
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- Pesan dan Kesan untuk PJMI di Usia ke-15
- Azis Khafia: Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kaoem Betawi Jakarta
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
Surakso Trirejo atau kerap dipanggil Tri punya tafsir ihwal banyaknya lokasi makam sang syekh. Seperti di Gresik, Demak, Pekalongan, Cirebon, dan Klaten. Tri tak tahu pasti kapan Syekh Maulana Maghribi datang ke tanah Jawa dan menyebarkan Islam. Namun, ia mengatakan bahwa kemungkinan masa itu berada sebelum kemunculan Wali Songo.
“Mereka rombongan dari kota bernama Magrib lalu menyebar di berbagai tempat untuk berdakwah,” ucapnya.
Perihal kedatangan orang timur tengah sebagai penyebar agama Islam di Jawa pernah disinggung M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Menurutnya, fase kedatangan pedagang Islam di Jawa bisa dirunut sejak tahun 1200-an.
Misalnya di daerah Leran, Jawa Timur, ada nisan dengan nama arab yaitu “Maimun” bertulis tahun 1082 Masehi. Ditemukan pula beberapa makam dengan nama Arab di pemakaman Majapahit di Trowulan dari sekitar pertengahan tahun 1300-an.
Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java menuliskan tahun 1250 Masehi sebagai awal masuknya Islam di Jawa. Nama Mulana Ibrahim pun turut tertulis dalam buku tersebut.
Nama itu, menurut Raffles, berasal dari Arabia dan pernah tinggal di Leran sebelum pindah ke Gresik. Ia disebut meninggal pada Senin, 12 Rabiul Awal 1334 tahun Jawa/Saka (sekitar tahun 1412 Masehi).
Baca Juga di WARTA IDAMAN
Keterangan Tri bahwa Syekh Maulana Maghribi berasal dari kota Maghribi pun masuk akal sebab ada daerah dengan sebutan demikian. Daerah itu berada di Afrika Utara meliputi Aljazair, Tunisia, Libya, dan Mauritania. Penamaan daerah ini merujuk pada arti ‘barat’ dan tempat matahari tenggelam, ‘Maghrib’ dalam istilah Arab.
Berdasar cerita turun temurun, Syekh Maulana Maghribi berpindah-pindah lokasi selama hidupnya. “Jadi beliau tidak berada di sini sejak dulu kala,” ungkap Tri, “Tapi akhir hayatnya di sini dan dimakamkan di atas bukit sebagai bentuk penghormatan,” lanjutnya.
Kini, bangunan makam Syekh Maulana Maghribi berada dalam kewenangan Keraton Yogyakarta dan dijaga oleh 35 abdi dalem keraton. Abdi dalem di sini adalah kelompok yang sama dengan penjaga di Makam Syekh Bela-Belu dan Cepuri Parangkusumo. Penjagaan ini tidak lepas dari silsilah leluhur Mataram Islam dengan nama sang syekh di bagian atas.
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- “AWG Kembali Gelar BSP di November, Perkuat Advokasi Global Menuju Pembebasan Al-Aqsa dan Kemerdekaan Palestina”
- Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia, UBN: Jangan Beri Panggung Pendukung Genosida
- Budayantara Berbagi untuk Kemanusiaan, Merawat Persaudaraan Indonesia–Palestina dari Sekolah
- Dr. Mukhtadi Menggagas Persatuan Umat Islam Dunia, Indonesia Diusulkan Jadi Pusat Ukhuwah Islamiyah Internasional
- Waqf Site Visit dan PKM Internasional BWI Dorong Inovasi Wakaf Produktif
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
“Simbah Syekh Jumadil Qubro dan Syekh Maulana Maghribi inilah yang kelak menurunkan raja-raja di Mataram,” kata Tri. Di bawah kedua nama tadi, berjajar aneka nama penguasa Jawa hingga di keturunan ketujuh muncul nama Danang Sutawijaya, pendiri Mataram Islam.
Berdasar bagan silsilah di makamnya, Syekh Maulana Maghribi beristrikan anak Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban) yang bernama Roro Rosowulan. Ia merupakan saudara dari Sunan Kalijaga. Baik nama Wilatikta dan Kalijaga muncul dalam Babad Tanah Jawi (W.L. Olthof, 2017), namun tidak dengan nama Syekh Maulana Maghribi. Walaupun demikian, ada beberapa nama Arab yang berkelindan antara kedua nama tadi.
Tantangan Syiar Islam
Kedatangan Syekh Maulana Maghribi ke pesisir selatan Jawa untuk berdakwah bukanlah tanpa kendala. Menurut cerita rakyat di sekitar makam, kedatangan sang syekh mulanya mendapat tentangan dari penguasa lokal penganut Buddha bernama Panembahan Selohening (versi cerita rakyat menuliskannya sebagai Begawan Selopawening). Ia adalah seorang pelarian asal Majapahit.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- Hadiri Munajat Santri untuk Negeri, Kiai Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup
- IES Forum & Expo 2026 Dorong Masjid Jadi Motor Penggerak Ekonomi Umat
- Jawaban Lengkap Menhaj soal Pengangkatan Tenaga Ahli dan Awal Pembentukan Kemenhaj
- Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan Jajaki Museum Haji Indonesia, Lestarikan Jejak Sejarah Bangsa
- Hadiri Istighosah Kebangsaan Hari Santri 2026, KH Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup untuk Menjaga Persatuan Bangsa
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ketum PB Al Washliyah Sampaikan 4 Pesan
Views: 72





















