Baca Juga di WARTA IDAMAN (6)
- Krisis Kelistrikan Kalsel: Di Tengah Kabut Asap dan Air Macet, Janji Pemulihan PLN September 2026 Ditagih
- DPW Partai Ummat Kalsel & DPD Banjarbaru Menyampaikan Duka Cita Mendalam atas Wafatnya Mantan Gubernur H. Rudy Ariffin
- BREAKING NEWS: Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun
- “Gema Sholawat Bersama Haddad Alwi”, Perwakilan Pengurus DPD Partai Ummat Banjarbaru hadir
- DEKLARASI AKBAR PERANG MELAWAN NARKOBA, KALTENG TEGASKAN KOMITMEN BERSAMA WUJUDKAN BUMI TAMBUN BUNGAI BERSINAR
- Rakerwil I DPW HARAKAH BAKOMUBIN Kalimantan Selatan Rumuskan Program Strategis Penguatan Dakwah dan Pemberdayaan Umat
Peristiwa ini memiliki empat makna fundamental yang tak boleh dilupakan:
- Pertemuan Perdana Pemimpin-Rakyat: Momen pertama Soekarno-Hatta bertatap muka langsung dengan ratusan ribu warga, menjembatani kesenjangan antara elit proklamasi dan massa rakyat.
- Perwujudan Kewibawaan Pemerintah: Membuktikan bahwa republik muda mampu menggerakkan massa dan menunjukkan otoritasnya di hadapan tentara pendudukan.
- Penegasan Kedaulatan: Menunjukkan kepada dunia dan tentara asing bahwa rakyat Indonesia berdiri tegak mendukung kemerdekaannya.
- Solidaritas Tanpa Batas: Memperlihatkan tekad bulat pemuda, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat—terutama kaum Betawi—untuk membela kemerdekaan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (7)
- KLN FC GELAR GRAND LAUNCHING MUSIM 2026/2027 DI MALL ARTHA GADING
- Danrem 072/Pamungkas Hadiri Perayaan HUT ke-119 Hoo Hap Hwee Yogyakarta
- ADAM MUSTHOFA: Pemuda Langit
- SHANDY DAN EMPAT KALI PERJUSA YANG BELUM PERNAH TAMAT
- SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Perang Kediri_
- SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ramai-Ramai Menuju Kediri_
Seperti kutipan pidato Bung Karno hari itu: “Kita sudah memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia… Tunduklah pada rancangan kami. Tenang, tenteram, tetapi tetap siap sedia menerima perintah yang kami berikan.” Pesan itu hanya bisa disampaikan karena ada ratusan ribu rakyat Betawi yang menjadi perisai kewibawaan republik.
IKADA 1945 adalah bukti nyata bahwa kemerdekaan bukan hadiah elite, melainkan buah perjuangan rakyat kecil. Kaum Betawi dan pemimpinnya seperti Moefreni Moe’min tidak boleh lagi menjadi footnote dalam sejarah bangsa. Mereka adalah tulang punggung yang menahan beban berat lahirnya sebuah negara merdeka. Menggali kembali jejak heroik mereka bukan sekadar nostalgia, melainkan kewajiban moral agar ikatan kebangsaan tetap utuh dan sejarah ditulis dengan adil.
*****
Baca Juga di WARTA IDAMAN (8)
- Salat Istisqa Digelar di Alun-Alun Kabupaten Bogor, Tak Lama Kemudian Hujan Turun Deras
- PB Al Washliyah akan Dirikan Sekolah Sepak Bola: Bentuk SSB Bunker Al Washliyah Soccer School
- Hadir di myBCA, LAZNAS Dewan Dakwah Mudahkan Umat Tunaikan ZIS untuk Dakwah Pedalaman
- Bawaslu DKI Jakarta dan LPSK RI Perkuat Kolaborasi Demokrasi dan Nomokrasi
- SAJID Audiensi dengan KPI, Soroti Disrupsi AI dan Dorong Percepatan Revisi UU Penyiaran
- TURNAMEN CATUR KAHMI CIPTAKAN DEMONG PENGGANTI ISTILAH MAKAN BUAH CATUR
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

*anwi/ wi/ nf/ 180926
Views: 4



















