
WARTA IDAMAN

Dr. DARYONO, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI)
Banyaknya kecelakaan laut yg terjadi belakangan ini, terutama yg merenggut korban jiwa, mnjadi teguran keras bagi seluruh pemangku kepentingan pelayaran. Setelah diwarnai rentetan kecelakaan laut yang menelan bnyk korban jiwa, hari ini kita kembali menerima kabar duka atas hilangnya kontak Kapal Virgo Transport 8 yg mengangkut 243 penumpang di perairan Laut Jawa saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin.
Satu hal penting yg harus kita pahami, bhw keselamatan di laut tidak boleh diserahkan pada keberuntungan semata, melainkan harus dilandasi pemahaman sains oseanografi, meteorologi, serta regulasi baku keselamatan pelayaran. Sebelum melepas tali tambat dan mengolah gerak kapal keluar dari pelabuhan, setiap nakhoda wajib memahami dan mempersiapkan beberapa aspek mendasar terkait dinamika arus dan cuaca agar pelayaran dapat berlangsung aman hingga tiba di pelabuhan tujuan.
Analisis Dinamika Arus dan Navigasi Jalur Melintang (Crossing Zone)
Salah satu risiko terbesar dlm olah gerak kapal adalah navigasi di zona melintang (crossing zone), yaitu kondisi ketika rute pelayaran memotong arah arus laut secara tegak lurus. Hantaman arus kuat dari arah lambung (cross-current) secara signifikan dapat mengganggu stabilitas kapal, memicu koreksi haluan berlebih (drift angle), hingga berisiko membalikkan kapal jika tdk diantisipasi dgn matang. Berdasarkan regulasi, nakhoda wajib melakukan passage planning (perencanaan pelayaran) dari dermaga ke dermaga (berth to berth). Nakhoda hrs memetakan pola arus permukaan, memperhitungkan efek pasang surut (tidal stream), serta mengalkulasi leeway dan set & drift sebelum melintasi wilayah perairan berarus deras atau selat yg sempit.

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- 5 Tips Konsisten Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari agar Tetap Istiqomah
- Kajian Kitab Al-Hikam #2
- Ketum Al Washliyah: Teladani Kepemimpinan Amanah dan Keadilan Ekonomi Rasulullah
- Amal sedikit penuh kesadaran Ilahi lebih baik dari pada banyak amal dengan kesombongan diri
- Maulid Barokah Munajat kami pada MU, Yaa Allah
- Hadiah Terindah di Sepertiga Malam dan Fajar
Karakteristik Gelombang dan Dampak Keberadaan Perairan Dangkal
Pemahaman terhadap tinggi gelombang tdk boleh disamaratakan di seluruh wilayah perairan. Gelombang setinggi 2 m di Samudra Hindia yg berair dalam mungkin tergolong relatif aman bagi kapal menengah-besar krn memiliki periode gelombang yg panjang. Namun, gelombang setinggi 2 m di perairan dangkal (kedalaman 0 hingga 200 m) seperti Laut Jawa atau lintasan penyeberangan antar-pulau dpt mjd fenomena yg sangat ekstrem dan berbahaya. Perubahan kedalaman yg mendadak menyebabkan puncak gelombang mjd curam dan pecah (breaking waves), yg berpotensi menghantam lambung kapal ferry secara destruktif. Dari sudut pandang keselamatan pelayaran, nakhoda harus memahami interaksi antara tinggi gelombang, periode gelombang, serta kedalaman perairan (shoaling effect) utk menilai tingkat bahaya yg sebenarnya terhadap tipe kapal yg dinakhodai.
>>> ke Halaman 2

Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- PANDUAN SAINS DAN REGULASI CUACA SERTA ARUS LAUT BAGI NAKHODA
- Musrenbang tidak Hanya Sekadar Ritual: Menagih Hak Rakyat Miskin atas Anggaran Negara
- MENERAPKAN PANCA CINTA DALAM KURIKULUM MERDEKA
- Bulan Dana PMI: Antara Kesukarelaan dan Kewajiban
- Sekjen Al Jam’iyatul Washliyah Prof.DR.H.Saifuddin Herlambang S.Ag.,MA,: Alwashliyah Organisasi Perekat
- 100 Hari Pertama KH Abdul Hakim Mahfudz Sebagai Ketua Umum PBNU: Strategi Pembenahan Internal Organisasi dalam Perspektif Komunikasi Politik
Views: 0





















