah Hari sambil mengucap salam.
Namun, tidak ada jawaban dari Hari.
Tiga kali Sidiq mengucap salam sambil mengetuk pintu rumah Hari, tidak ada juga jawaban. Akhirnya Sidiq memutuskan untuk kembali.
Akan tetapi, sebelum Sidiq jauh dari rumah Hari, Sidiq kembali ke lagi rumah Hari.
Kedatangan Sidiq kembali ke rumah temannya itu, bukan untuk mengetuk rumahnya, tetapi untuk menggantungkan pizza yang telah dibelinya, dipegangan pintu rumah Hari. Tentu saja dengan mengikat plastik bungkusnya, biar tidak jatuh. Sidiq berharap Hari menemukannya.
Sidiq berpikir Hari akan senang bisa makan pizza yang dibawa Sidiq.
Hari tahu kalau Sidiq datang lagi. Namun, Hari sengaja tidak ingin menemui Sidiq.
Sakit hati Hari membuat dia masih belum bisa menerima kedatangan Sidiq. Hari juga tahu kalau ada suara di pintu.
Hari berpikir, bisa jadi Sidiq meninggalkan pizza, makanan kesukaan Hari yang sulit dibelinya karena mahal. Akan tetapi, Hari tidak ingin mengambilnya. Hari merasa gengsi untuk memakan makanan pemberian Sidiq.
‘Apa kata dunia, orang mau bertamu ditolak, tapi makanannya diterima,’ pikir Hari.
Lama juga Hari berpikir kembali tentang pizza, makanan kesukaannya yang ditinggalkan Sidiq di pintu.
Akhirnya kemudian pandangan Hari berubah.
Hari bangun dari tempat tidurnya dan dengan segera mengambil bungkusan pizza oleh oleh dari Sidiq yang ditinggalkannya di gagang pintu rumahnya.
‘Menyia-nyiakan rejeki yang datang, lebih berdosa,’ pikir Hari. Hari pun belajar sambil makan pizza. Lampu rumah Hari yang tadinya padam pun kemudian berubah menjadi terang. Hari menghidupkan lampu rumahnya saat belajar.
Sidiq yang belum jauh dari rumah Hari, sengaja menunggu untuk mengetahui yang dilakukan sahabatnya itu.
Begitu Sidiq tahu, kalau Hari mengambil makanan oleh-oleh yang dibawanya. Sidiq termenung.
‘Begitu mudahnya membahagiakan orang, mengapa aku jarang melakukan hal itu,’ pikir Sidiq.
Tanpa terasa, mata Sidiq memanas, dan butiran air mata pun meleleh dari kedua matanya ke pipi. Perlahan Sidiq pun meninggalkan rumah Hari.
Sidiq kemudian mencari rumah Zahra. Zahra termasuk mahasiswi yang bukan hanya rajin mencatat, tetapi catatannya juga rapi dan tentu saja Zahra, sangat ramah dan suka membantu. Zahra mahasiswi cantik yang menjadi pujaan Sidiq.
Saat Sidiq sudah dekat dengan tempat indekos Zahra, dia teringat, kalau dia pernah bercerita kepada Zahra, bahwa dia besok ingin mengembangkan usaha pertanian, jika sudah pulang kampung. Sidiq tidak ingin seperti mahasiswa lain yang selalu bermimpi ingin hidup sukses di Jakarta.
Sidiq melihat Zahra memandangnya dengan takjub waktu dia bercerita tentang cita-citanya itu.
Zahra bahkan mendukung dan berharap Sidiq sukses menjadi petani di kampung. Jarang ada mahasiswi, apalagi secantik Zahra yang setuju dengan cita-cita mahasiswa yang ingin hidup sebagai petani.
‘Tapi apakah kau mau mendampingiku hidup sebagai petani, Zahra?’ lamun Sidiq saat dia sudah berada di depan indekos Zahra.
“Sidiq, malam ini, kau ke rumah Zahra untuk meminjam catatan kuliah, biar dapat di foto kopi, bukan akan merayu Zahra,” desis Sidiq.
+++
“Tapi jangan malam-malam, mengembalikannya, ya. Kos-kosan di sini sangat disiplin. Kalau terlalu malam, nanti justru aku yang kena tegur. Memangnya kamu mau ngerepotin aku!” seru Zahra.
“OK OC. Insya Allah,” jawab Sidiq.
Tanpa pikir panjang Sidiq pun segera mencari kios foto kopi yang masih buka di daerah situ. Diam-diam hati Sidiq pun dihinggapi rasa khawatir, kalau sudah sulit mendapatkan kios foto kopi. Karena tidak semua ingin bekerja lembur. Namun, kemudian Sidiq bersyukur kepada Allah Ta’ala, saat melihat ada kios fotokopi yang masih buka. Setelah selesai memfoto kopi catatan Zahra, Sidiq pun kemudian cepat cepat menuju indekos Zahra untuk mengembalikan catatan kuliah Zahra.
Menurut Sidiq kepercayaan seorang teman harus dijaga. Zahra adalah teman yang mau membantu Sidiq, tentu kepercayaan Zahra terhadap Sidiq harus Sidiq jaga baik-baik. Apalagi Sidiq menaruh hati kepada Zahra.
“Terima kasih Zahra, atas bantuanmu,” kata Sidiq.
“Kembali. Maaf, ya, udah malam, nih,” seru Zahra.
“Baik. Makasih sekali lagi. Assalamualaikum,” kata Sidiq.
“Waalaikumsalam,” jawab Zahra kemudian Zahra pun menutup pintu.
‘Apakah aku kalah cantik dari Nabilla? Apakah aku terlihat ketus kepada Sidiq,’ lamun Zahra.
Belum lama Sidiq berlalu, tiba-tiba ada lagi ketukan di pintu kos-kosan Zahra. ‘Ada apa lagi dengan si Ganteng Sidiq ini, apakah belum puas juga melihat wajahku?’ pikir Zahra.
Namun, hari sudah malam, tidak baik bagi dirinya untuk menerima laki-laki yang bukan mahramnya. Namun, ketukan pintu itu tidak juga berhenti, bahkan cenderung menjadi lebih keras. ‘Aduh, bagaimana ini?’ pikir Zahra.
Zahra terkejut, saat akhirnya dia membukakan pintu kamar indekosnya. Bukan Sidiq yang datang lagi, tetapi ternyata Nabilla. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Nabilla yang jarang sekali bergaul dengan teman mahasiswi, termasuk dirinya, tahu-tahu sudah sampai di indekosnya dalam keadaan lusuh. Tentu saja Zahra, tidak mungkin menolak permintaan Nabilla untuk masuk ke kamarnya.
Sampai di dalam kamar pun, kemudian Nabilla menangis.
Nabilla bahkan menyebut nama Sidiq, suatu hal yang tentu saja membuat hati Zahra teriris. Namun, Zahra menyembunyikan perasaannya dan Zahra tetap menemani sampai Nabilla merasa tenang. Zahra tidak ingin mengganggu Nabilla yang sedang merasa sedih.
Namun, Zahra sungguh-sungguh merasa terkejut, saat Nabilla minta izin untuk menginap di kamar Zahra untuk beberapa hari. Tidak terbayang oleh Zahra, hidup bersama dengan gadis cantik si Ratu Kampus yang terkenal galak. Nabilla memang terkenal kaya dan keras kepala serta galak, tentunya.
“Zahra, bolehkah aku menginap di kos-kosanmu ini,” seru Nabilla sambil masih menangis.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 221125
Views: 16












