WARTAIDAMAN.com
“Ki Ageng, lambung perahu retak!” seru Miss Kiara.
“Ki Ageng, layar perahu robek!” teriak Mbak 00 WeIBe.
Ki Ageng Batman pun bingung, tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi serangan Adi Pendekar Seruling Sakti itu. Apalagi kemudian kedua istrinya menghambur ke badan Ki Ageng Batman. Kontan Ki Ageng Batman pun dipeluk Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe. Dengan sendirinya layar Perahu Surya yang tadi dalam genggaman Miss Kiara pun, menjadi tidak terkendali. Sementara tampak oleh Ki Ageng Batman, Wahyudi justru sedang duduk bersila di ujung Perahu Surya yang lain. Ki Ageng Batman, tidak tahu kalau Wahyudi sedang mengerahkan ajian Mendung Pembawa Hujan. Wahyudi sendiri masih serius untuk mendatangkan hujan dengan harapan dapat mengurangi kekuatan angin serta hawa panas yang timbul dari serangan Seruling Sakti Adi.
“Ayo, Wahyudi. Tunjukkan kehebatanmu, kepada Raja Adi. Jangan hanya duduk diam membisu!” seru Adi.
Akan tetapi, Wahyudi belum dapat juga mampu menurunkan hujan. Bisa jadi awan pembawa hujan yang ditarik Wahyudi masih di atas langit Matraman Raya. Melihat Wahyudi tidak membalas tantangannya, maka Adi pun mengancamnya.
“Baiklah, Wahyudi, karena kau tetap diam. Akan kulihat sampai di mana, kau mampu menahan serangan Seruling Saktiku. Jangan salahkan aku kalau serangan ini membunuhmu!” seru Adi, yang tetap bersamanya, Niki masih mengantungkan kedua lengannya ke punggung Adi. Sementara Panglima GaZa berada di sisi Adi. Adi dalam posisi siaga menyerang Wahyudi dan tentu saja akan membuat Ki Ageng Batman bersama Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe juga kan celaka karenanya. Ki Ageng Batman sudah pasrah dengan keadaan, jika takdir Allah, menghendaki mereka akan mengalami nasib buruk karena serangan Adi.
“Ayah, pegang Ibu kuat-kuat!” Tiba-tiba terdengar teriakan dan tanpa Ki Ageng Batman ketahui, Jalal dan Tanjung sudah berada di depan Perahu Surya, bersiap melindungi.
“Jalal, Tanjung, hati-hati!” teriak Ki Ageng Batman agak merasa lega setelah mengetahui kedua anaknya dari Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe itu datang pada saat yang tepat. Dengan kedatangan kedua pemuda yang dapat terbang dengan sepatu beroda satu, apalagi mereka berdua sudah memiliki ajian Bandung Bondowoso, Ki Ageng Batman merasa situasi genting yang dialaminya bersama Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe dan Wahyudi dapat segera diatasi.
Pada saat Adi menyerang, sasaran kesaktian Seruling Saktinya ditujukan kepada Wahyudi. Adi tidak peduli dengan kedatangan dua pemuda, yang disebut Jalal dan Tanjung, karena Adi tidak tahu kalau kedua pemuda itu telah mempunyai ajian Bandung Bondowoso dari Danang, Sayidin Panotogomo, yang pernah mengalahkannya. Lagipula Adi saat ini juga sudah mempunyai ajian BuJin yang membuat kesaktiannya semakin tinggi, sehingga Adi lalu tidak memandang mata kepada kedua pemuda yang baru datang. Dengan kekuatan penuh, Adi menyerang Wahyudi, dengan maksud untuk segera menghabisinya.
Melihat ada angin kuat menyerang beserta tenaga panas ke arah Perahu Surya, spontan Jalal dan Tanjung pun langsung mengerahkan ajian Bandung Bondowoso, untuk menahan serangan Seruling Sakti Adi. Angin bergulung-gulung seolah keluar dari tangan kedua pemuda yang menaiki sepeda beroda satu itu, yang mengerahkan ajian Bandung Bondowoso secara bersamaan.
Tak pelak lagi, angin yang sangat kuat itu bukan hanya menahan serangan angin kuat dan tenaga panas dari Seruling Sakti Adi, tetapi juga menembusnya, bahkan sampai membuat tubuh Adi terjengkang.
Tentu saja tubuh Niki juga langsung terjatuh, tergeletak dan pingsan. Sementara Panglima GaZa terlempar agak jauh.
Melihat Niki, ibunya tergelatak pingsan, Adi yang masih belum dapat bangun, karena terjatuh, marah besar. Adi kemudian akan mengerahkan ajian BuJin untuk menyerang musuh-musuhnya. Namun, belum sempat Adi berbuat sesuatu, tiba-tiba datang awan bergumpal-gumpal di atas kebun singkong, tempat Adi dulu dihukum. Bukan itu saja, dari awan yang bergumpal-gumpal itu, muncul petir yang menyambar dada Adi. Kontan Adi pun pingsan karenanya.
Setelah itu hujan lebat pun turun. Panglima GaZa sadar kalau situasi berbalik menjadi berbahaya bagi mereka, segera mendekati Adi dan Niki. Mereka yang tadinya bertarung tidak tahu, kalau Wahyudi telah berhasil mendatangkan awan pembawa hujan dan Ustaz Bondan Kaja yang berada di rumah hukuman Adi dulu, telah pula mengerahkan ajian Penangkap Petir, yang dimilikinya secara turun-temurun dari Ki Ageng Selo.
“Ayah, Ibu, apakah kalian masih dapat bertahan?” tanya Jalal dan Tanjung bersamaan.
“Alhamdulillah, masih anak-anakku,” jawab Ki Ageng Batman lega.
Ternyata Jalal dan Tanjung kedua anaknya, dari Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe telah menjelma menjadi Pendekar Langit. Mereka berdua bahkan telah berhasil menolongnya dari serangan berbahaya, yang mematikan dari Adi Seruling Sakti.
Bahkan Wahyudi pun telah berdiri setelah mampu mengerahkan ajian Mendung Pembawa Hujan dan berhasil membuat Adi pingsan.
Walaupun Wahyudi sempat heran, dari mana munculnya *petir* yang mampu menyambar tubuh Adi.
Namun, belum sempat dia berpikir jauh. Tiba-tiba Miss Kiara kembali berteriak.
“Ki Ageng, bagian Perahu Surya yang retak semakin besar.”
“Layar Perahu Surya juga banyak lepas, bisa-bisa kita akan segera jatuh ke tanah, tidak bisa terbang lagi,” tambah Mbak 00 WeIBe.
Tampak oleh Ki Ageng Batman, Perahu Surya pun sudah mulai meluncur ke bawah.
“Astagfirullah. Apa yang dapat kita lakukan?” Ki Ageng Batman bingung, walaupun sempat istigfar, memohon ampun kepada Allah Rabbul Alamin.
“Ayah, Ibu, jangan khawatir. Jalal dan Tanjung akan membawa Perahu Surya terbang lagi, seperti biasa. Ayah, Ibu pegang tali layar erat-erat!” seru Jalal da Tanjung.
Mereka berdua lalu mengusung Perahu Surya dengan kedua tangan mereka. Kemudian mereka mengerahkan ajian Bandung Bondowoso untuk membawa Perahu Surya terbang kembali.
“Jalal, Tanjung, akan kalian bawa ke mana kami?” tanya Ki Ageng Batman.
“Ke Surabaya, tempat Raja Danang, Sayidin Panotogomo yang masih terluka. Beliau mengkhawatirkan keselamatan Ayah, karena Ayah nekat pergi ke istana Matraman Raya,” balas Jalal dan Tanjung.
“Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe, lihat aksi anak-anakmu. Mereka begitu hebat sekarang. Masya Allah!” seru Ki Ageng Batman.
“Alhamdulillah, mereka kan anak-anak Ki Ageng. Kalau Ki Ageng saja hebat, tentu anak-anak Ki Ageng juga hebat. Ki Ageng Batman, gitu, loh. Bukan begitu, Wahyudi?” Sambil memuji Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe, tidak melupakan bahwa Wahyudi, juga anak Ki Ageng Batman dari Putri Biyan.
“Betul, Bunda-bunda. Ayah, Jalal dan Tanjung memang luar biasa. Alhamdulillah,” jawab Wahyudi lega mengetahui adik-adiknya lain ibu itu sudah menjadi Pendekar Langit saat ini.
Namun, tidak lama kemudian, pada saat mereka terbang begitu cepat sampai telah melewati wilayah Kerajaan Madiun, istana Ratu Ana, tiba-tiba Wahyudi melihat ada bayangan naik di langit, lalu turun lagi ke darat. Bayangan itu berhenti sebentar, tetapi kemudian naik lagi ke langit.
“Jalal, Tanjung, perlambat terbang kalian. Ada sesuatu yang mencurigakan di depan kita!” teriak Wahyudi.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ wi/ nf/ 281025
Views: 17












