“Anda, siapa?” tanya Putri Raisa.
“Dia, Salahuddin, Putri Raisa,” kata Ki Ageng Batman, yang masih memeluk Putri Biyan.
“Salahuddin, beliau itu Putri Raisa, Ibunda Paduka Raja Danang, Sayidin Panotogomo,” lanjut Ki Ageng Batman.
“Salahuddin ini, utusan khusus Paduka Raja Danang, Sayidin Panotogomo yang ditugaskan menyelamatkan seluruh anggota Kerajaan Matraman Raya dari ancaman bahaya serangan Adi Seruling Sakti. Keselamatan Putri Raisa, Ustaz Bondan Kaja dan menantu Putri serta putra Paduka Raja Danang, menjadi tugas Salahuddin. Kami semua mencoba berusaha membantu tugas yang harus dilaksanakan Salahuddin dari Paduka Raja Danang, Sayidin Panotogomo. Alhamdulillah, kalau semua anggota keluarga istana Kerajaan Matraman Raya sudah ada semua di sini. Berarti misi penyelamatan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya, yang harus dilaksanakan oleh Salahuddin, sudah berhasil. Untuk itu lebih baik, kita segera menghadap kepada Paduka Raja Danang, Sayidin Panotogomo, sebelum ancaman lain datang lagi,” jelas Ki Ageng Batman.
“Bagaimana, Ustaz Bondan Kaja?” tanya Ki Ageng Batman, minta pendapat kepada Ustaz Bondan Kaja.
Ki Ageng Batman merasa perlu meminta pendapat Ustaz Bondan Kaja, karena beliau termasuk yang tertua dari keluarga istana Kerajaan Matraman Raya. Ustaz Bondan Kaja juga adalah ayah dari Raja Danang, Sayidin Panotogomo. Keputusan Ustaz Bondan Kaja diharapkan dapat merupakan keputusan keluarga istana.
“Hamba setuju dengan arahan Ki Ageng Batman,” balas Ustaz Bondan Kaja, “Dinda Putri Raisa, Putri Anya, gendong Pangeran Mustofa kuat-kuat. Ayo, kita mengikuti usulan Ki Ageng Batman. Biar Salahuddin yang memimpin misi penyelamatan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya,” tambah Ustaz Bondan Kaja.
“Ki Ageng, Wahyudi masih hilang!” tiba-tiba Putri Biyan kembali berseru.
“Dinda, Wahyudi sudah selamat. Dia sedang menuju lereng Gunung Bromo untuk menemui istri dan anaknya. Ayo, ajak Putri Raisa dan menantu serta cucunya, naik Perahu Surya. Biar kita dapat cepat menghadap Paduka Raja Danang, Sayidin Panotogomo,” balas Ki Ageng Batman.
“Betulkah begitu, Ki Ageng? Mengapa tadi Ki Ageng masih bertanya, Wahyudi hilang di mana? KI Ageng, nggak sayang lagi, sama Dinda Biyan, ya?” tanya Putri Biyan bertubi-tubi.
“Putri Biyan, ayo ke sini, gabung sama kami,” ajak Miss Kiara.
“Betul Putri Biyan, siapa lagi putri-putri yang lain. Ajak mereka semua ke Perahu Surya Miss Kiara ini,” kata Mbak 00 WeIBe.
Putri Biyan segera menengok ke arah Putri Raisa yang sedang bersama dengan Putri Anya, yang sedang menggendong Pangeran Mustofa, lalu berseru, “Putri Raisa, Putri Anya, ayo, kita perdi dari tempat ini. Kita naik Perahu Surya itu!”
“Putri Anya, cepat ikut Bunda Biyan. Pergilah naik Perahu Surya itu. Bawa segera Pangeran Mustofa bersamamu,” kata Putri Raisa.
Mendengar perkataan Putri Raisa, tanpa pikir panjang lagi, Putri Anya pun segera berlari menuju Perahu Surya, yang ditunjuk Putri Biyan. Putri Anya melihat di sana sudah ada dua putri, yang tangannya melambai ke arahnya, seolah memberi tahu, supaya Putri Anya untuk cepat naik ke Perahu Surya.
“Putri Raisa, silakan putri juga bergabung segera di Perahu Surya. Kami akan mencoba menyelamatkan seluruh anggota keluarga istana Kerajaan Matraman Raya. Itu perintah Raja Danang, Sayidin Panotogomo kepada Salahuddin. Mohon Putri Raisa dapat berangkat bersama kami,” jelas Salahuddin. Namun, Putri Raisa tetap tidak beranjak dari pintu rumah itu.
Melihat, Putri Raisa belum juga beranjak dari pintu rumah itu, maka Ustaz Bondan Kaja, lalu mengajak Putri Raisa untuk mengikuti rombongan Ki Ageng Batman yang mulai naik ke Perahu Surya.
“Dinda Raisa, mengapa dirimu tidak segera bergegas. Apakah Dinda masih ragu dengan Ki Ageng Batman?” tanya Ustaz Bondan Kaja.
“Apakah Perahu Surya itu masih muat untuk ditambah dua orang lagi?” tanya Putri Raisa.
“Kalau sudah tidak muat, biarlah Bunda Biyan dan Putri Anya bersama Pangeran Mustofa saja yang ikut. Dinda khawatir kalau nanti perahu itu kelebihan beban, akan bermasalah di udara,” jelas Putri Raisa.
“Putri Raisa, jangan khawatir soal itu. Nanti Jalal dan Tanjung yang akan menangani masalah penerbangan Perahu Surya, jika bermasalah dengan kelebihan muatan. Bukankah begitu, Jalal, Tanjung?” jelas Salahuddin kepada Putri Raisa, sambil menegaskan kepada Jalal dan Tanjung.
“Betul, Putri. Insya Allah, kami, Jalal dan Tanjung akan berusaha sedapat mungkin membantu penerbangan Perahu Surya, supaya dapat sampai ke tempat tujuan dengan selamat,” balas Jalal dan Tanjung meyakinkan Putri Raisa.
“Dinda, jangan ragu-ragu lagi. Percayalah kepada rombongan Ki Ageng Batman dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel, bahwa seluruh anggota keluarga istana Kerajaan Matraman Raya akan diselamatkan dan akan dibawa menghadap Paduka Raja Danang, Sayidin Panotogomo, anak kita,” kata Ustaz Bondan Kaja, sambil kakinya melangkah ke arah Putri Raisa untuk meyakinkan, bahwa dia mendukung misi penyelamatan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya itu.
“Tapi … Kanda …,” kata Putri Raisa tertahan, karena dia melihat memang Perahu Surya sudah mulai penuh dengan penumpang. Ada Ki Ageng Batman, Putri Biyan, Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe, Putri Anya yang menggendong Pangeran Mustofa, belum lagi kalau dirinya dan Bunda Lilik harus ikut juga naik Perahu Surya itu.
“Tapi apalagi, Dinda? Apalagi yang membuat Dinda khawatirkan dari misi penyelamatan ini?” tanya Ustaz Bondan Kaja.
“Bunda Lilik, masih tidur di dalam kamarnya. Apakah jika Dinda dan Bunda Lilik ikut, Perahu Surya itu masih muat?” tanya Putri Raisa.
“Astagfirullah. Kanda sampai lupa kepada Bunda Lilik, karena situasi tadi sungguh menegangkan. Cepat bangunkan Bunda Lilik. Biar nanti Kanda dan Bupati Kediri Bejo Cinekel tidak usah ikut naik Perahu Surya. Kami akan mengawal dari belakang. Betul begitu, kan, Pak Bupati Kediri?” jelas Ustaz Bondan Kaja, sambil seolah minta persetujuan dengan Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
“Betul, Putri. Jangan khawatirkan kami. Segeralah berangkat, selagi musuh belum datang lagi. Insya Allah, biar kami nanti yang mengawal rombongan Perahu Surya, Eyang Ageng Batman,” tegas Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
Akhirnya Putri Raisa pun berlari menuju kamar Bunda Lilik dan membangunkannya.
“Bunda, kita harus segera pergi ke tempat Paduka Raja Danang, cucu Bunda,” kata Putri Raisa setelah Bunda Lilik bangun.
Bunda Lilik pun ikut saja, tangannya dibimbing oleh Putri Raisa keluar rumah dan menuju ke Perahu Surya.
Begitu seluruh anggota keluarga istana Kerajaan Matraman Raya sudah siap berangkat, maka Jalal dan Tanjung pun segera beraksi, memanggul Perahu Surya dengan mengerahkan ajian Bandung Bondowoso, mereka terbang menuju Kerajaan Madiun.
Salahuddin pun tidak kalah sigap dengan Jalal dan Tanjung lalu mengawal rombongan Ki Ageng Batman itu dari belakang.
Ustad Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel pun tidak kalah sigap, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, mereka mengikuti dari belakang, walaupun tertinggal agak jauh dari rombongan.
Salahuddin merasa lega bahwa misi penyelamatan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya telah berjalan mulus.
Namun, pada saat Salahuddin melihat ke arah belakang, dia tidak lagi melihat Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel. kedua tokoh itu seakan menghilang.
Astagfirullah. Ada apa ini? pikir Salahuddin
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ wi/ nf/ 150226
Views: 36

























