SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ajian Bandung Bondowoso vs Ajian Telapak Tangan Langit_

Posted by : wartaidaman 28/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com   

 

 

 

Salahuddin menjadi serba salah, Pangeran Hafiz Bagus Tinukur pun ternyata telah ikut pingsan, setelah sebelumnya Pendekar Langit Abu Arang tidak terdengar suaranya ternyata sudah pingsan, kemudian Raja Danang, Sayidin Panotogomo, juga kembali pingsan. Salahuddin tidak tahu pasti tujuan Jalal dan Tanjung meninggalkan tempat itu. Kalau saja ada Jalal dan Tanjung, menurut Salahuddin, mereka bertiga dapat melayani Tiga Pendekar Langit, Danang, Sayidin Panotogomo, Pangeran Hafiz Bagus Tinukur dan Abu Arang satu-satu.

Dengan ketiga pendekar langit itu, pingsan kembali semua, karena kondisi luka mereka setelah bertempur saling mengunci itu, sangat sulit bagi Salahuddin untuk berbuat lain, selain hanya menunggu mereka bertiga sadar kembali. Paling tidak, kalau ada salah satu dari mereka bertiga ada yang sadar, maka dengan kemampuan tenaga dalam dari kedua ilmu sakti yang dimilikinya, ajian Seribu Bulan dan Telapak Tangan Langit, maka dia dapat membawa mereka bertiga untuk pergi ke suatu tempat yang lebih aman. Usulan Raja Danang, Sayidin Panotogomo kepada Pendekar Langit Abu Arang untuk pergi ke Kediri, menurut Salahuddin adalah usulan yang bagus dan realistis.

Di Kediri, banyak keluarga Salahuddin yang dapat membantu kesulitan mereka. Di samping Pendekar Langit Abu Arang, yang boleh dikatakan masih keponakan angkatnya. Ayah dari Pendekar Langit Abu Arang adalah Raja Slamet, yang merupakan anak angkat, ayah bundanya, Dusmin dan Ijah. Ada pun Bupati Kediri, Bejo Cinekel, juga merupakan abang tiri, Pendekar Langit Abu Arang, satu ayah, dari lain ibu. Ibu Pendekar Langit Abu Arang adalah Miss Tami Zen yang merupakan istri kedua Raja Slamet, sedang ibu dari Bupati Kediri Bejo Cinekel adalah Mbak Ay Ming, istri pertama Raja Slamet.

Raja Slamet juga masih berada di Kediri, tetapi masih juga dalam keadaan terluka akibat berperang dengan Danang, Sayidin Panotogomo. Raja Slamet terkena serangan ajian Bandung Bondowoso dari Danang, Sayidin Panotogomo secara bersama dengan Wahyudi, sehingga kekuatan ajian Bandung Bondosowo berlipat-ganda kekuatannya.
Pada saat itu, Raja Slamet emosi karena hilangnya Abu Arang yang sedang latihan adu kesaktian bersama Danang, Sayidin Panotogomo. Sementara Danang, Sayidin Panotogomo ditanya keberadaan Abu Arang oleh Raja Slamet, tidak dapat menjawab, karena juga tidak tahu, saat mereka bertiga jatuh ke Hutan Mantingan. Hutan tempat peperangan terakhir, tentara Raden Patah melawan pasukan Majapahit. Namun, dengan adanya Bupati Kediri, Putri Selendang Biru, ayah bunda dari Pangeran Hafiz Bagus Tinukur, rasanya Kediri masih merupakan tempat yang paling aman untuk berlindung.

Pada saat Salahuddin, masih berpikir tentang tujuan yang paling tepat untuk kepentingan ketiga Pendekar Langit yang sedang terluka dan pingsan itu, tiba-tiba Raja Danang, Sayidin Panotogomo meracau, “Madiun … Ratu Ana … Madiun Ratu Ana ….”

“Paduka, Raja Danang. Bangun, Paduka,” sapa Salahuddin, sambil menggerak-gerakan badan Danang, Sayidin Panotogomo.

“Salahuddin … apakah aku … masih hidup …,” kata Danang, Sayidin Panotogomo setelah sadar karena badannya digoyang-goyang Salahuddin.

“Alhamdulillah. Paduka sudah sadar. Paduka tadi menyebut Madiun dan Ratu Ana. Apakah Paduka ingin Salahuddin antar ke Madiun?” tanya Salahuddin.

“Boleh juga, Salahuddin. Antar aku ke Madiun. Namun, bagaimana dengan Pangeran Hafiz Bagus Tinukur dan Pendekar Abu Arang? Apakah mereka masih pingsan?” tanya Danang, Sayidin Panotogomo.

“Mereka masih pingsan Paduka. Namun, kalau Paduka menghendaki pergi ke Madiun, ke kerajaan ratu Ana, Salahuddin akan gendong Paduka di punggung dan karena kedua pendekar langit yang lain masih pingsan, biar hamba dekap dengan tangan kanan hamba,” kata Salahuddin.

“Baiklah, Salahuddin. Tapi hati-hati, ya. Kalau nanti aku pingsan lagi, kamu harus berhenti. Kalau tidak aku bisa jatuh dari gendonganmu,” kata Raja Danang, Sayidin Panotogomo.

Salahuddin pun dengan sigap lalu menggendong Danang, Sayidin Panotogomo di punggungnya. Lalu dia mengangkat Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur, kemudian juga Pendekar Langit Abu Arang, terus kedua pendekar langit itu, didekapnya dengan tangan kanan. Salahuddin berpikir, kalau dalam perjalanan nanti dia berjumpa musuh tangguh, tangan kirinya masih mampu mengeluarkan ajian Telapak Tangan Langit. Sedangkan dengan tangan kanan yang mendekap dua pendekar langit yang masih pingsan dan punggungnya mengendong Raja Danang, Sayidin Panotogomo, Salahuddin mengerah ajian Seribu Bulan, supaya tangan kanannya kuat mendekap dua pendekar yang pingsan itu, sekaligus dia dapat terbang naik ke langit yang tinggi untuk pergi ke Madiun.
Akan tetapi, terkadang pada saat tertentu, Raja Danang, merasa takut dengan ketinggian, karena sedang dalam keadaan terluka, bahkan dia khawatir kalau pingsan lagi, lalu dia minta Salahuddin untuk turun dulu. Setelah Salahuddin turun ke darat dan Raja Danang, Sayidin Panotgomo merasa agak tenang, dia baru berani minta Salahuddin terbang lagi. Salahuddin pun, naik turun dari darat ke langit, lalu turun lagi dan kemudian naik lagi itu, terjadi berulang-kali dalam perjalanan menuju Kerajaan Madiun, ke istana Ratu Ana.

Pemandangan Salahuddin yang naik-turun itulah yang dilihat oleh Wahyudi, saat dia melihat ke depan. Wahyudi tidak tahu, kalau yang bergerak naik turun ke langit itu adalah Salahuddin, bahkan menganggap hal itu sebagai suatu yang mencurigakan. Wahyudi yang juga masih dalam keadaan terluka, karena serangan Seruling Sakti Adi itu, lalu berteriak kepada Jalal dan Tanjung, yang masih dalam posisi memanggul Perahu Surya supaya dapat terbang dan tidak semakin besar retakannya, untuk memperlambat terbangnya. Jalal dan Tanjung yang naik sepeda beroda satu dapat terbang, sekaligus memanggul Perahu Surya yang mengangkut Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi dengan mengerahkan ajian Bandung Bondowoso.

Akan tetapi, teriakan Wahyudi terlambat, Jalal dan Tanjung tidak mampu mengerem kekuatan ajian Bandung Bondowoso secara mendadak, karena mereka masih terbang di langit, sedang kedua tangan mereka pun masih memanggul Perahu Surya. Hal itu membuat Perahu Surya tetap meluncur ke depan dengan cepat, karena tadi akan menghindar dari kejaran Pendekar Seruling Sakti Adi.

Sementara itu, dari arah depan Salahuddin juga melaju dengan menggendong Raja Danang, Sayidin Panotogomo, dan mendekap Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur dan Pendekar Langit Abu Arang, yang akan menuju Kerajaan Madiun.

“Jalal, Tanjung! Awas ada sesuatu di depan kita. Belokkan perahu!” teriak Wahyudi.

Salahuddin yang sedang konsentrasi dengan mengerahkan ajian Seribu Bulan untuk menggendong Danang, Sayidin Panotogomo dan mendekap dua pendekar langit yang masih pingsan itu terkejut, melihat sebuah benda besar menuju ke arah.

Namun, sempat terdengar ada teriakan Jalal dan Tanjung di telinganya. Untuk menghindari terjadinya tabrakan, Salahuddin pun mencoba menukik turun.

Sebaliknya, Jalal dan Tanjung bahkan marah, karena ada yang berani mau menabrak Perahu Surya yang sedang dipanggulnya. Mereka berdua seakan kompak untuk mengejar sesuatu yang tadi mau menabark mereka, tetapi kemudian turun. Tanpa minta izin Wahyudi dan Ki Ageng Batman, Jalal dan Tanjung pun langsung memutar balik arah Perahu Surya, lalu dengan mengerahkan kekuatan penuh ajian Bandung Bondowoso mereka akan menyerang benda aneh yang turun, setelah akan menabrak mereka tadi.

Sementara itu, begitu Salahuddin sampai di tanah, dan melihat ada kekuatan besar yang akan menyerangnya, dia pun lalu membalikkan badan menghadap ke arah kekuatan yang akan menyerang itu, dan mengerahkan ajian Telapak Tangan Langit dengan tangan kirinya. Tak pelak lagi ajian Bandung Bondowoso Jalal dan Tanjung akan beradu dengan ajian Telapak Tangan Langit Salahuddin.

Tidak terbayangkan yang akan terjadi dengan beradunya ajian dahsyat Bandung Bondowoso Jalal dan Tanjung dengan ajian Telapak Tangan Langit Salahuddin itu. Belum lagi akibatnya bagi mereka bertiga, Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi di Perahu Surya, serta Raja Danang, Sayidin Panotogomo, Pangeran Hafiz Bagus Tinukur serta Pendekar Langit Abu Arang. Bisa jadi mereka semua akan terluka parah, bahkan mungkin dapat terbunuh.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 281025

Views: 17

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *