TAUBAT NABILLA – Part 4 ; Dilema Cinta Zahra

Posted by : wartaidaman 28/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

“Astagfirullah, Pak, Pak. Bagaimana ini tadi bisa terjadi? Ada masalah apa sebenarnya antara Bapak dengan Nabilla? Mengapa, kok, Nabilla sampai begitu marah, sampai pergi dari rumah?” tangis Bu Lou.

“Semua ini salahmu! Kau tidak pandai mendidik anakmu, Nabilla! Sekarang ada kejadian seperti ini, bagaimana?” teriak Pengelana.

“Nabilla bahkan berani melawanku! Nabilla berani mengancamku! Nabilla suka bertindak semau dia. Itu semua gara-gara kamu!” tambah Pengelana.

“Kamu, ya, kamu. Kamu tidak dapat mendidik anakmu Nabilla!” seru Pengelana.

“Astagfirullah, Pak. Ini minum dulu. Duduklah,” seru Bu Lou sambil memegangi tangan Pengelana, suaminya.

“Kalau Bapak belum bisa tenang. Bagus Bapak ambil air wudhu. Boleh juga kalau Bapak ingin tiduran, supaya Bapak bisa merasa tenang. Lou akan menunggu Bapak di sebelah Bapak,” kata Bu Lou menenangkan hati Pengelana.

“Bagaimana, apakah Bapak sudah merasa bisa tenang?” bisik Bu Lou.

“Astagfirullah, maafkan hamba-Mu ini, ya, Allah. Astagfirullah … astagfirullah … astagfirullah,” desis Pengelana.

Bu Lou pun menunggui Pengelana sampai dia tertidur.

Bu Lou berpikir, masalah yang timbul tidak akan dapat diselesaikan dengan emosi. Bisa jadi karena Pengelana dan Nabilla sudah tidak mampu menahan emosi. Masing-masing, baik bapak mau pun anak gadisnya, mau benar sendiri.

Sekarang bahkan Pengelana, ikut menyalahkan dirinyakarena tindakan Nabilla.

Kalau saja Lou ikut emosi, entah apa yang akan terjadi? Bukan persoalan menjadi selesai, tetapi bahkan mungkin justru semakin membesar dan melebar. Menyadari hal itu Bu Lou memilih menenangkan dulu suaminya, Pengelana.

“Maafkan aku, ya, Lou. Selama ini, aku sibuk dengan urusan di luar rumah, sehingga sampai tidak dapat mengetahui perkembangan jiwa anak kita, Nabilla. Aku hanya merasa harus bisa mencukupi kebutuhan hidup kalian ibu dan anak. Aku hanya merasa ingin membahagiakan Nabilla. Apa pun kemauan Nabilla aku turuti. Aku ingin kalian hidup bahagia. Namun, mengapa justru yang terjadi seperti ini. Apa salahku, Lou?” desis Pengelana.

“Pak, bukan Bapak saja yang salah. Lou juga salah. Selama ini Lou suka kalau Nabilla meminta sesuatu kepada Bapak. Tanpa ada pencegahan sedikit pun dari Lou. Lou juga sangat bahagia, melihat Bapak memanjakan Nabilla, sehingga Nabilla merasa selalu harus mendapatkan apa yang diinginkan. Lou lupa mendidik Nabilla, Pak,” bisik bu Lou.

“Lalu, bagaimana supaya Nabilla mau pulang ke rumah kita lagi Lou, Bapak menyesal telah membuat Nabilla tersinggung. Bapak menyesal Lou,” lirih Pengelana.
+++

“Zahra, bolehkah aku menginap di kos-kosanmu ini,” seru Nabilla sambil masih menangis.

“Aku perlu orang yang mau mendengar suasana hatiku,” tambah Nabilla.

‘Mendengar suasana hatimu, Bah. Apa kau pernah tahu suasana hatiku, saat kau sering berdua-dua dengan Sidiq. Sakit tahu,’ pikir Zahra.

Akan tetapi, Zahra tetap tidak ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Nabilla. Zahra masih diam saja mendengar permintaan Nabilla. Zahra belum tahu, apa yang dilakukan untuk menghadapi situasi dan kondisi Nabilla yang menurut Zahra, sedang labil itu.

“Minum dulu Nabilla,” kata Zahra sambil menyodorkan air putih yang diambilnya dari dispenser kecil yang ada di kamarnya.

“Tenangkan hatimu, Nabilla. Kalau Nabilla ingin istirahat. Istirahatlah,” tambah Zahra sambil dia sendiri menenangkan hatinya yang sebetulnya bergejolak.

Nabilla tadi menyebut nama Sidiq di hadapannya, tentu saja hati Zahra pun, bagai teriris-iris.
Nabilla pun tiduran di tempat tidur Zahra.

“Zahra, apakah kau pernah ngobrol sama Reza atau Gie?” tanya Nabilla.

“Jarang, sih. Bukannya kamu yang dulu sering pergi-pergi berdua dengan mereka … hehe,” canda Zahra.

“Zahra. Kamu pasti mengira Nabilla cewek jahat, ya!” seru Nabilla.

“Kami hanya dengar dengar saja. Reza dan Gie, kamu bikin mati kutu,” kata Zahra.

“Jahat sekali Nabilla, ya, Zahra. Alhamdulillah, Nabilla ketemu Sidiq,” kata Nabilla.

Sesaat Zahra diam mendengar nama Sidiq kembali disebut Nabilla. Namun, kemudian Zahra berusaha mengendalikan suasana hatinya.

“Nabilla, bagaimana kalau kita tidur dulu, hari sudah lewat tengah malam,” lirih Zahra sambil melanjutkan dengan memejamkan matanya. Zahra tidak ingin mendengar Nabilla bercerita tentang Sidiq.
+++

“Aku nggak mau tahu, cucuku Nabilla harus segera kembali!” seru Pak Ning sambil marah-marah di depan Pengelana.

“Ayah, kami saat ini juga tidak tahu Nabilla pergi ke mana?” jawab Pengelana.

“Tidak tahu Nabilla pergi ke mana! Bagaimana kamu ini, membiarkan anak perempuanmu pergi tanpa kau ketahui dia pergi ke mana? Orang tua macam apa, kamu ini?!” seru Pak Ning semakin emosi.

“Astagfirullah, Ayah. Kalau kami tahu Nabilla pergi ke mana, tentu sudah kamu cari Nabilla sekarang ini,” jawab Pengelana.

“Menjawab saja bisanya. Cari Nabilla sekarang juga!” teriak Pak Ning.

“Baik, Ayah. Insya Allah, Pengelana akan mencoba mencari Nabilla,” jawab Pengelana.

“Begitu baru anak Pak Ning!” seru Pak Ning.

“Assalamualaikum,” tambah Pak Ning sambil terus pergi dari rumah Pengelana.
Pak Ning memang sedari kecil sangat menyayangi Nabilla. Pak Ning bisa jadi lebih sayang kepada Nabilla dari pada Pengelana.

Saat Pengelana masih mencoba belajar meneruskan usaha Pak Ning, Nabilla selalu bermain dengan Pak Ning, kakeknya. Bahkan sampai Pengelana pulang pun Nabilla masih lebih sering digendong Pak Ning dari pada Pengelana.

Hal itu terjadi setiap hari, selama bertahun-tahun, sampai Pengelana mencoba membuat rumah sendiri. Begitu Nabilla sudah mulai masuk TK, baru Nabilla jarang bersama Pak Ning, kakeknya. Selain Pengelana sudah pindah rumah, sehingga Nabilla tidak serumah lagi dengan Pak Ning, Nabilla pun mulai mempunyai teman baru.
+++

Paginya sehabis salat Subuh, Zahra bermaksud menawarkan Nabilla sarapan pagi.

“Nabilla, kamu mau makan apa? Aku mau ke warung sebentar, beli gudeg,” seru Zahra yang sebetulnya tidak ingin mendengar Nabilla kembali menceritakan Sidiq. Tanpa menunggu jawaban Nabilla, Zahra pun segera keluar mencari gudeg.

Namun, Zahra terkejut, saat tiba kembali di kamar indekosnya, Nabilla sudah tidak ada lagi di sana.

Zahra pun bingung atas yang terjadi terhadap Nabilla, dalam hati Zahra merasa bersalah karena kurang menanggapi cerita Nabilla. Terutama saat Nabilla bercerita tentang Sidiq, hati Zahra seolah teriris, sehingga Zahra tidak ingin mendengar cerita Nabilla tentang Sidiq lebih banyak dan Zahra pun memutuskan untuk membeli gudeg supaya dapat meninggalkan Nabilla.

Zahra tidak menyangka kalau hal itu membuat Nabilla berubah keputusan. Nabilla yang katanya ingin menginap agak lama di kamar indekos Zahra, tetapi saat ini ternyata Nabilla sudah tidak ada lagi di kamarnya. Hal itu tentu saja membuat Zahra merasa bersalah.

Ditinggalkannya gudeg yang dibeli Zahra untuk makan dengan Nabilla. Zahra pun nekat pergi ke kampus.

Sampai di kampus, Zahra berusaha melihat-lihat kalau ada teman yang satu letting dengannya. Tampak oleh Zahra, Hari sedang berjalan keluar kampus. Segera Zahra mengejar Hari.

“Hari, Hari … bisa berhenti sebentar,” seru Zahra.

Hari menghentikan langkahnya, saat dia merasa ada yang suara perempuan yang memanggil namanya.

‘Nabilla-kah yang memanggilku?’ lamun Hari. Hari tidak sadar kalau perempuan yang berdiri didepannya adalah Zahra, bukan Nabilla.

“Hari, apakah kamu tadi ada melihat Nabilla?” tanya Zahra.

“Nabilla? Apakah kamu bukan Nabilla?” balas Hari masih setengah melamun.

“Hari, apakah kamu ada melihat Sidiq?” kembali Zahra bertanya, mendengar jawaban Hari yang kacau.

Mendengar nama Sidiq disebut, darah Hari langsung mendidih.

“Aku nggak kenal Sidiq, si pengkhianat!” seru Hari, lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Zahra sendirian.

Hari sangat marah, kalau mendengar nama Sidiq disebut di depannya. Hari masih menganggap Sidiq adalah pengkhianat, musuh dalam selimut karena sebagai sahabat tapi dia justru menggaet Nabilla, gadis idaman Hari. Padahal antara Hari dan Sidiq tadinya sudah sangat akrab, bahkan bagai saudara, saling tolong menolong. Namun, sejak Hari melihat Sidiq membawa motor berdua dengan Nabilla ke kampus, dia pun lalu membenci Sidiq.

Zahra pun kebingungan, tidak tahu yang harus dilakukan untuk nenemukan Nabilla. Jangankan menemukan Nabilla, menanyakan Sidiq saja sudah ditinggal Hari. Namun, tiba-tiba pandangan Zahra tertuju kepada Reza dan Gie yang sedang jalan berdua, mau keluar dari kampus. Segera Zahra berlari mendekati kedua mahasiswa temannya itu.

“Reza, Gie, apakah kalian melihat Nabilla?” tanya Zahra.

“Nabilla? Siapa itu Nabilla?” kata Reza.

“Nabilla, kayaknya masuk ke got dah tadi!” seru Gie.

“Apakah kalian berdua melihat Sidiq?” tanya Zahra, tak putus asa.

“Kayaknya Sidiq ada di kantin,” seru Reza.

“Sidiq biasa ada di kantin sama Hari!” tambah Gie.

“Kalian jangan bergurau. Nabilla hilang! Sidiq yang tahu ke mana Nabilla pergi!” teriak Zahra.

“Nabilla hilang? Sidiq? Sidiq tadi di kantin,” kata Reza serius.

“Ya, betul, Sidiq tadi di kantin,” tambah Gie.

‘Sidiq berada di kantin, bagaimana ini?’ pikir Zahra.

“Haruskah aku menemui Sidiq untuk membicarakan hilangnya Nabilla?” desis Zahra.

‘Sidiq adalah pacar Nabilla. Bukannya labih baik bagiku, kalau Nabilla hilang?’ pikir Zahra.

Dengan pikiran berkecamuk, Zahra melangkah ke kantin.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 271125

Views: 11

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *