TAUBAT NABILLA – Part 7 ; Misi Rahasia Pak Ning

Posted by : wartaidaman 29/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Hari tadinya tidak mengetahui kalau Sidiq dan Zahra juga sedang berada di toko pizza itu. Hari masih bingung memikirkan kata-kata Nabilla kepada dirinya.

‘Mas Hari, kata Nabilla, mimpi apa aku semalam,’ pikir Hari.

“Ayo dimakan pizzanya, kok malah melamun, tho, Mas Hari ini,” kata Nabilla sambil mendorong piring yang berisi pizza di depan Hari biar lebih dekat lagi ke arah Hari.
Hari hanya bengong mendengar Nabilla memanggilnya dengan Mas Hari lagi.

“Apa mau disuapin Nabilla, Mas sekali, Mas Hari ini, seperti sudah pacaran saja sama Nabilla,” tambah Nabilla.

Melihat Hari yang semakin bingung, mendengar kata-kata Nabilla, Nabilla pun akhirnya jengkel.

“Kalau Mas Hari, nggak mau jadi pacar Nabilla! Bagus kita pulang saja!”

“Eh … tunggu …!” teriak Hari kebingungan mau bilang apa.

“Tunggu, apa lagi! Sudah sebaik ini, Nabilla terhadap Mas Hari. Tapi Mas Hari, nggak mau juga jadi pacar Nabilla!” teriak Nabilla.

“Siapa bilang Hari nggak mau jadi pacar Nabilla. Nabilla itu gadis idaman Mas Hari sejak dulu,” seru Hari tiba-tiba lancar.

“Benarkah? Kalau begitu, ayo, dong, dimakan pizzanya. Masak di sini hanya mau melamun saja!” seru Nabilla.

Namun, belum sempat Hari makan pizza, tiba-tiba masuk Reza dan Gie secara bersamaan mendekati meja Sidiq dan Zahra. Keduanya bahkan langsung berteriak kepada Sidiq.

“Diq, kau betul-betul pengkhianat, ya. Kau tinggalkan Nabilla, hanya karena kau bisa dekat dengan Zahra. Setelah kau tak bisa bersama Hari lagi, kau manfaatkan Zahra, biar kau selalu dapat lulus ujian!”
Sidiq diam saja mendengar kata-kata kasar Reza dan Gie secara bersamaan itu.

Namun, justru Hari yang panas, mengetahui bahwa ternyata Sidiq meninggalkan Nabilla karena ingin menggaet Zahra. ‘Sungguh Sidiq ini teman yang suka berkhianat, sudah itu enak saja menggaet cewek yang disukainya. Dulu dulu Nabilla didekati, sekarang Zahra. Kurang ajar Sidiq ini,’ pikir Hari.

Sontak Hari berdiri mendekati meja Sidiq yang sedang dikepung Reza dan Gie.

Reza dan Gie begitu melihat Sidiq datang ke arah mereka, mereka pun mengalihkan perhatian mereka dari Sidiq ke Hari. Mereka juga sakit hati melihat Hari sering naik motor berdua dengan Nabilla.

“He, Hari. Kau jangan sok, mau bela-bela Sidiq, ya!” seru Reza.

“He, Hari. Kau belum merasakan sakitnya dikerjain Nabilla, bukan?” seru Gie.

“Nanti kau akan sakit seperti kami tahu. Bagus kau tinggalkan Nabilla sekarang, daripada kau nanti ditinggal Nabilla!” seru Reza.

Mendengar Reza dan Gie menghasut Hari, Nabilla tak mau tinggal diam. Diambilnya pizza dipiringnya, lalu dilemparkannya ke arah Reza. Setelah itu diambilnya pizza di piring Hari, lalu dilemparkannya ke arah Gie.

“Pergi kalian dari sini. Bikin ribut saja!” teriak Nabilla.
Reza dan Gie pun pergi dari toko pizza itu sambil menutupi wajahnya yang terkena lemparan pizza Nabilla.

“Ayo, kita pulang, Mas Hari!” seru Nabilla sambil dengan cepat menggandeng tangan Hari untuk ditariknya keluar dari toko pizza itu.
Hari yang semakin kebingungan tidak tahu harus berbuat sesuatu, akhirnya mengikuti tarikan tangan Nabilla menuju tempat parkir motor Nabilla.
+++

Pak Karyono tergesa-gesa menghadap Pak Ning. Dari nada bicara Pak Ning, tampaknya Pak Ning sedang marah besar, Pak Karyono jadi serba salah. ‘Ada tugas apa lagi, nih,’ pikir Pak Karyono.

“Aku ingin rumah Hari itu dibakar!” seru Pak Ning.

“Loh, loh, nanti dulu, Pak. Hari itu siapa? Rumahnya di mana? Lagi pula, mengapa rumahnya harus dibakar?” tanya Pak Karyono.

“Nabilla maunya nikah sama Hari!” teriak Pak Ning yang membuat Pak Karyono bertambah bingung.

“Aku mau Hari tinggal di rumah Nabilla. Jadi rumah Hari itu dibakar saja. Biar Hari tidak punya tempat tinggal. Suruh Hari tinggal bersama Nabilla!” perintah Pak Ning.

“Maksud Bapak, Nabilla cucu Bapak itu, mau menikah dengan Hari?” tanya Pak Karyono.

“Begitulah! Nekat sekali Nabilla!” seru Pak Ning.

“Hari itu siapa, Pak? Rumah Hari di mana?” tanya Pak Karyono.

“Itu tugasmu!” sergah Pak Ning.

“Baik, Pak,” seru Pak Karyono.

“Bakar rumahnya!” teriak Pak Ning.

“Tunggu, Pak. Apa tidak ada cara lain?” tanya Pak Karyono.

“Tidak ada!” seru Pak Ning.

“Tapi ingat, ini misi rahasia! Tidak boleh ada orang yang tahu!” tegas Pak Ning.

“Biarlah, kami nanti yang memikirkannya, Pak,” kata Pak Karyono.

“Ambil tas dollar di dekat meja makan makan,” seru Pak Ning.

“Baik, Pak. Baik, Pak,” jawab Pak Karyono.
+++

Sebagai pejabat di salah satu instansi strategis, Pak Karyono, mempunyai banyak relasi baik konsultan dan kontraktor. Pak Karyono sedang memikirkan misi rahasia Pak Ning itu, sebaiknya diberikan kepada pihak yang dapat bekerja bersama masyarakat. Dengan melibatkan masyarakat, pekerjaan besar, walaupun itu merupakan misi rahasia dapat dilaksanakan tanpa ada kegaduhan. Tiba-tiba Pak Karyono teringat kepada Sastro.

“Sastro?” seru Pak Karyono.

“Siap, Pak,” jawab Sastro.

“Datanglah ke ruangan saya. Jangan bawa teman!” seru Pak Karyono.
+++

Zahra sekarang tahu, kalau Sidiq memang tidak ada hubungan kasih dengan Nabilla. Zahra melihat Hari dan Nabilla semakin hari semakin akrab. Padahal mereka hanya pergi ke toko pizza untuk makan bersama. Hari bahkan sudah mulai bisa pula bawa motor karena diajarkan oleh Nabilla.

Melihat itu semua hati Zahra pun semakin mantap pula dengan Sidiq. Zahra juga sering diajak Sidiq ke toko pizza yang sering dikunjungi Hari dan Nabilla. Namun, mereka lebih memilih tempat duduk yang agak di sudut, supaya mereka tidak mudah ditemukan oleh Hari dan Nabilla. Sampai suatu hari terjadilah insiden datangnya Reza dan Gie ke toko pizza itu dan mem-bully mereka.

Pada saat yang sama Hari dan Nabilla juga sedang mau makan di toko pizza itu.

Sontak terjadilah missunderstanding antara Reza dan Gie yang menuduh Sidiq suka mempermainkan cewek. Menurut Reza dan Gie yang pernah dipecundangi Nabilla, dan mungkin masih menyimpan sakit hati, mencoba mengingatkan Zahra, bahwa Sidiq ini suka memainkan cewek. Nabilla digaetnya, sekarang Zahra pula mau diambil Sidiq.
Mendengar bully-an Reza dan Gie itu, tentu saja Hari marah. Hari teringat bahwa Sidiq pernah mengkhianati pertemanan mereka dengan sering naik motor berdua bersama Nabilla. Hari pun dengan semangat mau ikut menghabisi Sidiq.

Melihat situasi dan kondisi begitu parah, antara Hari dengan Sidiq, Nabilla yang ingin menikah dengan Hari, Namun, merasa berutang budi dengan Sidiq, akhirnya nyerocos. Peluru Nabilla pun menyasar dari mulutnya ke arah Reza dan Gie. Kontan saja kedua mantan Nabilla itu lari kalang kabut keluar toko pizza. Nabilla pun mengajak Hari keluar, tanpa memperhatikan Sidiq. Nabilla tidak ingin Hari curiga terhadap hubungan Nabilla dengan Sidiq.

Tentu saja, Zahra hanya tersenyum melihat kegaduhan yang terjadi antara Reza, Gie, Hari dan Sidiq.

“Tuan Putri Nabilla, tak lagi memedulikanmu, Sidiq,” bisik Zahra.

“Kan sudah ada kamu di sini, Zahra,” balas Sidiq sambil tersenyum.

“Nggak nyesal, kehilangan kesempatan jadi menantu orang kaya?” tanya Zahra.

“Ya, enggak, lah. Mana bisa lulus ujian kalau hanya menjadi menantu orang kaya,” seru Sidiq.

Tapi belum sempat Sidiq tahu yang terjadi, matanya tiba-tiba gelap. Wajahnya sudah dipenuhi kue pizza oleh tangan Zahra.
+++

“Bunda, ayolah, Bunda!” rengek Nabilla.

“Apa lagi, Nabilla?” tanya Bu Lou.

“Bunda, harus berbuat sesuatu!” seru Nabilla.

“Apa yang bisa Bunda lakukan?” tanya Bu Lou.

“Pergi kita ke tempat Kakek!” seru Nabilla.

“Mengapa harus pergi ke sana, Nabilla? Bapakmu sedang tugas keluar kota,” seru Bu Lou.

“Bunda harus memaksa Kakek, supaya Kakek setuju Nabilla menikah dengan Hari, bukan Sidiq!” seru Nabilla

“Oh, itu masalahnya. Kalau itu, bagus menunggu ayahmu saja. Ayahmulah yang bisa bicara tentang pernikahanmu dengan Kakek. Bukan Bunda?” seru Bunda Lou.

“Ayah? Mana bisa Ayah bicara sama Kakek?” seru Nabilla.

“Ya, bisalah. Ayahmu, kan, anak Kakekmu,” seru Bunda Lou.

“Ah, Bunda, seperti tidak tahu saja. Ayolah Bunda, pergi kita ke rumah Kakek!” seru Nabilla.

‘Astagfirullah, mengapa Nabilla menjadi pemaksa begini, ya?’ pikir Bu Lou. Bu Lou merasa telah terlalu memanjakan Nabilla sejak Nabilla masih kecil, Bu Lou menyesal tentang hal itu. Namun, penyesalan Bu Lou, bagai tak berguna. Begitu sudah dewasa Nabilla sudah sulit diberitahu lagi.

“Bawa telur asin Tegal, ya, Bunda!” seru Nabilla girang.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 291125

Views: 17

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *