SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Harum Aroma Ratu Ana_

Posted by : wartaidaman 29/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Saat Danang, Sayidin Panotogomo meluncur dari udara ke bawah dalam keadaan pingsan, Ratu Ana yang sedang terbang memantau keadaan hutan yang terbakar di kaki Gunung Wilis, dari kejauhan melihat Danang sebagai benda yang turun dari langit. Ratu Ana menganggap benda itulah, yang menyebabkan suara ledakan dan hutan di kaki Gunung Wilis itu terbakar. Oleh karena itu, dengan sigap, Ratu Ana lalu menyerang benda yang dianggap membahayakan itu.
Celakalah Danang, Sayidin Panotogomo. Sudahlah kondisi tubuh Danang, Sayidin Panotogomo terluka, jatuh dari gendongan Salahuddin, karena pingsan, sekarang justru akan diserang oleh istri keempatnya, Ratu Ana. Karena dia dianggap penyebab ledakan dan kebakaran hutan di kaki Gunung Wilis, wilayah kekuasaan Ratu Ana, ratu Kerajaan Madiun.

Sementara itu, Salahuddin yang masih menuju ke atas, tidak sadar akan bahaya yang mengancam Danang, Sayidin Panotogomo, yang bisa saja tewas, jika terkena serangan pedang Ratu Ana, istrinya sendiri. Namun, tiba-tiba Pendekar Langit Abu Arang dan Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur yang masih dalam dekapan Salahuddin, sadar.

“Di mana ini?” tanya Pendekar Langit Abu Arang.

Mendengar suara Pendekar Langit Abu Arang, Salahuddin baru sadar, kalau itu bukan suara Danang, Sayidin Panotogomo, tetapi suara Pendekar Langit Abu Arang. Salahuddin pun juga baru tahu, kalau Danang, Sayidin Panotogomo sudah terlepas dari gendongannya, karena dia merasa punggungnya tidak terasa ada yang digendong. Mengetahui hal itu, lalu saat melihat ke bawah Danang sedang jatuh, bahkan akan diserang oleh seseorang, Salahuddin pun lalu secepat kilat meluncur ke bawah.

Akan tetapi, Salahuddin tidak langsung menuju posisi Danang, Sayidin Panotogomo, melainkan langsung menyerang sosok penyerang Danang, Sayidin Panotogomo. Pada saat jarak Salahuddin sudah agak dekat dengan Ratu Ana, yang masih di bawah posisi Danang, Sayidin Panotogomo, Pendekar Langit Abu Arang, tahu kalau yang akan diserang Salahuddin adalah Ratu Ana.

“Salahuddin tahan!” seru Pendekar Langit Abu Arang.
Ratu Ana kaget, mendengar suara yang dikenalnya, sebagai suara Pendekar Langit Abu Arang, yang pernah minta perlindungan di istana Kerajaan Madiun, dari ancaman serangan Danang, Sayidin Panotogomo dulu. Namun, Ratu Ana sudah tidak dapat lagi mengubah sasaran pedangnya yang sudah mengarah ke benda yang dianggapnya berbahaya. Sementara Salahuddin terkejut, mendengar peringatan dari Pendekar Langit Abu Arang.

Dia tidak menyangka kalau Pendekar Langit Abu Arang minta dia menahan serangannya kepada orang yang akan menyerang Danang, Sayidin Panotogomo. Namun, dengan kesaktian ajian Seribu Bulan yang dimilikinya, pemberian Pendekar Langit Abu Arang, Salahuddin lalu mendorong pedang Ratu Ana dengan salah satu kakinya. Sementara tangan kirinya dengan sigap menggapai tubuh Danang, Sayidin Panotogomo. Kontan di udara terjadi pemandangan yang menakjubkan.

Ratu Ana terkejut ada orang yang memiliki kesaktian begitu tinggi, sampai mampu berdiri hanya dengan satu kaki di atas pedangnya yang sedang terhunus tanpa terluka. Sementara Pendekar Langit Abu Arang, yang sudah melihat jelas bahwa yang akan diserang Salahuddin adalah Ratu Ana, lalu berseru, “Ratu Ana. Tahan serangan!”

Ratu Ana yang tidak mampu menggerakkan pedangnya, karena diinjak Salahuddin. Untuk sesaat Ratu Ana sempat memandang penyerangnya yang tampak gagah. Namun, itu hanya dapat dilakukannya sebentar saja, karena dia bahkan lalu harus terpaksa menahan beban berat Salahuddin, Pendekar Langit Abu Arang, Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur, serta Danang, Sayidin Panotogomo yang berdiri di pedangnya. Akibatnya tubuh Ratu Ana pun turun ke bawah.

Salahuddin pun, terpana, memandang wajah penyerang Danang, Sayidin Panotogomo itu, ternyata seorang ratu, yang cantik. Salahuddin sampai lupa untuk melepaskan kakinya dari pedang Ratu Ana. Akibatnya mereka semua meluncur turun dari udara, dengan posisi Ratu Ana yang tertekan, karena harus menanggung beban Salahuddin, Danang Sayidin Panotogomo, Pendekar Langit Abu Arang dan Pangeran Hafiz Bagus Tinukur.

Pendekar Langit Abu Arang sambil meluncur turun berseru lagi. “Salahuddin! Itu Ratu Ana. Bukan musuh kita. Hentikan aksimu!”

“Salahuddin! Ratu Ana itu, Ratu Kerajaan Madiun, istri Paduka Raja Danang, Sayidin Panotogomo. Jangan serang beliau!” Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur yang baru mengetahui situasi dan kondisi yang terjadi, memberitahu identitas Ratu Ana, yang sedang diserang Salahuddin. Salahuddin pun terkejut mendengar perkataan Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur itu. Dia pun berusaha untuk menekan sedikit pedang tajam Ratu Ana yang terhunus itu, untuk tumpuan geraknya ke atas, untuk menghilangkan tekanan beban berat pada pedang yang masih dipegang Ratu Ana.

Salahuddin berharap dengan tidak ada lagi tekanan mereka pada pedang Ratu Ana, Ratu Ana dapat mengendalikan tubuhnya yang sudah mulai meluncur turun. Namun, usaha Salahuddin terlambat.

Tubuh Ratu Ana justru meluncur lebih cepat ke bawah, bagai terkulai, karena mendapat tekanan terakhir saat Salahuddin menjadikan pedangnya sebagai tumpuan untuk bergerak ke atas.
Melihat kondisi Ratu Ana, yang semakin mengkhawatirkan itu, Pendekar Langit Abu Arang pun kembali berseru, “Salahuddin, selamatkan Ratu Ana!”

Dengan sigap, Salahuddin meluncur turun berusaha mendekati tubuh Ratu Ana.

Akan tetapi, Salahuddin baru teringat bahwa kedua tangannya telah mendekap Tiga Pendekar Langit, Danang, Sayidin Panotogomo, Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur dan Abu Arang.

‘Astagfirullah. Bagaimana ini? Ratu ini adalah istri Paduka Raja Danang, yang harus kuselamatkan dari bahaya jatuh dari udara ke hutan, tetapi kedua tanganku tidak dapat menjangkau beliau. Apa akal?’ pikir Salahuddin.

Tiba-tiba Salahuddin mengapit tubuh Pendekar Langit Abu Arang dan Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur dari dekapannya dengan tangan kanannya, ke bagian depan tubuhnya. Sementara tangan kirinya yang masih mendekap Raja Danang, Sayidin Panotogomo. Lalu Salahuddin pun meluncur ke arah tubuh Ratu Ana yang masih meluncur ke bawah.

Salahuddin mencoba mengarahkan punggungnya sehingga Ratu Ana dapat dijangkaunya dengan tangan kirinya yang masih memegang Raja Danang, Sayidin Panotogomo, suami Ratu Ana. Ratu Ana merasa tidak dapat berbuat banyak, ketika tiba-tiba punggungnya sudah berada di punggung Salahuddin. Salahuddin bahkan menaruh tubuh Raja Danang, Sayidin Panotogomo, yang masih pingsan di atas badan Ratu Ana.

“Paduka …,” desis Ratu Ana, saat mengetahui Raja Danang, Sayidin Panotogomo diletakkan di atas badannya oleh Salahuddin.
Mendengar suara Ratu Ana, terlebih aroma harum semerbak dari Ratu Madiun, istrinya yang cantik itu, Danang, Sayidin Panotogomo pun tersadar.

“Di mana ini?” tanya Danang, Sayidin Panotogomo.

“Paduka sedang bersama istrimu, Ratu Madiun, Paduka,” bisik Ratu Ana.

“Salahuddin, mana?” tanya Danang, Sayidin Panotogomo. Bukannya senang bersama Ratu Ana, tetapi dia justru memikirkan Salahuddin.

“Salahuddin itu, siapa, Kanda?”

“Salahuddin …,” belum selesai Danang, Sayidin Panotogomo menjelaskan, dia sudah pingsan lagi.

Mengetahui hal itu, Ratu Ana pun mencoba memeluk Danang, Sayidin Panotogomo dengan tangan kirinya.

Sementara Salahuddin yang mencoba terbang melintasi hutan di kaki Gunung Wilis yang terbakar itu, dari jauh tampak olehnya sebuah bangunan yang di depannya terdapat sebuah lapangan yang luas. Dia pun meluncur ke arah bangunan itu. Salahuddin tidak tahu kalau yang dilihatnya adalah istana Kerajaan Madiun dan alun-alunnya.

Sementara Jalal dan Tanjung yang masih meluncur di darat sambil memanggul Perahu Surya yang dinaiki Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi, belum dapat berhenti, walaupun sudah berada di tanah lapang. Mereka tidak sadar kalau tanah lapang itu adalah alun-alun di depan istana Kerajaan Madiun. Para prajurit istana Kerajaan Madiun yang dalam kondisi siaga satu, melihat adanya benda dari jauh meluncur ke alun-alun di depan istana, langsung menghambur keluar benteng dan memasang pagar betis di alun-alun bersiap menyerang benda yang meluncur di alun-alun. Jalal dan Tanjung, yang membawa Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi pun, akan diserang prajurit Kerajaan Madiun dengan tombak.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 291125

Views: 22

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *