
WARTA IDAMAN

JAKARTA – Sejarah Rapat Raksasa IKADA pada 19 September 1945 sering kali hanya direduksi menjadi panggung para elit republik seperti Soekarno, Hatta, atau Sukarni. Namun, di balik narasi besar itu, terdapat ratusan ribu rakyat Betawi yang menjadi massa terbesar dalam show of force pertama Republik Indonesia. Mereka datang dari berbagai pelosok kampung, menuntut kepastian arah kemerdekaan yang baru diproklamasikan sebulan sebelumnya, tanpa gentar melihat tentara Jepang bersenjata lengkap di sekeliling Lapangan Ikada (kini Monas).
Sayangnya, kontribusi masif kaum Betawi nyaris terhapus dari literatur sejarah mainstream. Baru setelah era Reformasi, nama-nama penggagas seperti Tan Malaka mulai tersingkap. Kini, melalui tulisan reflektif Azis Khafia, urgensi untuk mengembalikan memori kolektif tentang kiprah kebangsaan kaum Betawi kembali digaungkan. Langkah penghormatan ini sebenarnya pernah diupayakan pada 2018 lewat gelaran kolosal oleh Gubernur Anies Baswedan bersama Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), yang menghadirkan 3.000 pesilat dan puluhan pereka ulang sejarah. Namun, upaya penulisan sejarah yang lebih inklusif masih perlu dilanjutkan secara berkelanjutan.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
- Tips Tetap Istiqamah: Cara Menjaga Konsistensi Hijrah Sehari-hari
Letkol Moefreni Moe’min: Tameng Hidup Bung Karno dan Calon Pahlawan Nasional
Di tengah lautan massa Betawi, muncul satu nama yang pantas mendapat tempat utama dalam catatan sejarah: Letkol Moefreni Moe’min. Putra Betawi kelahiran Rangkasbitung ini merupakan orang kedua di Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta setelah Kasman Singodimejo, sekaligus tameng hidup Presiden Soekarno selama peristiwa bersejarah tersebut.
Heroisme Moefreni tak main-main. Berpakaian sipil berupa jas, ia mengantongi empat granat nanas dan dua pistol—siap meledakkan granat jika tentara Jepang bertindak membahayakan Bung Karno. Ia mengawal sang Proklamator sejak dijemput di mobil, berjalan ke podium untuk pidato singkat, hingga kembali aman ke kendaraan. “Kita utang budi pada mereka yang hadir, terutama Moefreni,” tulis Azis Khafia, mengingatkan bahwa tanpa peran tokoh ini, Rapat Raksasa IKADA mungkin tak akan pernah terjadi.
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
- Presiden: Tekan Beban Jemaah Haji, Tata Kelola Keuangan Haji Diaudit
Views: 33






















