SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Hutan di Kaki Gunung Wilis Meledak dan Terbakar_

Posted by : wartaidaman 28/11/2025

 

WARTAIDAMAN.com   

 

 

 

Salahuddin yang baru menginjakkan kakinya ke tanah karena menghindari tabrakan dengan benda yang akan meluncur dari depan menuju ke arahnya, saat dia terbang. Salahuddin yang baru saja turun di hutan di kaki Gunung Wilis di wilayah Kerajaan Madiun, itu merasa ada kekuatan besar yang akan menyerangnya.

Dia pun lalu membalikkan badan menghadap ke arah kekuatan yang akan menyerang itu, dan dengan segera mengerahkan ajian Telapak Tangan Langit dengan tangan kirinya.

Tangan kanan Salahuddin masih mendekap Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur dan Pendekar Langit yang masih pingsan.

Sedangkan Raja Danang, Sayidin Panotogomo masih dalam gendongan Salahuddin di punggungnya. Pada saat tangan kiri Salahuddin menyerang dengan ajian Telapak Tangan Langit untuk menyerang balik serangan pada dirinya, dia tidak tahu bahwa serangan itu berasal dari serangan Jalal dan Tanjung dengan ajian Bandung Bondowoso yang kekuatannya berlipat ganda, karena dikerahkan oleh dua orang sekaligus. Jika kedua ajian ini beradu, maka dapat dipastikan akan terjadi ledakan luar biasa.

Bisa jadi semua orang yang terlibat dalam pertempuran yang tidak disengaja, —karena tidak saling mengetahui lawannya itu— akan berkibat fatal bagi kedua belah pihak.

Bukan itu saja dampak buruk dari ledakan itu dapat merusak lingkungan hutan di perbukitan Gunung Wilis, Madiun.

Sesuatu yang tentu tidak diharapkan terjadi oleh kedua belah pihak. Baik Salahuddin yang sedang menggendong Danang, Sayidin Panotogomo, dan mendekap Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur, maupun Pendekar Langit Abu Arang yang masih pingsan, serta Jalal dan Tanjung, yang sedang memanggul Perahu Surya yang sedang ditumpangi Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Wahyudi, tidak mengetahui bahwa sasaran dari serangan mereka adalah teman sendiri.  

Tak pelak lagi, jika ajian Bandung Bondowoso Jalal dan Tanjung beradu dengan ajian Telapak Tangan Langit Salahuddin, akan memakan korban tokoh-tokoh luar biasa di Kerajaan Matraman Raya itu.

Namun, sebelum semua itu terjadi, tiba-tiba Wahyudi mengenali aroma ajian Telapak Tangan Langit, karena pernah bersama Danang, Sayidin Panotogomo bertempur dengan Pendekar Langit Abu Arang yang mempunyai ajian Telapak Tangan Langit itu. Kontan Wahyudi berteriak, “Jalal, Tanjung! Alihkan serangan!”

Jalal dan Tanjung, yang sudah begitu bersemangat akan menyerang makhluk aneh, yang mengganggu perjalanan mereka, terkejut mendapat perintah Wahyudi. Walaupun begitu mereka mencoba berusaha memindahkan sasaran ajian Bandung Bondowoso agak ke arah kanan. Masalah besar timbul, karena ajian Bandung Bondowoso dikerahkan Jalal dan Tanjung secara bersamaan dan sekaligus, maka sasaran Jalal yang berada di sebelah kanan masih dapat menghindari tubuh Salahuddin.

Akan tetapi, tidak demikian halnya, dengan arah serangan ajian Bandung Bondowoso dari Tanjung. Walaupun Tanjung juga mencoba ikut menggeser arah serangannya ke kanan, tetapi masih mengarah ke tangan kiri Salahuddin yang juga mengerahkan ajian Telapak Tangan Langit. Walaupun, Jalal dan Tanjung sudah mengikuti arahan Wahyudi untuk mengalihkan serangan dengan menggeser serangan ke arah kanan, tetapi serangan Tanjung masih akan beradu dengan serangan ajian Telapak Tangan Langit Salahuddin.

Bahkan serangan ajian Telapak Tangan Langit dari Salahuddin akan beradu dengan serangan ajian Bandung Bondowoso dengan kekuatan separuh tenaga, karena hanya akan beradu dengan ajian Bandung Bondowoso Tanjung. Jika hal itu terjadi, maka dapat dibayangkan Tanjung akan mendapat serangan ajian Telapak Tangan Langit sendirian. Suatu hal yang justru akan sangat berbahaya bagi keselamatan Tanjung, Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi.
Pada saat kritis itu, Raja Danang, Sayidin Panotogomo, yang masih dalam gendongan Salahuddin, juga mencium aroma tenaga ajian Bandung Bondowoso. Karena ajian Bandung Bondowoso itu pernah dimilikinya.

Kontan Danang, Sayidin Panotogomo pun berteriak, “Salahuddin, itu Jalal, Tanjung. Pindahkan serangan!”

Salahuddin yang sudah konsentrasi penuh, untuk membalas serangan lawan yang tidak diketahuinya, dengan mengerahkan ajian Telapak Tangan Langit secara penuh, terkejut mendengar peringatan Danang, Sayidin Panotogomo.

Salahuddin merasa sudah sulit mengalihkan serangan ajian Telapak Tangan Langit karena dia baru saja dapat berdiri, dan serangan hebat itu sudah sangat dekat dengan posisi mereka. Situasi pelik terjadi, karena Salahuddin masih pula mendekap Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur dan Pendekar Langit Abu Arang. Jika serangan ajian Telapak Tangan Langit dilanjutkan maka Jalal dan Tanjung bisa celaka, sementara untuk mengalihkan serangan dahsyatnya, Salahuddin merasa tidak sempat lagi.

Melihat Salahuddin belum bergerak dari posisinya, maka Danang, Sayidin Panotogomo pun berteriak,“Astagfirullah.”

Namun, seolah keajaiban terjadi pada Danang, Sayidin Panotogomo. Bersamaan dengan teriakan istigfarnya, dia merasa dirinya terbang ke langit. Dia tidak tahu kalau, pada akhirnya Salahuddin mengerahkan ajian Seribu Bulan untuk menghindari serangan ajian Bandung Bondowoso Jalal dan Tanjung. Dengan ajian Seribu Bulan, Salahuddin dapat meloncat tinggi ke udara dengan cepat, sehingga mampu menghindari beradunya ajian Telapak Tangan Langit yang dikerahkannya, dengan serangan ajian Bandung Bondowoso Tanjung.

Akan tetapi, walaupun serangan ajian Bandung Bondowoso Jalal dan Tanjung tidak mengenai tubuh Salahuddin, kekuatannya tetap menimbulkan suara keras bagai letusan gunung dan membuat hutan di kaki Gunung Wilis itu terbakar. Serangan ajian Telapak Tangan Langit Salahuddin yang tadinya ke arah Tanjung di udara pun, karena Salahuddin terbang ke langit, menjadi beralih ke darat, yang juga mengakibatkan suara keras bagai letusan gunung, serta membakar areal hutan lain di kaki Gunung Wilis.

Suara keras bagai letusan gunung itu terdengar sampai di istana Kerajaan Madiun. Hal itu membuat Ratu Ana penguasa Kerajaan Madiun terkejut, bahkan para prajurit istana kerajaan, serta penduduk setempat panik. Ratu Ana pun dengan sigap segera mengumpulkan prajurit istana.

“Kalian siaga di benteng istana. Sebagian berusahalah membuat penduduk tenang. Katakan kepada mereka, untuk tetap stay at home. Ratumu akan melihat tempat kejadian. Laksanakan!” perintah Ratu Ana.

“Siap, Paduka Ratu.” Sigap prajurit istana.

Ratu Ana pun segera melompat ke udara, sambil menghunus pedangnya. Dia menuju ke kawasan hutan yang terbakar di kaki Gunung Wilis. Setelah pernikahannya dengan Danang, Sayidin Panotogomo, karena kalah beradu kesaktian dan rayuan maut Danang, Ratu Ana belum pernah lagi mengerahkan prajurit untuk siaga di istana Kerajaan Madiun. Dia juga belum pernah lagi beradu kesaktian dengan orang lain. Namun, mendengar suara letusan keras dan asap yang membubung tingi di dua kawasan hutan di kaki Gunung Wilis itu, mau tidak mau, Ratu Ana bersiap diri untuk bertempur menggunakan pedangnya.

Sementara itu, Jalal dan Tanjung, seolah kehilangan kontrol atas arah terbang Perahu Surya, karena mereka mengalihkan sasaran serangan ajian Bandung Bondowoso. Bahkan karena daerah hutan di bawah mereka pun terbakar, maka Jalal dan Tanjung pun berusaha mencari daerah yang tidak terbakar. Namun, dengan posisi yang serba sulit untuk dapat menahan kecepatan.

Hal itu membuat pada saat mereka menemukan daerah yang tidak terbakar, mereka segera mencoba untuk mendarat darurat. Karena posisi Perahu Surya juga bagai terguncang-guncang, pada saat Jalal dan Tanjung memanggulnya, Ki Ageng Batman, Miss Kiasa dan Mbak 00 WeIBe serta Wahyudi berteriak-teriak, “Jalal! Kami mau jatuh!”
“Tanjung! Cepat berhenti!”

Akan tetapi, karena pada saat mendarat darurat Jalal dan Tanjung masih dalam kecepatan penuh, serta ajian Bandung Bondowoso yang beralih sasaran membuat mereka juga kehilangan fokus, maka Jalal dan Tanjung, walaupun tetap berusaha memanggul Perahu Surya agar posisinya tidak terbalik, yang dapat membuat Ki Ageng Batman beserta rombongan terjatuh, maka mereka berdua pun berusaha mengarahkan sepeda beroda satu yang dikendarainya untuk terus maju.

Jalal dan Tanjung khawatir, kalau mereka berdua berhenti, maka Perahu Surya yang dipanggulnya dapat terbalik. Namun, tanpa mereka sadari, arah maju mereka itu, menuju alun-alun di depan benteng istana Kerajaan Madiun, yang prajurit-prajuritnya dalam posisi siaga satu. Posisi yang siap menyerang musuh tidak dikenal, yang datang tiba-tiba.

Adapun Danang, Sayidin Panotogomo, yang dibawa terbang ke langit oleh Salahuddin yang mengerahkan ajian Seribu Bulan, terkejut melihat semua yang terjadi. Awalnya muncul rasa lega di hati Danang, Sayidin Panotogomo, karena masih selamat dari beradunya ajian Telapak Tangan Langit Salahuddin dengan ajian Bandung Bondowoso Jalal Tanjung. Namun, tiba-tiba muncul perasaan was-was di dalam hatinya, karena begitu cepat dirinya sudah berada di ketinggian.

“Salahuddin … aku takut ….” Danang berdesis, tetapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Danang, Sayidin Panotogomo pingsan saat masih di punggung Salahuddin pada posisi mereka sedang terbang tinggi di udara. Otomatis kedua tangan Danang, Sayidin Panotogomo yang berpegangan erat yang merangkul leher Salahuddin lemas. Begitu juga kedua kakinya, yang mendekap Salahuddin juga ikut lemas. Kontan saja tubuh Danang, Sayidin Panotogomo terlepas dari gendongan Salahuddin, pada saat Salahuddin masih berada tinggi di udara.

Tubuh Danang, Sayidin Panotogomo pun jatuh meluncur dari udara. Salahuddin yang masih fokus melompat ke udara, dengan mengerahkan ajain Seribu Bulan secara penuh, untuk menghindari serangan ajian Bandung Bondowoso Tanjung, terlambat menyadari situasi dan kondisi Danang, Sayidin Panotogomo yang ternyata sudah meluncur dari udara ke bawah.

Nasib buruk tampaknya akan menimpa Danang, Sayidin Panotogomo, jika sampai tubuhnya jatuh ke hutan di kaki Gunung Wilis.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 281025

Views: 22

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *