
WARTA IDAMAN

Oleh: Dr. H. M. Suadi, M.Ag.
Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari menegaskan:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
“Istirahatkan dirimu dari tadbir (pengaturan). Maka, apa-apa yang sudah dijamin/diselesaikan oleh selainmu (Allah SWT) untukmu, janganlah engkau turut memikirkan atau mengurusinya sendiri.”
Secara garis besar, para ulama pensyarah (penjelas) Kitab Al-Hikam membagi tadbir menjadi tiga jenis berdasarkan hukum dan pengaruhnya terhadap hati:
1. At-tadbir al-mazhmum (التدبير المذموم) – Pengaturan yang Tercela
Artinya: Perencanaan atau pengaturan urusan duniawi yang disertai dengan rasa cemas, bergantung pada kemampuan diri sendiri, dan melupakan takdir Allah.
Inilah yang dijelaskan di atas. Ia adalah tadbîr yang disertai dengan ketergantungan hati pada rencana sendiri dan mengabaikan kuasa Allah. Ia bisa berupa lamunan duniawi (umniyyah) atau mengikuti hawa nafsu (syahwat).
2. At-Tadbir al-mathlub (التدبير المطلوب) – Pengaturan yang Dituntut/Dianjurkan
Artinya: Pengaturan atau perencanaan yang berfokus pada kewajiban menghamba kepada Allah dan mempersiapkan urusan akhirat.
Bersikap Pasrah (tafwid) setelah Berikhtiar: Seperti pesan Syaikh Ibrahim al-Khawwash: “Ilmu itu seluruhnya terkandung dalam dua hal: (1) Jangan memaksakan dirimu untuk memperoleh sesuatu yang sudah dijamin untukmu, (2) Jangan menyia-nyiakan sesuatu yang menjadi kewajibanmu.”
3. At-Tadbir al-mubah (التدبير المباح) – Pengaturan yang Diperbolehkan
Artinya: Pengaturan urusan duniawi yang sifatnya wajar dan sekadarnya tanpa mengikat hati, yang diperbolehkan.
Yaitu tadbîr untuk urusan duniawi atau kebiasaan (ath-thabî’iy), seperti merencanakan bisnis atau jadwal sehari-hari, tetapi dilakukan dengan sikap tafwîd (pasrah). Hatinya tetap bergantung pada Allah, seraya berkata, “Aku merencanakan, tetapi ketetapan-Mu yang berlaku.”
Rasulullah SAW bersabda:
التَّدْبِيرُ نِصْفُ الْمَعِيشَةِ
“Perencanaan yang baik adalah separuh kehidupan.” (HR. Ad-Dailami).
Hal ini merupakan tadbîr lahiriyah, sementara hatinya tetap tenang dan tawakal.
Jalan Keluar: Dari Tadbîr Menuju Tafwîd
Lalu, bagaimana melepaskan diri dari belenggu tadbîr yang tercela? Para arifin memberikan solusi:
- Memperbaiki Aqidah dan Tauhid: Meyakini sepenuhnya bahwa Allah-lah yang menciptakan dan memilihkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qashash: 68)
- Bersikap Pasrah (tafwid) setelah Berikhtiar: Seperti pesan Syaikh Ibrahim al-Khawwash: “Ilmu itu seluruhnya terkandung dalam dua hal: (1) Jangan memaksakan dirimu untuk memperoleh sesuatu yang sudah dijamin untukmu, (2) Jangan menyia-nyiakan sesuatu yang menjadi kewajibanmu.”
- Bergantung Hanya kepada Allah: Syaikh Dzun Nun al-Mishri menasihati: “Jika engkau mengurus kewajibanmu dan tidak ikut campur dalam urusan yang sudah ditetapkan Allah untukmu, maka engkau adalah orang yang sempurna akal. Jika engkau bergantung pada Allah dalam segala keadaanmu, bukan pada amalmu, maka engkau telah mencapai ma’rifatullah.”
Kesimpulan:
Tidak melarang manusia membuat rencana (karena manusia hidup di alam sebab-akibat), melainkan melarang التدبير المذموم—yaitu ketika rencana tersebut membuat Anda merasa berkuasa atas masa depan dan mendikte kehendak Allah.
والله اعلم
*****
Terima kasih telah membaca artikel ini. Dapatkan artikel menarik lainnya di sini.
Dukung terus WARTA IDAMAN – Berita Semesta "Syiar Hijrah".
Silakan berikan komentar yang membangun pada kolom di bawah ini.
Jangan lupa membagikan artikel ini ke media sosial Anda melalui tombol bagikan di bawah!
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- PB Al Washliyah Resmikan Sekolah Sepak Bola Washliyah Football Academy
- Kiprah Mohammad Anthoni di Fase Sunyi: Merajut Ukhuwah dan Akar Sejarah PJMI
- Napas Perjuangan 15 Tahun PJMI: Dari Tujuh Pemrakarsa hingga Kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia: dari tujuh pemrakarsa hingga kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

anwi/ pjmi/ wi/ nf/ 301026: anugrah
Views: 4


















