Oleh: Amir Kumadin
Membaca judul di atas mungkin Anda langsung mengerutkan dahi. Tidak berhenti di situ, judul tulisan itu mungkin juga, akan bikin penasaran Anda, atau bahkan bikin muak perasaan Anda. Dan berbisik lirih, hari gene masih ngomongin filsafat dan tasawuf yang rumit-rumit, berbelit-belit dan yang sulit-sulit itu….?!
Tapi sadarlah, bahwa itu bagian dari ujian hidup. Karena hanya dengan ujian berupa masalah, tantangan, dan rintangan (yang rumit, berbelit dan sulit), yang menerpa Anda itu, Anda bisa menjadi apa yang Anda inginkan.
Untuk menjelaskan judul dan tema dalam tulisan ini, saya terpaksa mengajak Anda untuk berfilsafat. Karena hadits-hadits Nabi saw banyak yang bermakna bukan saja filosofis, tetapi juga memiliki makna-makna spiritual yang berlapis-lapis dan begitu dalam. Makna spiritual yang bertingkat-tingkat dan begitu tinggi, yang tidak terjangkau oleh logika dan bahasa verbalisme.
Meskipun demikian, Anda tidak perlu takut apalagi fobia terhadap filsafat. Karena filsafat yang sebenarnya itu, bukan untuk mempersulit suatu persoalan, tetapi justru malah untuk mempermudah suatu persoalan tersebut. Dan tahukah Anda, bahwa filsafat yang sebenarnya adalah cinta kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan yang sebenarnya adalah cinta Tuhan. Karenanya, cinta Tuhan adalah filsafat yang sebenarnya…?! Sehingga, kalau ada filsafat yang mempersulit persoalan dan mengotak-atik (mempermainkan) Tuhan, maka pasti itu bukan filsafat, tetapi ilmu antah-brantah sebagai manifestasi kedunguan manusia.
Mari kita mulai mencerna yang nampak rumit, berbelit, dan sulit itu menjadi serenyah mengunyah kacang atom made in Garuda Food.
Nabi saw bersabda:
“Tidak termasuk orang yang beriman (dengan kuat/sempurna) diantara kalian, sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri”, (Muttafaqun ‘Alaih).
Saat dimana seseorang dalam proses mencintai saudaranya atau orang lain, maka *”ego dirinya”* cenderung menjadi penghalang di tengah-tengahnya di antara dia yang mencintai dan orang yang dicintainya.
Sedangkan seseorang bisa disebut mencintai saudaranya atau orang lain, jika dia mencintai tanpa suatu campur tangan dari ego dirinya. Dalam arti operasional, suatu tindakan yang mendahulukan atau mengutamakan kepentingan (keinginan dan kehendak) orang atau sesuatu yang dicintainya daripada kepentingan (keinginan dan kehendak) dirinya sendiri. Itulah cinta…!!!
Sebelum membeberkan lebih lanjut, saya mau nanya pada Anda, “Apa yang dimaksud dengan *”mencintai dirinya sendiri”* dalam hadits di atas?”
Jika Anda belum bisa menjawab pertanyaan tersebut, maka mustahil Anda bisa mencintai diri Anda sendiri.
Yang dimaksud *”mencintai dirinya sendiri”* dalam hadits di atas adalah *”mencintai saudaranya”*. Kata *”saudara”* dalam hadits di atas bisa berarti general dan universal, yakni *”sesuatu yang berada di luar dirinya sendiri”*.
Kok bisa? Karena untuk bisa mencintai dirinya sendiri, syaratnya, kuncinya, adalah dengan mencintai orang lain (mencintai sesuatu yang berada di luar dirinya sendiri) terlebih dahulu.
Apa artinya? Artinya, saat dimana Anda mencintai orang lain, maka pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang mencintai diri Anda sendiri. Atau, cintailah diri Anda sendiri *”DENGAN”* cara mencintai orang lain terlebih dahulu. Atau, Anda tidak pernah sampai (mustahil) untuk bisa mencintai diri Anda sendiri sebelum Anda mencintai orang lain atau sesuatu yang ada di luar diri Anda terlebih dahulu.
Dengan begitu, *”mencintai saudaranya”* yang seperti itu *”EKUIVALEN”* (sama) dengan *”mencintai dirinya sendiri”*.
Itulah yang dimaksud “mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri” dalam hadits di atas.
Mencintai diri sendiri dalam arti biologis (fisik) dan yang sangat pribadi sekalipun syaratnya juga, Anda harus mengikis habis segala bentuk egoisme yang ada dalam diri Anda.
Contoh, saat dimana Anda ingin sehat, maka Anda wajib melakukan pola hidup sehat, seperti mengatur pola makan, olah raga, jalan kaki, dst.
Saat dimana Anda ingin sembuh dari sakit/penyakitnya, maka Anda wajib minum obat, makan makanan yang bergizi, berpikir positif, dst.
Bukankah untuk melakukan pola hidup sehat, olah raga, minum obat, dll itu sendiri merupakan manifestasi dari perjuangan untuk mengikis habis segala bentuk egoisme yang ada dalam diri Anda? Dan pada saat yang sama, melakukan pola hidup sehat, olah raga, minum obat dll itu, merupakan manifestasi dari mencintai tubuh Anda sendiri alias mencintai diri Anda sendiri.
Singkat kata, Anda bisa disebut mencintai sesuatu yang ada di luar diri Anda, baik saudara, atau orang lain, atau alam semesta, atau Allooh dan Rosul-Nya, *”if and only if”* (kalau dan hanya kalau), Anda sudah meninggalkan menegasikan, dan mengikis habis segala bentuk egoisme yang bersarang dalam diri Anda demi untuk mentaati, mematuhi, dan mengikuti *(tunduk tanpa syarat/sami’naa wa atho’naa)* pada keinginan dan kehendak sesuatu yang Anda cintai. Tanpanya, mustahil Anda bisa mencintai apapun dan siapapun, termasuk mencintai dirinya sendiri.
Meninggalkan, menegasikan, dan mengikis habis segala bentuk egoisme yang bersarang di dalam dirinya adalah *satu syarat mutlak* untuk menempuh perjalanan cinta, baik cinta pada dirinya sendiri, cinta pada orang lain, cinta pada alam semesta, maupun cinta pada Allooh dan Rosul-Nya.
Mari kita lanjutkan…!!!
Apapun yang Anda cintai, maka apa yang Anda cintai itu niscaya mencintai Anda. Itulah hukum-Nya, sunatullooh yang diberlakukan kepada manusia secara otomatis, sadar atau tidak, suka atau terpaksa. Cinta itu tidak ke mana-mana, tapi akan selalu balik kepada diri Anda sendiri.
Karena mencintai siapa dan apa saja di luar diri Anda, maka pada hakikatnya, Anda sedang mencintai diri Anda sendiri.
Sebab itu, Anda seharusnya begitu bahagia untuk tetap mencintai apa yang Anda cintai. Karena Anda tidak pernah merugi, tapi malah beruntung besar tiada henti.
Lalu Anda juga seharusnya bilang: “Aku begitu bahagia mencintai sesama dan segala sesuatu, mencintai Allooh dan Rosul-Nya. Karena aku sadar dan tahu, bahwa ketika aku sedang mencintai seperti itu, pada hakikatnya aku bukan saja sedang mencintai diriku sendiri, tapi dalam ketika yang sama, aku juga sedang menjalankan perintah-Nya, aku sedang patuh dan taat pada-Nya, dan aku sedang beribadah kepada-Nya.
Mencintai itu manifestasi *investasi* milik Anda, yang merupakan hak Anda, yang akan dan pasti diberikan oleh-Nya kepada Anda. Itu adalah wujud cinta-Nya pada Anda. Bukankah ketika Allooh Ta’aalaa mencintai Anda, itu artinya Anda sedang mencintai diri Anda sendiri? Sebaliknya, jika Dia murka pada Anda, maka itu artinya Anda sedang tidak mencintai diri Anda sendiri, Anda sedang benci pada diri Anda sendiri, dan pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang membinasakan diri Anda sendiri di dunia ini dan di akhirat kelak?
*Jadi, sekali lagi, untuk bisa mencintai diri Anda sendiri, maka tiada jalan lain menuju Roma, kecuali Anda harus mencintai orang lain, alam semesta (segala ciptaan-Nya), dan mencintai Allooh dan Rosul-Nya terlebih dahulu…!!!*
_____________________
Dalam selimut mendung dan tetesan air hujan gerimis, sulit diri ini menghentikan jari-jemari yang terus bergerak. Seakan, jari-jemari itu bilang, “Biarlah dan izinkan daku membuka tabir-tabir sunatullooh yang masih terus tersembunyi, yang luput dari pandangan dan pikiran mayoritas manusia”, Kamis 26 Rojab, 1447 H/15 Januari 2026 M. WASAKA (Warung Satu Kata), Parung Bingung, Depok-Jabar.
*phofmu/ wi/ nf/ 160126
Views: 66




















