Beranda / SYIAR HIJRAH / al fana (الفناء) dan al baqa’ (البقاء) dalam tasawuf

al fana (الفناء) dan al baqa’ (البقاء) dalam tasawuf

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Dr.H.M.Suaidi,M.Ag:

 

al-fana’ (الفناء) berarti lenyap atau “hancur,” terutama merujuk pada lenyapnya kesadaran diri manusia yang terikat pada duniawi dan hawa nafsu, serta sifat-sifat tercela, menuju kesadaran penuh akan kebesaran dan keagungan Allah. Setelah fana’, seorang sufi akan memasuki maqam baqa’ (البقاء), yaitu kekekalan dalam sifat-sifat ketuhanan dan kesadaran akan kehadiran Allah.

Fana’:
Secara harfiah, fana’ berarti lenyap, hancur, sirna, atau hilang. Dalam konteks tasawuf, fana’ adalah proses meleburkan diri dari ego dan kesadaran duniawi untuk menyatu dengan kehendak Allah. Ini bukan berarti hilangnya eksistensi, tetapi lebih kepada hilangnya keterikatan pada hal-hal selain Allah.

Tingkatan Fana’:
Beberapa ahli tasawuf membagi fana’ menjadi beberapa tingkatan, seperti fana’ al-af’al (lenyapnya perbuatan), fana’ al-sifat (lenyapnya sifat), dan fana’ al-dzat (lenyapnya dzat).

Baqa’:
Setelah fana’, seorang sufi akan mencapai maqam baqa’, yaitu kekekalan dalam sifat-sifat ketuhanan. Ini berarti sifat-sifat terpuji, ilmu pengetahuan, dan kesadaran akan kehadiran Allah akan abadi dalam diri sufi.

Hubungan Fana’ dan Baqa’:
Fana’ dan baqa’ adalah dua sisi mata uang dalam perjalanan tasawuf. Fana’ adalah proses menuju baqa’. Lenyapnya sifat-sifat tercela membuka jalan bagi kekalnya sifat-sifat terpuji dan kesadaran akan Allah.

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf Ayat 143

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Nabi Musa, dalam munajatnya kepada Allah, meminta agar diperlihatkan wujud Allah.

Allah menjawab bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup melihat-Nya, karena makhluk tidak akan mampu menahan kemahabesaran Allah.

Allah menampakkan diri-Nya pada gunung. Gunung tersebut hancur luluh, menunjukkan bahwa makhluk tidak mampu melihat Allah di dunia.

Kisah ini mengajarkan bahwa manusia tidak mampu melihat wujud Allah di dunia, dan akal manusia terbatas untuk memahami Dzat Allah.

Kisah ini juga sering dikaitkan dengan konsep al-fana dalam sufisme, yaitu fenomena hancurnya diri (ego) dalam penyatuan dengan Tuhan. Meskipun demikian, kisah Nabi Musa lebih menekankan pada ketidakmampuan manusia melihat Allah secara fisik di dunia, bukan pada konsep al-fana secara spiritual. Dalam konteks al-fana, para sufi meyakini bahwa melalui penyucian diri dan mendekatkan diri kepada Allah, seseorang dapat merasakan kehadiran Allah dalam hati dan jiwanya, meskipun tidak dapat melihat wujud-Nya secara fisik.

Abu Yazid al-Bustami adalah salah satu tokoh sufi yang mempopulerkan konsep fana’ dan baqa’.

Pentingnya Fana’ dan Baqa’:
Konsep fana’ dan baqa’ merupakan inti dari ajaran tasawuf, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.

 

 

 

 

 

*anwi/ wi/ nf/ 050825

Views: 666

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *