Begitu diantar masuk ke kamar, Sumaidah langsung tidur di ranjang yang ada. Dia merasa capai, melihat kenyataan bahwa suaminya, Raja Adi Seruling Sakti ternyata melakukan perbuatan asusila justru dengan ibunya.
Dia tidak menyangka Raja Adi Seruling Sakti yang berani melamarnya untuk menjadikan dirinya istri, walaupun sebagai selir karena sebagai seorang raja, masih dianggapnya wajar kalau mempunyai istri lebih dari.
Akan tetapi, berbuat seperti suami-istri dengan ibu kandung, sungguh itu suatu perbuatan maksiat yang dilarang agama. Sumaidah pun tidur dengan membawa duka yang mendalam.
Raja Adi Seruling Sakti melihat Sumaidah tidur, hanya diam saja, karena menganggap Sumaidah memang kecapaian, datang dari kampung ke ibukota. Raja Adi pun lalu menutup kamarnya, lalu keluar. Saat Raja Adi keluar itulah, hujan deras dan petir menyambar-nyambar di langit. Raja Adi Seruling Sakti, mengkhawatirkan Niki, lalu dia pun pergi ke dapur. Sampai di dapur, Raja Adi Seruling Sakti terkejut melihat Ki Ning terbengong-bengong sendirian di sana.
“Ki Ning, ada apa?” tanya Raja Adi, yang merasa lupa tidak meminta Panglima GaZa untuk melayani Ki Ning,ke mana Panglima GaZa? Apakah dia tidak melayani Ki Ning dengan baik?” tanya Raja Adi Seruling Sakti lagi.
“Ki Ning, haus Paduka. Tadi ingin membuat kopi, tapi tiba-tiba hujan deras dan petir pun menyambar-nyambar di langit. Ki Ning pikir ini musuh yang muncul di kebun singkong itu. Bisa jadi dia datang ke istana,” kata Ki Ning, ingin menyembunyikan keberadaannya di dapur karena mengikuti ajakan Niki. Tentu saja dia malu kepada Raja Adi, kalau harus menceritakan keadaan yang sebenarnya, dia ditinggal Niki sendirian di dapur.
Akan tetapi, sebelum Raja Adi Seruling Sakti bertanya lebih lanjut kepada Ki Ning, tiba-tiba Niki keluar dari kamarnya. Begitu melihat ada Raja Adi Seruling Sakti, dia lalu memeluk Raja Adi Seruling Sakti.
Melihat adegan panas itu, antara menantu laki-laki dengan ibunya sendiri itu, Ki Ning pun lalu keluar dari dapur istana sambil mengatakan kalau ingin melihat situasi dan kondisi di luar istana.
“Betul juga Ki Ning, mari kita lihat ada apa di langit istana Kerajaan Matraman Raya ini?” Raja Adi Seruling Sakti mencoba melepaskan pelukan Niki, sambil berkata, ”ibu sebaiknya, Ibu kembali tidur di kamar. Hari hujan dan petir terdengar keras sekali.”
“Nggak mau, Ibu mau ikut denganmu,” balas Niki. Walaupun dia melepaskan pelukannya pada Adi, tetapi tangan kanannya masih memegangi tangan kiri Adi.
Adi pun sepertinya sulit untuk menghindari Niki lagi. Dia pun lalu mengikuti Ki Ning untuk pergi keluar istana.
Pada saat mereka sudah berada di depan pintu istana, tiba-tiba petir menyambar begitu kuat.
Ki Ning dan Raja Adi Seruling Sakti terkejut, ada petir yang dapat menyerang mereka, dengan spontan mereka berdua menghindar dengan terbang ke atas.
Namun, nasib buruk dialami Niki. Dia terlambat terbawa terbang Adi Seruling Sakti, tubuh Niki gosong terkena sambaran petir.
Belum sempat Raja Adi Seruling Sakti menyadari kondisi yang terjadi pada Niki, tiba-tiba terdengar suara dari luar istana.
“Adi Seruling Sakti. Aku Ustaz Bondan Kaja akan mengusirmu dari istana. Tinggalkan istana sekarang juga!” seru Ustaz Bondan Kaja.
“Betul, Adi. Aku Bupati Kediri, Bejo Cinekel menjadi saksi, kalau kamu mau meninggalkan istana Kerajaan Matraman Raya, maka kamu akan dapat pergi dengan selamat,” kata Bupati Kediri Bejo Cinekel ikut muncul bersama Ustaz Bondan Kaja.
“Kurang ajar! Kalian pikir kalian ini siapa? Berani-berani melawan Raja Adi Seruling Sakti. Akan kuhabisi kalian berdua!” seru Raja Adi. Ki Ning yang melihat aksi Raja Adi Seruling Sakti pun lalu bersiap diri untuk menghadapi musuh yang ternyata mengenalkan diri sebagai Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri Bejo Cinekel.
“Paduka Raja Adi, sebaiknya Paduka mengikuti nasihat kami. Paduka dapat aman, jika Paduka bersedia meninggalkan istana Kerajaan Matraman Raya. Kami tidak akan melanjutkan aksi kami, menurunkan hujan dan petir lagi,” kata Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
“Oh, jadi hujan dan petir ini tadi aksi unjuk gigi kalian kepadaku. Niki, ibuku sudah menjadi korban dari aksi biadab kalian. Sekarang rasakan pembalasanku!” seru Raja Adi Seruling Sakti, sambil mengeluarkan serulingnya. Raja Adi Seruling Sakti pun lalu mengerahkan ajian Seruling Sakti untuk menyerang Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri yang sudah berada dihadapannya.
Begitu Raja Adi mengerahkan ajian Seruling Sakti, maka tenaga yang besar beserta angin yang sangat kuat menyerang Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel. Akibat serangan Raja Adi Seruling sakti itu sungguh sangat dahsyat. Awan pembawa hujan berpindah, hujan pun berhenti. Bukan itu saja, Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel pun terlempar jauh ke udara. Tampaknya Raja Adi Seruling Sakti begitu marah kepada kedua musuhnya itu, karena akibat ulah mereka, Niki. Ibunya terbunuh.
Belum sempat Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri sadar akan yang terjadi pada tubuh mereka, yang masih terlempar melayang di udara, sehingga sulit bagi mereka untuk mencoba mengerahkan ajian mereka masing-masing Penangkap Petir dan Mendung Pembawa Hujan, Raja Adi Seruling Sakti bersama Ki Ning sudah menyusul mereka ke udara. Raja Adi Seruling Sakti dan Ki Ning bahkan secara bersamaan mengerahkan ajian BuJin untuk menyerang Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
Kontan saja muncullah para BuJin yang langsung menyerang Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
Tampaknya Raja Adi Seruling Sakti dan Ki Ning, tidak mau memberi kesempatan Ustaz Bondan Kaja untuk mengerahkan ajian andalan mereka, karena kedua tubuh mereka masih melayang di udara, sehingga sulit bagi mereka berdua untuk dapat bergerak.
Raja Adi Seruling Sakti dan Ki Ning ingin segera menghabisi nyawa Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
Pada saat yang kritis bagi Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri. Bejo Cinekel yang masih terlempar di udara bahkan akan diserang para BuJin, yang akan menghabisi mereka berdua, tiba-tiba muncul sesosok tubuh yang dengan cepat meraih Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
Lalu sosok yang baru datang itu, bahkan terus terbang ke langit.
“Salahuddin!” seru Bupati Kediri, Bejo Cinekel, saat menyadari, kalau sosok yang baru datang dan langsng menolong dia dan Ustaz Bondan Kaja itu, adalah Salahuddin.
Bupati Kediri, Bejo Cinekel pernah melihat aksi Salahuddin itu, saat bertempur di kebun singkong.
“Alhamdulillah. Terima kasih, ya, Allah. Engkau telah mengirim Salahuddin untuk menolong kami berdua,” kata Ustaz Bondan Kaja.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
Kontak order wa/me: 081266804830
*mjkr/ wi/ nf/ 023626
Views: 10









