Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Azis Khafia: Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kaoem Betawi Jakarta
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
Menurut Charles Tilly, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh jumlah tentara dan senjata, tetapi oleh kemampuan mengorganisasi kekerasan, menguasai sumber daya, serta mempertahankan loyalitas masyarakat dan elite. Karena itu, kelompok yang lebih kecil dapat mengalahkan negara jika pemerintah kehilangan kemampuan menggunakan sumber dayanya.
Retakan pada struktur kekuasaan biasanya terbentuk jauh sebelum keruntuhan terlihat. Selama aparat masih loyal, elite masih percaya, dan masyarakat masih menganggap negara mampu bertahan, struktur tersebut terlihat kokoh. Begitu daya ikatnya hilang, perubahan dapat berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan.

Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Danrem 072/Pamungkas Ajak Mahasiswa Pesantren Perkuat Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
- Jawaban Lengkap Menhaj soal Pengangkatan Tenaga Ahli dan Awal Pembentukan Kemenhaj
- Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan Jajaki Museum Haji Indonesia, Lestarikan Jejak Sejarah Bangsa
- Hadiri Istighosah Kebangsaan Hari Santri 2026, KH Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup untuk Menjaga Persatuan Bangsa
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ketum PB Al Washliyah Sampaikan 4 Pesan
- Kapolda Gorontalo Beri Penghargaan kepada 26 Personel Berprestasi dalam Penindakan Tambang Ilegal
Kemenangan Taliban, HTS dan Houthi tidak muncul spontan, melainkan dibangun melalui organisasi yang rapi dan solid, struktur komando, pengalaman perang, jaringan sosial, basis teritorial, dan kemampuan membaca kelemahan lawan. Negara dapat memiliki sumber daya jauh lebih besar, tetapi kehilangan keunggulan apabila tidak mampu mengubah sumber daya tersebut menjadi kekuatan yang efektif.
Karena itu, kemenangan kilat Taliban, HTS dan Houthi sesungguhnya merupakan kemenangan panjang yang baru terlihat pada tahap akhirnya. Pelajarannya, kekuatan dalam perang asimetris tidak selalu ditentukan oleh pasukan dan persenjataan, tetapi oleh kemampuan memanfaatkan momentum, dan kelemahan lawan.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 9



















