TAUBAT NABILLA – Part 8 ; Misi Pak Karyono Gagal

Posted by : wartaidaman 29/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

“Assalamualaikum,” sapa Pak Karyono.

“Waalaikumsalam. Masuk, masuk,” kata Pak Ning.
Pak Karyono segera masuk ke rumah pak Ning, bersama Sastro dan Kapten Ade. Pak Karyono akan menyampaikan usulan proyek perbaikan lingkungan masyarakat yang akan dikerjakan oleh group Kapten Ade dan Sastro sebagai inisiatornya. Proyek perbaikan lingkungan tersebut dimaksudkan untuk merevisi progam Top Down dari Pak Ning pada lokasi rumah Hari.

“Ada apa kalian ramai-ramai ke sini!” seru Pak Ning.

“Maaf, Pak. Saya ingin menyampaikan usulan untuk revisi program pada rumah Hari,” lapor Pak Karyono.

“Revisi apa? Bakar saja rumahnya! Begitu saja kok repot,” seru Pak Ning.

“Begini, Pak. Kami mencoba meminimalisasi dampak buruk yang mungkin terjadi pada program rumah Hari. Usulan kami ini, kalau dilaksanakan akan bukan saja melibatkan banyak orang yang menjadi tetangga Hari, Namun, juga dapat membuat lingkungan permukiman di sekitar rumah Hari menjadi lebih sehat, dan tentu saja hal itu akan berdampak positif pada saat saya dan beberapa pejabat tinggi lain, selfi dilokasi,” jelas Pak Karyono.

“Namun, secara rinci, usulan mengenai revisi program pada rumah Hari itu akan disampaikan oleh Sastro, sebagai inisiator dari PT. Batam Group, pimpinan Kapten Ade, ini,” tambah Pak Karyono.

“PT Batam Group?” tanya Pak Ning.

“Betul, Pak. Mohon bapak berkenan berkenalan dengan saya Kapten Ade,” sapa Kapten Ade.

“O … o … o,” jawab Pak Ning, begitu melihat Kapten Ade yang tampak gagah dan tentu saja kece badai. Fokus Pak Ning terhadap rencana bakar rumah Hari langsung buyar, gara gara terpesona kepada Kapten Ade.

“Jangan bicarakan tentang program di sini! Laporkan apa yang sudah kalian kerjakan!” sergah Pak Ning untuk menutupi kegalauannya melihat Kapten Ade ada di antara mereka.

Kontan mental saja Pak Karyono menjadi ciut, mendapat gertakan Pak Ning. Tanpa ba-bi-bu lagi, Pak Karyono segera pamitan dan mengajak Kapten Ade dan Sastro untuk keluar dari rumah Pak Ning.

“Siap, Komandan. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak. Mohon memberi waktu kepada kami untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kami mohon pamit terlebih dulu,” kata Pak Karyono.

Mendengar kata-kata Pak Karyono, Kapten Ade dan Sastro bingung, Namun, tidak dapat berbuat sesuatu, selain mengikuti perintah Pak Karyono. Hal itu harus mereka lakukan karena mereka merupakan pihak ketiga yang akan menjalankan program Pak Karyono. Semua keputusan berada di tangan Pak Karyono. Kalau Pak karyono mengajak pamitan, mereka tentu ikut saja. Walau pun sebenarnya mereka kecewa karena jangankan presentasi program, bicara saja belum sempat.

Pada saat rombongan Pak Karyono mau keluar dari rumah Pak Ning, kebetulan Nabilla datang bersama Bunda Lou akan memasuki rumah. Namunkarena mereka tidak saling mengenal, maka kedua rombongan itu saling pandang saja.Rombongan Pak Karyono, Kapten Ade dan Sastro Kaja sedang gundah, sedangkan rombongan Nabilla dan Bunda Lou, masih harap-harap cemas. Tentu saja kedua rombongan tidak ada yang saling menyapa, walaupun keluar masuk di tempat yang sama.
+++

“Kek, siapa tamu tamu Kakek tadi?” tanya Nabilla.

“Ah, kamu, anak kecil, mau tahu saja!” seru Pak Ning.

“Ya. Aneh saja. Masak keluar dari rumah Kakek, jumpa Nabilla mau masuk, kok, mereka diam saja. Sama sekali nggak ada hormatnya sama Nabilla!” geram Nabilla.

“Sudah, sudah. Mana bundamu, Nabilla?” tanya Pak Ning, pura pura tidak melihat kalau Bu Lou menantunya sudah berada di belakang Nabilla. Bu Lou sering malas ke rumah ayah mertuanya. Karena kalau ayah mertuanya, sudah bertemu dengan Nabilla, dunia seakan milik mereka berdua. Bu Lou menjadi seperti kambing congek di situ.

“Ini Bunda Lou. Kakek ini, belum tua betul Kek, masak sama Bunda Lou udah lupa?” seru Nabilla.

“Kapten … Ade?” sapa Pak Ning. Pak Ning melihat Bu Lou bagai melihat Kapten Ade.

“Kakek! Siapa perempuan yang mengganggu Kakek tadi! Biar kugambar wajahnya!” seru Nabilla.

Nabilla teringat ada seorang perempuan cantik bersama rombongan yang keluar rumah pada saat Nabilla mau masuk rumah Pak Ning tadi.

“Astagfirullah, Nabilla. Sabar dulu, Nak,” bisik Bu Lou.

“Berikan telur asin ini kepada Kakekmu,” tambah Bu Lou.

Mendengar kata telur asin yang diucapkan oleh Bu Lou, Nabilla baru ingat tujuannya datang bersama Bunda Lou ke rumah Kakek Pak Ning. Dengan cepat Nabilla mengambil bungkusan telur asin dari tangan Bu Lou. Lalu Nabilla masuk ke dapur.

Beberapa saat kemudian Nabilla sudah keluar lagi sambil membawa telur asin di atas piring untuk dihidangkan kepada Kakek Pak Ning.

“Telur asin, pesanan Kakek,” seru Nabilla.

“Alhamdulillah, Nabilla kamu memang yang paling mengerti dengan Kakek,” seru Pak Ning.

“Tapi Kakek harus janji, sama Nabilla!” seru Nabilla.

“Janji? Janji apa lagi, cucuku Nabilla yang cantik,“ kata Pak Ning.

“Pokoknya Kakek harus janji!” seru Nabilla.

“Janji!” seru Pak Ning.

“Demi Allah!” seru Nabilla.

“Demi Allah!” seru Pak Ning.

“Tidak boleh di bibir saja!” seru Nabilla.

“Selfi!” seru Pak Ning.

“Udah katakan apa maumu, Nabilla! Apa pun permintaanmu akan Kakek kabulkan. Sekarang cepat kupaskan telur asin untuk Kakekmu ini,” seru Pak Ning.

“Nabilla mau nikah sama Hari!” seru Nabilla.

“OK OC. Cepat telur asinnya!” seru Pak Ning.

“Alhamdulillah. Makasih, Kakek,” seru Nabilla sambil memeluk Pak Ning kuat-kuat. Nabilla tidak merasa heran atas perubahan sikap Pak Ning yang begitu cepat menyetujui pernikahannya dengan Hari. Nabilla tidak tahu kalau Pak Ning bahkan sudah mempunyai misi rahasia terhadap Hari.

Bu Lou diam saja melihat itu semua. Bagi Bu Lou pemandangan mereka berdua yang kalau sudah ngobrol lupa dunia, lupa orang lain, walau ada Bu Lou di situ, sudah suatu hal yang biasa. Namun, ucapan tentang Kapten Ade itu agak sedikit mengganggu Bunda Lou. ‘Apa jadinya dengan harta waris kepada Pengelana, ayah Nabilla, kalau sempat Pak Ning tertarik kepada perempuan cantik yang tadi bersama rombongan keluar rumah,’ pikir Bu Lou.
+++

“Gagal misi kita, Pak?” tanya Sastro kepada Pak Karyono, dalam perjalanan mereka pulang dari rumah Pak Ning.

“Nanti kita bicarakan sambil mencari tempat minum yang aman. Bukan begitu, Kapten Ade?” seru Pak Karyono.

“Betul, Pak,” jawab Kapten Ade.

“Bagaimana kalau kita minum di Cogito Coffe?” tambah Kapten Ade.

“Cogito Coffe, siiip, deh,” timpal Sastro Kaja, bersemangat, begitu mendengar mereka mau ke tempat Cogito. Sastro pun segera menambah kecepatan mobil, biar dapat segera sampai ke Cogito Coffe.

“Di sana, kita bisa matangkan rencana kita, terhadap revisi program rumah Hari itu, Pak,” jelas Kapten Ade.

“Maafkan, teman-teman, saya menyesal melibatkan kalian dengan membawa kalian ke rumah Tuan Pak Ning,” sesal Pak Karyono.

“Saya khilaf. Kalau sama beliau itu, memang bukan berunding, tapi bikin laporan saja. Laporan yang bagus-bagus. Nasiblah kita hari ini,” desah Pak Karyono penuh penyesalan.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 291125

Views: 15

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *