Beranda / KOLOM / Musrenbang tidak Hanya Sekadar Ritual: Menagih Hak Rakyat Miskin atas Anggaran Negara

Musrenbang tidak Hanya Sekadar Ritual: Menagih Hak Rakyat Miskin atas Anggaran Negara

Taufiqurrahman, S.H. (Deputi BPJK DPP Partai Demokrat / Anggota DPRD DKI Jakarta 2009-2019)

JAKARTA – Selama satu dekade menjadi anggota DPRD DKI Jakarta (2009-2019), Taufiqurrahman, S.H.,dalam keterangan nya, Sabtu (12/9) menyaksikan sebuah paradoks yang menyakitkan di setiap musim Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Warga datang membawa harapan sederhana: saluran air yang tidak lagi meluap, jalan kampung yang layak, atau akses puskesmas yang terjangkau. Namun, setelah rapat usai, harapan itu sering kali menguap tanpa jejak. Tidak ada kabar apakah usulan diterima atau ditolak, siapa yang mencoretnya, dan mengapa aspirasi yang sama terus-menerus diajukan tahun demi tahun tanpa pernah masuk APBD.

Fenomena inilah yang memunculkan istilah sinis di tengah masyarakat: Musyawarah Mengambang. Bagi rakyat miskin, anggaran bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan penentu hidup dan mati. Ketika puskesmas sulit dijangkau, transportasi mahal, atau rumah kebanjiran, ketiadaan layanan publik berarti pertarungan langsung dengan kemiskinan. “Bagi keluarga sederhana, ada atau tidaknya pelayanan pemerintah bisa sangat menentukan kehidupan,” tulis Deputi BPJK DPP Partai Demokrat ini dalam refleksi mendalamnya.

“Bagi keluarga sederhana, ada atau tidaknya pelayanan pemerintah bisa sangat menentukan kehidupan.”

Krisis Partisipasi Semu

Masalah fundamental Musrenbang saat ini, menurut Taufiqurrahman, terletak pada ilusi partisipasi. Masyarakat hanya diminta datang, berbicara, lalu pulang tanpa mengetahui nasib usulannya. Pemerintah mengklaim telah melibatkan warga, namun warga tidak benar-benar ikut menentukan. Ini adalah bentuk demokrasi prosedural yang kehilangan substansi.

Rakyat miskin tidak memiliki jaringan pelobi, konsultan, atau akses langsung ke elite kebijakan seperti yang dimiliki pemilik modal. Satu-satunya saluran mereka adalah forum RT/RW dan Musrenbang. Jika saluran ini pun macet, maka suara mereka benar-benar terpinggirkan. “Musrenbang seharusnya menjadi jalan utama bagi rakyat kecil untuk mengakses APBD,” tegasnya. Tanpa mekanisme yang jelas untuk meneruskan usulan ke tingkat perencanaan pusat (APBN), Musrenbang hanyalah pesta demokrasi tahunan yang hampa.

Views: 0

Halaman: 1 2 3

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 2
  • 1
  • 113
  • 57
  • 549
  • 13,956
  • 166,800
  • 256,272
  • 151,580
  • 0
  • 4,812
  • 270