WARTA IDAMAN

Kalimantan Selatan menyimpan berbagai cerita rakyat yang tak hanya menarik tetapi juga penuh dengan teka-teki.
Salah satu yang paling mencengangkan adalah legenda tentang kota Saranjana, yang diklaim sebagai kota gaib dengan teknologi jauh lebih maju daripada Jakarta, bahkan dibandingkan seluruh dunia.
Kota ini, menurut cerita, hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang memiliki kemampuan khusus.
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- Budayantara Berbagi untuk Kemanusiaan, Merawat Persaudaraan Indonesia–Palestina dari Sekolah
- Dr. Mukhtadi Menggagas Persatuan Umat Islam Dunia, Indonesia Diusulkan Jadi Pusat Ukhuwah Islamiyah Internasional
- Waqf Site Visit dan PKM Internasional BWI Dorong Inovasi Wakaf Produktif
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
Saranjana disebut sebagai kota yang pernah ada di peta kuno yang dibuat oleh pemerintah Belanda pada abad ke-17.
Dalam peta tersebut, kota ini digambarkan sebagai kota pelabuhan yang makmur dan ramai.
Kota Saranjana tersebut eksis pada tahun 1800 an dan memang masih berbentuk kerajaan di daerah Banjar Kalimantan Selatan.
Salah satu bukti kota saranjana itu ada dibuktikan dengan adanya sebuah peta kuno dari seorang bernama Salomon Muller yang telah memetakan kota tersebut tahu 1700 an.
Salomon Müller (7 April 1804 – 29 Desember 1863) adalah seorang naturalis berkebangsaan Jerman yang dilahirkan di kota Heidelberg.
Pada tahun 1823, Salomon Müller bersama dengan Heinrich Boie dan Heinrich Christian Macklot ditugaskan oleh Coenraad Jacob Temminck untuk mengoleksi spesimen-spesimen di Hindia Timur (sekarang Indonesia). Müller tiba pada tahun 1826 di Batavia. Ekspedisi ke Pulau Irian dan Timor dilakukan pada tahun 1828, Pulau Jawa pada tahun 1831, dan Pulau Sumatra antara tahun 1833 sampai 1835.
>>> ke Halaman 2

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- Abdullah bin Salam: Jangan Takut Mengubah Pandangan Setelah Menemukan Kebenaran
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa

Views: 843



















