WARTA IDAMAN

JAKARTA – Pengurus Besar Komunitas Aktivis Muda Indonesia (PB KAMI) mendesak Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk segera mencopot Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Syahmudrian Lubis. Tekanan ini muncul seiring belum adanya tindakan tegas dari manajemen puncak Ancol terkait kasus promosi minuman beralkohol bermerek Newport yang melibatkan unsur religi dalam gelaran The Sounds Project Vol. 9 di Ecopark Ancol, awal Agustus lalu.
Ketua Umum PB KAMI, Sultoni, menilai ketiadaan pengunduran diri atau sanksi administratif terhadap Dirut Ancol menunjukkan lemahnya akuntabilitas pemimpin BUMD. Menurutnya, tanggung jawab moral atas kegagalan pengawasan di kawasan publik tidak dapat dialihkan sepenuhnya kepada Event Organizer (EO) atau pihak sponsor semata.
“Dirut PT Pembangunan Jaya Ancol harus bertanggung jawab secara moral. Kalau memang tidak mampu memastikan pengawasan terhadap kegiatan dan tenant atau booth yang berada di kawasan Ancol, lebih baik dicopot atau mengundurkan diri,” tegas Sultoni dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
- Tips Tetap Istiqamah: Cara Menjaga Konsistensi Hijrah Sehari-hari
- Menuju Versi Terbaik Diri: Mengenal Ciri-Ciri Hijrah Sehari-hari yang Sering Tak Disadari
- Mengubah Lelah Menjadi Lillah: Belajar Ikhlas dari Pak Rahmat
Kronologi Kasus: Tantangan Hafalan Surah Demi Minuman Keras
Kasus ini bermula pada hari terakhir festival musik The Sounds Project Vol. 9, Minggu (9/8/2026). Sebuah video viral di media sosial menampilkan seorang pengunjung diminta menghafalkan dan membacakan Surah Ad-Dhuha di sebuah booth sponsor Newport sebagai bagian dari tantangan untuk mendapatkan produk minuman beralkohol. Video tersebut memicu kontroversi luas karena dianggap melecehkan simbol agama demi kepentingan komersial.
Meskipun pihak penyelenggara The Sounds Project mengecam kejadian itu dan menyebutnya bukan bagian dari konsep acara, serta Newport melalui Direktur Handoko Sasongko telah meminta maaf pada 11 Agustus 2026 dengan alasan aktivitas tersebut dilakukan spontan oleh pengunjung, PB KAMI tetap menganggap hal ini sebagai bukti kelalaian sistemik.
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
- Presiden: Tekan Beban Jemaah Haji, Tata Kelola Keuangan Haji Diaudit
- Dongkrak UMKM Lokal, Expo di Madiun Catat Transaksi Rp5,7 Miliar dan MoU Ekspor ke Arab Saudi
- IGIC 2026 Pilih Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI dan Hasilkan Jakarta Understanding
- Kemenhaj Dalami Dugaan Jual Beli Porsi Haji di Jawa Timur, Enam Pelimpahan Terindikasi Bermasalah

Views: 18




















