Tiga Tipikal manusia Menurut Sucrates dalam konteks bicara

Posted by : wartaidaman 09/11/2025
 
WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.

 

Socrates, sorang filsuf besar Yunani kuno, membagi manusia ke dalam tiga kelas berdasarkan isi bicaranya. Pembagian ini bukan sekadar klasifikasi intelektual, tetapi juga cermin batin yang menyingkap sejauh mana seseorang telah matang dalam berpikir .

1. adalah mereka yang berbicara tentang gagasan besar dan masa depan. Mereka ketika berkumpul, materi yang mereka bahas dan dibicarakan adalah rencana, solusi, gagasan, visi kemajuan, dan kontribusi bagi kemanusiaan hingga alam semesta. Mereka tidak terjebak pada hal-hal remeh, karena pikirannya melampaui dirinya sendiri. Golongan ini adalah para pembangun peradaban, mereka yang dengan pikiran dan ucapannya menyalakan obor harapan bagi dunia.

2. adalah orang-orang yang sibuk membicarakan masa lalu. Mereka lebih banyak menoleh ke belakang, pada kenangan, kisah, dan sejarah. Tidak salah memang,sejarah adalah guru kehidupan, namun bila seseorang hanya terhanyut di dalamnya tanpa menjadikannya bahan pelajaran untuk melangkah ke depan, maka ia akan berhenti di tempat yang sama, sementara dunia terus berjalan meninggalkannya.

3. yang paling rendah, adalah mereka yang ketika berbicara hanya membahas keburukan orang lain. Hidupnya dihabiskan dalam ruang gosip dan prasangka. Mereka menggunjing, menambah-nambahi cerita, dan menebar keburukan yang bahkan bukan urusan mereka. Socrates menyebut mereka sebagai golongan yang kehilangan martabat akal dan moral.

Imam al-Ghazali dalam ktab Ihya’ Ulumuddin. Lisan adalah pena hati. Bila pena itu menulis kebaikan, maka hati sedang hidup. Tapi bila ia menulis keburukan, maka hati sedang sakit. Betapa dalam maknanya. Al-Ghazali ingin mengingatkan bahwa cara kita berbicara bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan barometer spiritual.

Dalam konteks kehidupan modern, terutama di era digital, tiga level manusia dalam bicara ini bisa kita lihat nyata setiap hari. Media sosial kita menjadi laboratorium terbuka, ada yang menggunakan lisannya (atau jarinya) untuk menyebar ide, ilmu, dan inspirasi. Mereka inilah kelas pertama. Adapula yang sibuk mengenang masa lalu, dan ada pula yang menjadikan platformnya sebagai tempat menggunjing, mencaci, atau menyebar kebencian, golongan mereka inilah yang masuk ketegori kelas ketiga.

Nilai Islam juga menegaskan pentingnya tathhīr al-lisān (penyucian lisan). Terdapat Surah Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

 Tiada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada malaikat pengawas yang selalu hadir.

Kini, saat dunia kita semakin bising dengan berita palsu, ujaran kebencian, dan obrolan tak bermakna, mungkin sudah saatnya kita mengambil waktu untuk diam dan merenung. Mungkin sudah saatnya kita bertanya, Saya berada di kelas yang mana dalam bicara ?

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

 Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini seolah menjadi kaidah emas dalam etika berbicara. Dalam pandangan Islam, kualitas iman seseorang tercermin dari kualitas lisannya. Lisan merupakan cerminan hati. Bila hati bersih, maka kata-kata yang keluar pun akan jernih. Bila hati keruh, maka ucapannya pun menjadi racun yang menyesakkan orang lain.

Muga bermanfaat.

 

 

 

 

 

*anwi/ wi/ nf/ 091125

Views: 42

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *