
WARTA IDAMAN

KUALA LUMPUR, 3 September 2026 — Lebih dari 120 mahasiswa Professional Mutawwif Development International University College (PMDUC), Malaysia, memenuhi aula kampus untuk mengikuti program International Community Service Fakultas Falsafah dan Peradaban (FFP) Universitas Paramadina. Bukan sekadar kegiatan pengabdian kepada masyarakat, program bertajuk “Interdisciplinary Perspectives in Communication, International Relations & Psychology” ini menghadirkan perspektif lintas disiplin untuk mempersiapkan generasi baru mutawwif menghadapi jamaah dalam lingkungan global yang semakin kompleks.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa calon mutawwif tidak hanya diajak memahami pentingnya pelayanan ibadah, tetapi juga belajar mengenai komunikasi empatik, adaptasi lintas budaya, dinamika hubungan antarnegara, kesehatan mental, pengelolaan emosi, hingga strategi menghadapi stres. Program ini menjadi bagian dari langkah FFP Universitas Paramadina dalam memperluas pengalaman internasional mahasiswa sekaligus menghadirkan kontribusi akademik yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan profesi dan masyarakat.

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Abdullah bin Salam: Jangan Takut Mengubah Pandangan Setelah Menemukan Kebenaran
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
Dekan FFP Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, mengatakan kegiatan ini memiliki keunikan karena mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam satu program pengabdian internasional. Menurutnya Keunikan kegiatan ini terletak pada penguatan kolaborasi lintas program studi dan lintas negara. Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Psikologi, dan Ilmu Agama dipertemukan dalam satu misi pengabdian. Seorang mutawwif memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan jamaah dari berbagai latar belakang budaya dan negara. Karena itu, kompetensi seorang mutawwif tidak cukup hanya menguasai aspek teknis penyelenggaraan ibadah. Mereka juga membutuhkan kemampuan memahami perbedaan budaya, berkomunikasi secara empatik, mengelola emosi, serta menjaga kualitas pelayanan ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- Budayantara Berbagi untuk Kemanusiaan, Merawat Persaudaraan Indonesia–Palestina dari Sekolah
- Dr. Mukhtadi Menggagas Persatuan Umat Islam Dunia, Indonesia Diusulkan Jadi Pusat Ukhuwah Islamiyah Internasional
- Waqf Site Visit dan PKM Internasional BWI Dorong Inovasi Wakaf Produktif
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
Mutawwif sebagai Duta di Tengah Keragaman Budaya
Perspektif Hubungan Internasional menjadi salah satu bagian penting dalam program ini. Para calon mutawwif diajak melihat bahwa ketika mendampingi jamaah di luar negeri, mereka pada dasarnya juga membawa identitas dan citra negaranya. Dalam konteks tersebut, mutawwif dapat dipandang sebagai duta yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dan budaya yang berbeda. Kemampuan adaptasi lintas budaya menjadi penting agar interaksi dengan jamaah maupun masyarakat setempat dapat berlangsung secara efektif, penuh penghargaan, dan sensitif terhadap perbedaan.
Sementara itu, perspektif Ilmu Komunikasi menempatkan komunikasi empatik sebagai salah satu kunci utama pelayanan. Komunikasi yang baik bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan, membaca situasi, memahami kebutuhan jamaah, menempatkan diri sesuai konteks, dan memilih kata-kata yang menunjukkan penghargaan terhadap orang lain. Dengan demikian, pelayanan kepada jamaah tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi berkembang menjadi kemampuan membangun rasa aman, nyaman, dan percaya.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Azis Khafia: Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kaoem Betawi Jakarta
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
Gen Z, Media Digital, dan Kesiapan Mental Calon Mutawwif
Tantangan lain yang diangkat dalam kegiatan ini adalah karakter generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan digital. Mahasiswa calon mutawwif yang sebagian besar merupakan bagian dari Generasi Z menghadapi paparan media digital yang sangat intens. Penggunaan media sosial dan internet yang tidak sehat dapat memengaruhi aspek fisik, psikologis, maupun sosial, termasuk munculnya fear of missing out (FOMO) dan kecenderungan penggunaan internet secara berlebihan.
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Danrem 072/Pamungkas Ajak Mahasiswa Pesantren Perkuat Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
- Jawaban Lengkap Menhaj soal Pengangkatan Tenaga Ahli dan Awal Pembentukan Kemenhaj
- Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan Jajaki Museum Haji Indonesia, Lestarikan Jejak Sejarah Bangsa
- Hadiri Istighosah Kebangsaan Hari Santri 2026, KH Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup untuk Menjaga Persatuan Bangsa
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ketum PB Al Washliyah Sampaikan 4 Pesan
- Kapolda Gorontalo Beri Penghargaan kepada 26 Personel Berprestasi dalam Penindakan Tambang Ilegal
Views: 52



















