“Dengan siapa kau ke sini? Bukankah tugasmu mencari Nabilla? Mengapa kamu justru membawa pasangan suami istri ke sini!” sergah Pak Ning, melihat Zahra asik memegani lengan baju Sidiq, sehingga Pak Ning mengira kedua sejoli itu merupakan pasangan suami istri.
“Maksud, ayah, anak-anak muda ini,” tanya Pengelana menegaskan.
“Siapa nama lelaki yang kau bawa ini?” seru Pak Ning.
“Namanya Sidiq, Ayah,” jawab Pengelana.
“What’s!” seru Pak Ning.
“Nabilla! Keluar kamu!” lanjut Pak Ning.
“Kek, Nabilla mau nikah dengan Hari! Bukan Sidiq!” seru Nabilla yang keluar dari kamar kakeknya. Rupanya Nabilla mendengar percakapan antara ayah dan kakeknya. Begitu Nabilla tahu kalau ada Sidiq di antara mereka, Nabilla merasa malu dengan Sidiq. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Nabilla pun keluar dari rumah kakeknya dan pergi dengan naik motor matic-nya.
“Nabilla … berhenti!” seru Pengelana.
“Ayah, Ayah tahu sekarang. Nabilla tidak lagi mau mendengar kata-kata kita lagi,” seru Pengalana.
“Astagfirullah. Ampuni hamba-Mu, ya, Allah,” seru Pak Ning.
“Maafkan ayah, Pengelana. Ayah menyesal terlalu memanjakan Nabilla di depan kalian sehingga Nabilla berani melawan kepada kalian,” sesal Pak Ning.
“Mana istrimu, Pengelana?” Tiba-tiba Pak Ning teringat kepada Bu Lou.
“Lou sedang di rumah, Ayah,” jawab Pengelana.
“Minta tolong kirimkan telur asin dari Tegal! Kampung Lou, istrimu!” seru Pak Ning.
“Telur asin itu dari Brebes, Ayah. Bukan dari Tegal,” kata Pengelana.
“Ah, kamu bisanya menjawab saja! Kerjakan permintaanku. Kirim telur asin ke sini!” seru Pak Ning.
Sidiq dan Zahra pun hanya dapat termenung dan akhirnya tersenyum melihat kelakukan ayah dan kakek Nabilla itu.
“Paman Pengelana. Sebaiknya berikan kepercayaan kepada kami berdua untuk menangani Nabilla,” pinta Sidiq.
“Baik, kita pergi bersama. Ayah, Pengelana mohon pamit. Assalamualaikum,” pamit Pengelana.
“Waalaikumsalam. Jangan lupa telur asin!” seru Pak Ning sambil merenungi penyesalannya telah salah terlalu memanjakan Nabilla.
+++
Hari mulai jarang pergi ke kampus. Hari sering melayani anak-anak tetangganya untuk memberi bimbingan belajar. Tadinya, sih, hanya beberapa anak. Namun, lama kelamaan kawan-kawan anak-anak itu mulai berdatangan. Bahkan kemudian ada yang dari luar kampungnya. Mereka mendengar dari mulut ke mulut, kalau belajar bersama Hari enak. Akhirnya Hari pun sibuk menangani anak-anak yang minta bimbingan belajar di rumah.
Sampai saat menjelang penyusunan skripsi, Hari seperti tidak mengenal kehidupan kampus seperti mahasiswa lainnya. Pada suatu hari saat Hari pulang dari perpustakaan untuk mencari bahan yang akan ditulis pada skripsinya, tiba-tiba ada suara sepeda motor berhenti di dekatnya. Namun, Hari tak acuh saja karena Hari merasa, kalau Hari tidak mengenal orang yang menghentikan motor di dekatnya.
“Betul-betul kutu buku kamu, ya!”
Tiba-tiba terdengar suara indah yang selalu dikenang Hari, di dekatnya. ‘Itu seperti suara Nabilla,’ pikir Hari.
‘Tetapi apa betul?’ Masih belum yakin hati Hari terhadap suara itu, kalau itu Nabilla yang menegurnya.
“Hari!” seru Nabilla.
Hari pun terkejut. Ternyata memang Nabilla yang menghentikan motor di dekatnya, setelah Hari membalikkan badan.
“Nabilla?” tanya Hari.
“Memang ada gadis cantik lain, selain Nabilla!” seru Nabilla.
“Bukan begitu, Nabilla. Tadi Hari tidak tahu kalau Nabilla yang memanggil Hari. Jadi, Hari diam saja,” jawab Hari.
“Kamu bisa bawa motor nggak?” tanya Nabilla.
“Aku nggak punya motor,” jawab Hari.
“Kamu bisa bawa motor nggak, kok, banyak betul jawabannya. Tinggal bilang, ya atau nggak, gitu!” sergah Nabilla.
“Aku nggak bisa bawa motorkarena aku nggak punya motor,” jawab Hari.
“Udah, udah, kamu ini terlalu banyak baca buku, jadi disuruh jawab singkat saja, panjang sekali, kayak jawab soal ujian,” seru Nabilla.
“Ayo, naik motorku. Antar aku beli pizza!” seru Nabilla.
Dalam suasana hati penuh kebingungan, Hari pun naik motor di belakang Nabilla. Hari ikut Nabilla beli pizza.
+++
“Bagaimana kalian dapat menangani Nabilla, kalau Nabilla saja sudah bilang mau nikah dengan Hari, bukan dengan Sidiq?” tanya Pengelana, saat mereka sudah di dalam mobil, dalam perjalanan mencari Nabilla, setelah rumah rumah Pak Ning.
“Memang ada hubungan apa antara Nabilla dengan Sidiq, Pak Pengelana?” Tiba-tiba Zahra memberanikan diri bertanya.
Dari tadi Zahra tidak tahu persis dengan yang telah terjadi. Zahra hanya menjadi pendengar saja. Pengelana, ayah Nabilla, menganggap Zahra dan Sidiq pasangan serasi. Bahkan karena Zahra, Sidiq dianggap tidak mau dengan Nabilla. Lalu Pak Ning, kakek Nabilla, memaksa Nabilla menikah dengan Sidiq. Sementara, Nabilla hanya mau menikah dengan Hari. ‘Ada apa dengan ini semua?’ pikir Zahra.
“Nabilla itu hanya mau mendengar kata-kata Sidiq. Walaupun Nabilla sering bersama Sidiq, Namun, ternyata Sidiq memberi tahu Nabilla, bahwa yang mencintai Nabilla dengan sepenuh hati itu Hari,” kata Pengelana.
“Sebagai sahabat Hari, dan kawan Nabilla, Sidiq mendekati Nabilla untuk memberi tahu hal itu,” jelas Pengelana.
“Alhamdulillah,” seru Zahra lega.
“Sudah tenang kamu sekarang, Mbak cantik!” seru Pengelana.
“Tadinya kupikirkarena melihat kalian berdua. Bapak beranggapan karena ada kamu cewek cantik itulah, Sidiq tidak mau menjadi suami Nabilla,” tambah Pengelana.
“Pak Pengelana, coba Bapak agak lambat sedikit di jalan ini, itu tadi saya lihat Nabilla ada di depan.” Tiba-tiba Sidiq menyela pembicaraan antara Pengelana dengan Zahra.
“Nabilla di depan? Baguslah, kita cepat-cepat dekati dia!” seru Pengelana.
“Sabar, Pak Pengelana. Kita perlahan saja, bahkan kalau perlu berhenti. Lihat yang dilakukan Nabilla,” seru Sidiq.
“OK OC. Aku ikut saja saranmu, Sidiq,” jawab Pengelana.
Setelah mereka menghentikan mobil dari tempat yang agak jauh dari posisi Nabilla, mereka melihat Nabilla sedang bicara dengan seorang pemuda. Lama mereka bicara tetapi, kemudian tampak pemuda itu naik motor, tetapi Nabilla yang bawa motor.
“Siapa pemuda itu Sidiq?” tanya Pengelana.
“Hari, Pak,” jawab Sidiq.
“Alhamdulillah,” seru Zahra.
+++
“Apa yang membuatmu menjadi kutu buku?” seru Nabilla tanpa basa-basi.
“Tidak ada yang dapat kuandalkan dari diriku ini, selain bisa membaca buku,” jawab Hari.
“Kedua orang tuaku sudah meninggal. Aku tidak punya saudara lagi di dunia ini. Jadi, aku harus bisa berjuang sendiri untuk bisa hidup berhasil nanti. Dengan banyak membaca buku, aku jadi tahu tentang banyak hal,” tambah Hari.
“Tahu banyak hal, kecuali hati seorang gadis!” seru Nabilla.
“Maksud Nabilla?” tanya Hari bingung.
“Ya, kamu itu, hatimu selalu dipenuhi dengan buku. Jadi tidak tahu membaca hati seorang gadis. Apalagi mencintainya, pasti akan sangat jauh dari hal itu,” seru Nabilla.
Hari termenung mendengar kata-kata Nabilla. Hari memang akhir-akhir ini, sering diajak Nabilla makan pizza. Sepertinya Nabilla tahu, kalau pizza itu makan kesukaan Hari. Hari pun tidak mungkin menolak ajakan Nabilla untuk menemani Nabilla makan pizza. Bahkan Nabilla pun mencoba mengajari Hari mengendarai motor bebeknya. Lama-lama Hari pun pandai membawa motor. Akhirnya kalau Nabilla minta ditemani Hari makan pizza, Hari tidak lagi dibonceng Nabilla.
Suatu hari, Nabilla mengajak Hari ke toko pizza, Hari pun sudah pandai memboncengkan Nabilla. Namunkarena Hari baru belajar naik motor, Nabilla lalu menggoda Hari, saat Hari membawa motornya pelan-pelan.
“Ini siang hari, bukan sedang bulan purnama, Mas Hari … kok, pelan banget bawa motornya … senang, ya, dapat goncengin Nabilla,” bisik Nabilla.
‘Mas Hari, kata Nabilla tadi,’ pikir Hari. Hari pun melamun, gara-gara perkataan Nabilla yang mengguncang jiwanya. Motor pun jalannya jadi agak oleng. Hari baru sadar, setelah badan Hari dicubit Nabilla, keras sekali.
“Itu toko pizzanya sudah di depan! Bukan di atas!” teriak Nabilla.
Tergagap Hari mendengar teriakan Nabilla. Hari pun sadar atas yang terjadi. Segera Hari menuju toko pizza. Gara-gara kejadian itu Hari tidak berani mengajak bicara Nabilla. Hari belum yakin akan kata-kata yang didengarnya keluar dari bibir Nabilla tadi.
Tanpa mereka sadari, gerak-gerik mereka diperhatikan oleh Sidiq dan Zahra yang sudah terlebih dulu berada di situ.
“Menyesal, ya … telah melepas Nabilla untuk Hari,” bisik Zahra.
“Aku lebih menyesal mengapa sangat terlambat meminjam catatan kuliahmu,” bisik Sidiq sambil menyentuhkan pizza ke hidung Zahra.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ wi/ nf/ 281125
Views: 21












