oleh: Ishak Rafick
Pagi, 20 oktober 2019. Matahari entah dimana, tapi teriknya sudah terasa menyengat di luar gedung MPR yang lengang.
Tak ada demonstran, tak ada BEM SI, tak ada Alumni Perguruan Tinggi, tak ada aktivis ProDEM, tak ada Komunitas Seni Jalanan, tak ada mahasiswa, tak ada nelayan, petani, wakil umkm. Juga tak ada emak-emak dan anak-anak SMA dan STM, yang beberapa waktu terakhir tampil sebagai rakyat yang minta didengar suaranya.
Pada 17 Oktober jelang magrib, aktivis ProDEM bersama Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (PTSI) telah mengubur 3 keranda di bawah pohon kamboja, Gedong Djoang 1945. Ketiga keranda itu diselimuti kain hitam bertulisan huruf balok putih: Reformasi, KPK, dan Oposisi. Ikut dimakamkan di situ 3 foto besar berbingkai Jkw, Lbp, Ti To. Di atas makam itu tak dipasang batu nisan, tapi ditanami pohon kaktus.
Sebelumnya mereka ingin mengubur ketiga keranda tsb di halaman istana, gedung DPR/MPR atau halaman rumah Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Mereka tak memperoleh izin tanpa alasan yang jelas. Kawasan itu malah dipagari dengan pasukan brimob dan kawat berduri sejak tengah malam. Pemandangan serupa juga terlihat di seputaran gedung wakil rakyat.
Tak heran bila Hari ini Jl. Gatot Subroto di depan gedung MPR/DPR steril dari demonstran dan spanduk protes. Toh kesan yang ditimbulkannya bukanlah kedamaian. Malah seperti benteng yang telah direbut musuh.
Pagar besi dan tembok tebal setinggi 4 meter menambah kesan sombong dan pemisahan diri dari rakyat. Ditambah kawat berduri di depan gedung menimbulkan kesan angker. Sedang wakil rakyat di dalamnya sudah pindah ke lain hati. Mereka jatuh cinta pada penyanderanya.
Tak heran bila pengamat, aktivis keadilan, dan kaum intelektual kampus bilang jokowi menang mutlak. Prabowo sebagai simbol oposisi sudah menyerah. “Seorang jendral, yang tak punya pasukan selain relawan, dikalahkan oleh orang sipil yang telah mengubah relawannya jadi pasukan tempur. Dia pun dikelilingi jendral, konglomerat dan kaum samiri si intelektual pengkhianat yang memberinya arahan kriminal,” kata Ogen mewakili Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEMSI). “Opisisi sudah punah, karena digembosi dengan berbagai cara dan sarana selama 5 tahun. Surat perintah penyelidikan (sprindik) jadi senjata penaklukan baru. Sekaligus merubah negara hukum menjadi negara kepolisian.
Menurut Ogen ini menyempurnakan hilangnya kebebasan berpikir dan berpendapat, serta kebebasan pers. Kini tinggal ampas tebu refomasi. Mewakili rekan-rekannya dia mengaku kalah. “Saudara-saudaraku sekalian di zaman kita 700 lebih petugas KPPS tewas hampir berbarengan bak keracunan dalam tugas. Pemerintah tidak peduli, dan protes rekan-rekan kita Alumni UI si Jaket Kuning, yang minta BAWASLU agar korban di otopsi, telah diabaikan.
Sedang pada 21, 22 mei 2019 para demonstran, yang protes terhadap kecurangan pemilihan presiden, telah dihadapi pasukan brimob bersenjata, sebagian tewas mengenaskan,” paparnya sedih. “Kita yang di front ini adalah benteng keadilan yang telah dikalahkan. Tapi kita tidak boleh berhenti melawan. Masi ada jutaan saudara-saudara kita setanah air asyik di kursi penonton. Padahal mereka adalah calon korban pemiskinan,” tambahnya.
Ogen yakin peristiwa reformasi 21 Mei 1998, saat kaum intelektual kampus dan rakyat jelata menguasai gedung wakil rakyat dan memaksa presiden lengser, tak bisa diulang pada oktober 2019. Sebab generasi pemberani tak lagi dilahirkan.
Semua tertunduk lesu. Di sisi lain justru ribuan pasukan polisi, brimob, tentara bermata garang menguasai setiap inci tempat-tempat penting diseluruh ibukota negara. Mereka bersenjata lengkap dengan tank, panser, water cannon, senjata-senjata pelontar gas airmata, serta alutsista penangkal serangan udara, dll – entah untuk apa. Bila dilihat sekilas pergerakan pasukan itu dilayar kaca, tentu org akan menyangka itu bukanlah di ibukota negara indonesia Jakarta, yang baru saja menyelesaikan pesta demokrasinya.
Orang akan menyangka itu bagdad Irak yang baru ditaklukkan tentara sekutu. Atau Osetia yg dikuasai (*mahdi)
*madjpu/ wi/ nf/ 220626
Views: 6



