Bulan Safar dalam Pandangan Islam

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.

 

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Secara bahasa, Safar berarti kosong atau sunyi. Di dalam Islam, tidak ada kesialan atau petaka pada bulan ini. Segala waktu bernilai baik dan ketetapan baik atau buruk datang dari Allah SWT.

 

Makna dan Sejarah

Arti nama: Rumah atau perkampungan orang Arab dulu kosong karena ditinggal pergi berperang atau bepergian.

Mitos keliru: Sebagian orang zaman jahiliah mengira Safar adalah bulan sial.

Bantahan Nabi: Rasulullah SAW meluruskan mitos ini dan bersabda bahwa tidak ada kesialan pada bulan safar.

Rasulullah SAW meluruskan tradisi dan mitos masyarakat Arab Jahiliyah yang menganggap bulan Safar sebagai bulan sial atau penuh malapetaka melalui sabda beliau yang diriwayatkan dalam Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (kesialan karena pertanda burung/benda), tidak ada hamah (burung pembawa sial), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.(HR. Bukhari dan Muslim

 

Peristiwa Bersejarah

Pernikahan suci: Rasulullah SAW menikah dengan Siti Khadijah.

Pernikahan keluarga: Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra.

Perjuangan: Terjadinya beberapa ekspedisi atau perang, seperti Perang Abwa.

 

Amalan yang Dianjurkan

Memperbanyak zikir dan doa kepada Allah SWT.

Melakukan amal saleh seperti sedekah dan salat sunnah.

Memperkuat rasa tawakal dan iman pada takdir-Nya.

 

 

 

 

 

*anwi/ wi/ nf/ 260726

Views: 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SPACE IKLAN

SPACE IKLAN