Para prajurit istana Kerajaan Madiun yang dalam kondisi siaga satu, melihat adanya benda dari jauh meluncur ke alun-alun di depan istana, langsung menghambur keluar benteng dan memasang pagar betis di alun-alun bersiap menyerang benda yang meluncur di alun-alun. Jalal dan Tanjung, yang membawa Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi pun, akan diserang prajurit Kerajaan Madiun dengan tombak. Melihat situasi yang berbahaya itu, Jalal dan Tanjung tidak segera mengerahkan ajian Bandung Bondowoso untk menyerang para prajurit yang sudah bersiap dengan tombaknya.
Akan tetapi, Jalal dan Tanjung belajar dari pengalaman saat dengan tiba-tiba menyerang benda yang bergerak naik turun tidak dikenal di udara, tetapi ternyata itu adalah Salahuddin. Oleh karena itu, mereka berdua, tidak ingin bertindak gegabah lagi untuk menyerang para prajurit yang sudah bersiap menyerang mereka. Masalah lain yang timbul adalah mereka belum dapat mengerem laju gerak sepeda beroda satu yang mereka tumpangi, karena masih berkonsentrasi untuk memanggul Perahu Surya yang dinaiki Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi.
Ki Ageng Batman yang mengetahui bahwa pasukan prajurit yang menghalangi jalan mereka adalah para prajurit dari Kerajaan Madiun, segera berteriak, “Jalal, Tanjung, berhenti!”
Akan tetapi, Jalal dan Tanjung belum juga dapat menghentikan sepeda beroda satu yang mereka naiki. Pada saat mereka sudah begitu dekat dengan pasukan prajurit bertombak yang siap menghadang mereka, tiba-tiba turun dari udara sesosok tubuh yang menghadang gerak mereka. Sosok tubuh itu bergerak begitu cepat, tahu-tahu mereka sudah menjadi lima orang yang berdiri di depan Jalal dan Tanjung.
Salahuddin, Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur, Pendekar Langit Abu Arang menghadap ke arah Jalal dan Tanjung untuk mencoba menghentikan gerak maju mereka, sedang dua orang lagi langsung memberi instruksi kepada para prajurit Kerajaan Matraman Raya. Dua orang itu adalah Ratu Ana dan suaminya Raja Danang, Sayidin Panotogomo.
“Mundur!” perintah Ratu Ana.
Melihat ratu mereka, Ratu Ana memerintahkan mundur, maka para prajurit Kerajaan Madiun itu pun langsung berbaris mundur teratur, memasuki benteng istana.
Pada saat yang sama Jalal dan Tanjung, sudah dapat berhasil menghentikan sepeda beroda satu mereka tepat di depan Salahuddin.
“Jalal dan Tanjung, apa kalian berdua baik-baik saja?” tanya Salahuddin.
“Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Salahuddin,” jawab Jajal dan Tanjung, sambil secara perlahan menurunkan Perahu Surya supaya Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi dapat turun juga.
“Alhamdulillah, Ki Ageng bersama rombongan selamat.” Salahuddin melihat Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi dapat dibawa Jalal dan Tanjung tanpa cidera.
“Alhamdulillah, Jalal dan Tanjung datang pada saat yang tepat,” kata Ki Ageng Batman.
“Paduka, Raja Danang, Ki Ageng Batman, Abu Arang, mari kita semua masuk dulu ke istana Kerajaan Madiun,” kata Ratu Ana.
Mendapat ajakan yang simpatik dari Ratu Ana tentu saja, Ki Ageng Batman dan semua orang yang diundang Ratu Ana, langsung menyambut dengan riang gembira. Apalagi mereka sudah merasa lega, terutama Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi, yang bukan saja telah selamat dari bahaya serangan Adi Seruling Sakti, bahkan juga selamat dari bahaya karena Jajal dan Tanjung akan beradu tanpa sengaja dengan Salahuddin di hutan di kaki Gunung Wilis.
+++
Sementara itu di tempat lain, Adi Seruling Sakti yang sempat pingsan, karena serangan ajian Bandung Bondowoso yang sempat menerobos serangan tenaga angin dan hawa panas Seruling Saktinya, membuatnya terjatuh dan munculnya secara tiba-tiba kilatan petir dari mendung pembawa hujan yang dikerahkan Wahyudi, begitu sadar lalu mencoba duduk bersila. Setelah merasa badannya segar kembali, Adi lalu meyadarkan Niki, ibunya yang juga pingsan dan tergeletak di dekatnya.
Namun, begitu dia melihat Panglima GaZa mendekat kearahnya, maka dia pun langsung memberikan tugas kepada Panglima GaZa.
“Panglima GaZa, pergilah ke Bukit Menoreh. Lapor kepada Ki Ning untuk membawa istriku Sumaidah ke istana. Katakan kepada Ki Ning, Raja Adi membutuhkan bantuannya,” sabda Adi Seruling Sakti.
“Siap, Paduka,” jawab Panglima Gaza, yang langsung berangkat menuju Bukit Menoreh untuk menjumpai Ki Ning.
Sementara itu, Adi lalu menggendong Niki, ibunya karena belum sadar juga. Adi pun segera terbang menuju istana Kerajaan Matraman Raya. Namun, belum lama Adi terbang, dia ingat tentang kebun singkong tempat dia bertarung dengan Wahyudi serta Jalal dan Tanjung itu, adalah kebun singkong tempat dia dulu ditahan. Adi pun kemudian turun kembali di batas luar kebun singkong itu.
Dengan segera, Adi mengerahkan ajian BuJin yang dimilikinya dan berlari mengelilingi kebun singkong itu.
“Siapapun, yang akan masuk atau keluar kebun singkong ini akan menjadi sasaran empuk para BuJin!” teriak Adi.
Tampaknya Adi sangat marah dengan kekalahannya dari Jalal dan Tanjung. Dia sampai perlu minta bantuan Ki Ning untuk berjaga-jaga, kalau harus bertemu musuh yang tangguh seperti Jalal dan Tanjung lagi. Setelah melampiaskan kemarahannya dengan mengerahkan ajian BuJin sehinga para jin itu disuruhnya menjaga kebun singkong itu, Adi pun kemudian kembali terbang sambil menggendong ibunya, menuju istana Kerajaan Matraman Raya.
“Akulah, Raja di Kerajaan Matraman Raya saat ini. Siapapun yang akan menghalangi akan berurusan denganku. Kalau tidak kubunuh, pasti kubuat celaka!” seru Adi.
+++
Sementara itu, di sebuah rumah di antara kebun singkong itu, Ustaz Bondan Kaja merasa lega setelah mendengar teriakan Adi. Karena setelah teriakan Adi habis, tidak ada lagi suara yang mendekat ke rumah di kebun singkong itu. Ustaz Bondan Kaja memang sempat mengerahkan ajian Penangkap Petir yang diperolehnya secara turun temurun dari Ki Ageng Selo. Petir yang dapat muncul dari gumpalan mendung yang didatangkan Wahyudi untuk menurunkan hujan itulah yang dikerahkan Ustaz Bondan Kaja sehingga membuat Adi pingsan karena tersambar petir.
“Kanda, Bondan Kaja. Apakah bahaya sudah pergi?” tanya Putri Raisa yang ikut khawatir, kalau saja Ustaz Bondan Kaja suaminya tidak dapat menahan serangan Adi Seruling Sakti sendirian.
“Insya Allah, sementara ini, kita selamat, Dinda,” kata Ustaz Bondan Kaja.
“Alhamdulillah. Terima kasih Ya, Allah.” Putri Raisa mengucap syukur.
“Tapi, kita semua belum dapat memastikan apakah situasi dan kondisi di luar kebun singkong ini masih aman. Untuk itu sebaiknya, kita masih harus bertahan di sini, sampai waktu yang belum dapat ditentukan, Dinda,” jelas Ustaz Bondan Kaja.
“Tidak masalah, Kanda, yang penting Bunda Biyan, Putri Anya dan pangeran Mustofa masih selamat tidak ada yang menggangu mereka,” kata Putri Raisa.
***
“Salahuddin. Ke sinilah,” pinta Danang, Sayidin Panotogomo, Raja Kerajaan Matraman Raya yang sedang terluka dan saat ini berada di istana Ratu Ana salah satu istrinya, di kerajaan Madiun.
Salahuddin yang sebetulnya adalah anak Dusmin dan Ijah, memang saat ini sudah menguasai ajian Seribu Bulan dari Pendekar Langit Abu Arang. Kesaktian Pendekar Langit Abu Arang yang juga sedang terluka itu pun sudah beralih kepada Salahuddin, bahkan Salahuddin sudah mampu melatihnya dengan sempurna saat mencoba bertempur secara tidak sengaja dengan Jajal dan Tanjung serta Ratu Ana. Adapun kekuatan ajian Bandung Bondowoso milik Danang Sayidin Panotogomo diwariskan kepada Jalal dan Tanjung, putra-putra Ki Ageng Batman dengan Mbak 00 WeIBe dan Miss Kiara. Jalal dan Tanjung dapat terbang dengan sepeda satu roda, juga sudah dipergunakan untuk bertempur melawan Adi Seruling Sakti dan pertempuran tidak sengaja dengan Salahuddin. Tak ayal lagi, Salahuddin juga Jalal dan Tanjung akan menjadi Tiga Pendekar Langit yang sesungguhnya.
“Selamatkan istriku Dewi Anya, anakku Pangeran Mustofa, Putri Raisa Ibuku, Ayahanda Bondan Kaja, serta Eyang Putri Biyan, Ibunda Wahyudi, sobatku!” perintah Danang, Sayidin Panotogomo setelah mendengar laporan Wahyudi di istana Ratu Ana.
“Siap, Raja,” jawab Salahuddin, yang didengar oleh Wahyudi, Ki Ageng Batman, Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe yang hanya dapat diam termangu, malu karena gagal menyelamatkan keluarga istana, walaupun itu atas inisiatif mereka sendiri.
Ratu Ana memandang Salahuddin dengan tajam, dia pernah mendengar kekuatan ajian Seribu Bulan dari Pendekar Langit Abu Arang, yang juga berada di dalam istana itu, dia bahkan pernah melihat kelihaian Salahuddin yang beraksi dengan ajian itu, saat akan bertemu dengannya.
Namun, tiba-tiba Ratu Ana terkejut, mendengar sabda Danang, Sayidin Panotogomo, Raja Kerajaan Matraman Raya selanjutnya.
“Salahuddin, kalau kamu berhasil menyelamatkan mereka, maka akan kuberikan hadiah Ratu Ana, salah satu istriku, untuk menjadi pendamping hidupmu!” sabda Danang, Sayidin Panotogomo, Raja Kerajaan Matraman Raya.
Sontak semua anggota yang hadir di dalam istana Ratu Ana terdiam. Semua terkejut dengan Sabda Raja itu
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 301125
Views: 26












