TAUBAT NABILLA – Part 9 ; Robohnya Rumah Hari

Posted by : wartaidaman 29/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Begitu masuk ke Cogito Coffe Shop, Sastro sibuk bertanya kepada Cogito yang sedang jaga di kasir.

“Apa layar monitornya bisa dihidupkan?” tanya Sastro.

“Insya Allah, bisa, Pak,” jawab Cogito.

“Apakah kami bisa dapat privasi untuk menggunakan layar monitornya?” tanya Sastro lagi.

“Biasanya, sih, untuk informasi menu kami saja, atau kalau mau ada yang karakoke, tapi kalau memang mau digunakan untuk keperluan khusus, nanti saya panggil tenaga untuk membantu,” jelas Cogito.

“Apakah ada tarif untuk sewa layar monitor?” tanya Sastro lagi.

“Oh, No. Kami jualan kopi, Pak. Bukan tempat sewa layar monitor,” tegas Cogito.

“Apakah …?” tanya Sastro mulai ragu mendengar nada agak keras dari jawaban Cogito.

“Bapak, boleh memilih meja yang paling dekat monitor. Nanti ada staf yang akan melayani keperluan Bapak. Silahkan, Pak,” kata Cogito.

“Terima kasih,” kata Sastro, hilang akal mau bertanya apa lagi kepada Cogito. Selama ini Sastro hanya diajak oleh Kapten Ade ke Cogito Coffe Shop. Sastro selalu tidak mendapat kesempatan untuk bicara kepada Cogito yang dia tahu namanyakarena ada papan nama yang manis di baju seragamnya. Pada saat Kapten Ade sedang sibuk menemani Pak Kartonolah, Sastro mendapat kesempatan untuk dapat bicara dengan Cogito.

“Oh, ya, nama Mbak siapa?” kembali Sastro mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.

“Cogito,” jawab Cogito pendek.

“Kenalkan saya Sastro,” kata Sastro.

“Ada di papan nama Bapak,” kata Cogito sambil menunjuk ke arah papan nama pada baju Sastro.

“Terima kasih,” kata Sastro bangga.

“Sama-sama, Pak,” jawab Cogito.

Sastro pun meninggalkan Cogito, lalu menuju ke tempat Pak Karyono dan Kapten Ade duduk. Kebetulan mereka berdua sudah memilih duduk di meja yang dekat dengan layar monitor. Namun, Sastro agak terkejut, saat Sastro bergabung untuk duduk dekat Pak Karyono dan Kapten Ade, Pak Karyono batuk dan berdehem.

“Lama tampak diskusi Sastro, Kapten Ade?” tanya Pak Karyono sambil tersenyum.

“Biasa, sih, dia di belakang saya, Pak. Mungkin sudah lama terpendam,” tawa Kapten Ade.

“Tadi saya ingin kofirmasi, apakah fasilitas layar monitor ini dapat kita gunakan untuk mematangkan revisi program rumah Hari,” kata Sastro Kaja kalem.

“Konfirmasi dengan investigasi itu beti,” seru Pak Karyono sambil tertawa. Hilang rasa kesal Pak Karyono setelah dihardik pak Ning, melihat ulah Sastro melakukan pedekate pada Cogito.

“Beda-beda tipis, ya, Pak,” seru Kapten Ade, kompak ngeledek Sastro.
+++

Zahra di indekosnya masih termenung dengan ulah Reza dan Gie yang salah kira, terhadap tindakan Sidiq yang pernah seperti mendekati Nabilla, Namun, ternyata itu merupakan langkah Sidiq untuk membuka jalan bagi Hari, supaya dapat berpasangan dengan Nabilla. Satu hal yang juga pernah Zahra rasakan, kalau Sidiq berdua-dua dengan Nabilla memang mereka pacaran. Namun, saat Sidiq sekarang sering berdua dengan Zahra, dan Reza serta Gie menganggap Sidiq mudah ganti-ganti cewek membuat Zahra sedih.

Berita itu akan sangat tidak bagus bagi Sidiq di kampus, bahkan bagi Zahra juga. Bisa-bisa Zahra yang saat ini dekat dengan Sidiq, dianggap mengambil kekasih orang. Zahra harus berusaha supaya Reza dan Gie mengubah pandangan buruknya tentang Sidiq. Apalagi Nabilla memang sudah berniat ingin menikah dengan Hari. Tudingan Hari nanti juga meraskan kepedihan saat ditinggal Nabilla harus dihapus dari pikiran Reza dan Gie. Mereka berdua walaupun pernah merasakan sakit hati karena ditinggal Nabilla, harus mensupport Hari, supaya hubungan Hari dengan Nabilla tidak putus di jalan.

‘Tapi bagaimana caranya, ya?’ pikir Zahra. Namun, belum lagi Zahra selesai melamun, tiba-tiba datang Auria, masuk ke kamarnya.

“Zahra, apa betul info yang berkembang, kalau Hari jadian sama Nabilla?” tanya Auria.

“Alhamdulillah, betul,” jawab Zahra.

“Astagfirullah. Bagaimana anak manis itu nanti nasibnya?” tanya Auria.

“Maksudmu?” tanya balik Zahra kepada Auria.

“Ya, kan, kita tahu. Kalau Nabilla itu sering mutusin cowok seenak udele dewe. Kan, kasihan si manis Hari, kalau harus merasakan sakitnya ditinggal pacar,” seru Auria.

“Ah, kamu ini banyak berkhayal! Atau sebetulnya, kamu ini ada hati sama Hari, ya?” seru Zahra.

“Ah, siapa, sih, cewek yang nggak pengin dapet hati si manis Hari?” aku Auria.

“Udah udah lupain saja Hari. Ini ada dua sasaran cowok beken yang bisa Auria dapat. Tapi harus berusaha, ya. Jangan nunggu-nunggu kayak sama Hari lagi,” seru Zahra.

“Memang siapa cowok beken yang Zahra bilang itu?” tanya Auria.

“Reza sama Gie. Auria tahu, kan, sama mereka berdua?” tanya Zahra.

“Yah, masak hilang satu, harus dapat dua. Yang enggak enggak saja,” seru Auria.

“Bukan begitu, mereka berdua perlu mendapat simpati dari elu. Nanti siapa yang nyambung, tinggal elu ambil gitu!” jelas Zahra.

“Ok Oc. Siap. Insya Allah,” kata Auria.
+++

“Reza, Gie, sini kalian!” panggil Auria saat melihat Reza dan Gie keluar dari kampus. Reza dan Gie begitu dipanggil Auria, langsung datang. Reza heran, ‘Ada Auria kok berubah ulah. Biasa Auria ini cewek pendiam, suka main sama anak-anak, kayak Hari, jarang dekat-dekat sama cowok, kok, tiba-tiba panggil-panggil,’ pikir Reza, sedangkan Gie senyum-senyum saja.
Auria menjelaskan perkembangan hubungan antara Nabilla dengan Hari, kepada Reza dan Gie. Mengingat mereka semua adalah teman satu letting, tidak elok kalau di antara mereka ada hati yang masih tersayat karena hubungan masa lalu yang mungkin buruk.

“Sesama teman satu letting, kita harus saling mendukung. Kalau masa pacaran itu mungkin masih baru main-main, maka masa menuju ke jenjang perkawinan itu suatu hal yang serius. Jangan sampai pada pesta, kalian masih punya rasa bersalah kepada Hari, atas perbuatan yang telah kalian lakukan, mem-bully Hari di depan umum,” jelas Auria.

Pergi ke rumah Hari! Adakan pendekatan secara pribadi. Bantu Hari sukseskan pernikahannya dengan Nabilla!” tegas Auria kepada Reza dan Gie, seolah Auria bicara sama anak-anak didiknya.
+++

Reza dan Gie pun setuju dengan pandangan Auria dan langsung pergi ke rumah Hari. Namun, mereka berdua terkejut, saat sudah sampai di rumah Hari. Sekeliling rumah Hari sudah dipenuhi banyak orang. Tampak ada seseorang lelaki gagah yang berkacamata yang bicara dengan lantang di samping seorang putri yang cantik. Reza dan Gie tidak kenal kalau kedua orang itu dari PT. Batam Group, Kapten Ade dan Sastro.

“Saudara-saudara semua. Rumah ini merupakan rumah yang paling strategis untuk pengembangan lingkungan perumahan di sekitar sini. Jika saudara saudara setuju, maka rumah ini akan kita beri ganti rugi dan akan kita bangun menjadi septic tank komunal, bagi perumahan permukiman di sini!” kata lelaki gagah berkacamata itu.

“Takbir!” seru warga kampung yang mengelilingi rumah Hari.

Melihat hal itu, Reza dan Gie merasa menyesal terlambat menemui Hari di rumahnya untuk minta maaf atas kesalahan mereka membully Hari. Kalau situasi dan kondisi sudah seperti itu, sulit bagi mereka untuk menemukan Hari.

“Astagfirullah. Apa yang akan terjadi dengan Hari nanti? Mengapa di hari menjelang Hari ujian skripsi, justru muncul ujian berat bagi tempat tinggal Hari?” seru Reza. Gie hanya bisa manyun melihat kerumunan yang terjadi di sekitar rumah Hari.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 281125

Views: 17

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *