
WARTA IDAMAN

JAKARTA – Belakangan ini, sebuah poster digital beredar luas di media sosial dan grup percakapan WhatsApp yang mengimbau masyarakat untuk tidak menampung air hujan. Poster tersebut mengklaim bahwa air hujan hasil proses pembenihan awan (cloud seeding) untuk penanggulangan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi tercemar oleh obat atau bahan kimia berbahaya.
Narasi yang beredar menyebutkan bahwa masyarakat dilarang memanfaatkan air hujan tersebut untuk keperluan masak, minum, hingga mandi demi menjaga kesehatan keluarga.
Namun, apakah klaim dalam poster tersebut benar?

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- 5 Tips Konsisten Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari agar Tetap Istiqomah
- Kajian Kitab Al-Hikam #2
- Ketum Al Washliyah: Teladani Kepemimpinan Amanah dan Keadilan Ekonomi Rasulullah
- Amal sedikit penuh kesadaran Ilahi lebih baik dari pada banyak amal dengan kesombongan diri
- Maulid Barokah Munajat kami pada MU, Yaa Allah
- Hadiah Terindah di Sepertiga Malam dan Fajar
Berdasarkan klarifikasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), informasi tersebut dipastikan 100 persen salah atau hoaks. BMKG menyatakan secara tegas bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan selebaran atau imbauan pelarangan menampung air hujan seperti yang dituduhkan dalam poster tersebut.
Bahan Modifikasi Cuaca Sangat Aman
Faktanya, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan pemerintah menggunakan bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) alias garam dapur komersial, bukan bahan kimia beracun atau obat-obatan berbahaya. Penggunaan garam ini telah melalui berbagai kajian akademis mendalam, terukur, berada dalam ambang batas aman, serta terbukti tidak mencemari kualitas air hujan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- FFP Universitas Paramadina Bawa Perspektif Lintas Disiplin ke Malaysia, Bekali Calon Mutawwif Hadapi Tantangan Global
- Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI
- Mentan Amran di Muktamar V Wahdah Islamiyah: Indonesia Swasembada Pangan, Ekspor Beras Hingga ASEAN dan 10 Ribu Ton ke Palestina
- Kemenhaj Buka Seleksi PPIH Arab Saudi 2027, Tekankan Integritas dan Profesionalisme
- Glocalizing Entrepreneurship Education: Forum Internasional IFEE 2026 Hadirkan Sandiaga Uno dan Akademisi Global untuk Masa Depan Berkelanjutan
- Hubungan Sejarah Indonesia-Yaman Perkuat Fokus Kerja Sama Sektor Pendidikan
- Kunjungi PWNU Jawa Tengah; AsCare Jepang, Tsubasa TC Jepang & Konsultan Hajime Jepang Sepakati Kerjasama
Adapun kualitas air hujan yang perlu diwaspadai saat terjadi karhutla sebenarnya bukan disebabkan oleh proses cloud seeding, melainkan akibat partikel asap dan polutan dari kebakaran lahan yang mengapung di atmosfer. Oleh karena itu, pada awal turunnya hujan setelah kemarau panjang, air hujan memang sebaiknya diendapkan dan disaring terlebih dahulu sebelum digunakan guna membersihkan sisa partikulat debu sisa pembakaran hutan, bukan karena airnya beracun akibat modifikasi cuaca.
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- Antisipasi Dampak Abu Vulkanik, Polres Jakbar Siapkan 9 Posko Kesehatan untuk Layani Masyarakat
- ANTARA Perkuat Koordinasi dengan Instansi Terkait Cari Pewarta Foto Hilang Kontak
- Danrem 072/Pamungkas Bekali Mahasiswa Baru UMBY Semangat Bela Negara
- Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Menkes Meminta Masyarakat Batasi Aktivitas di Luar Rumah
- Danrem 072/Pamungkas Hadiri Grebeg Minggir di Ponpes Gus Muwafiq, Perkuat Sinergi dan Teladani Akhlak Rasulullah SAW
- Pasis Dikreg Sesko TNI LVI berikan Penyuluhan Karhutla di Kec. Selat, Kab. Kapuas
Views: 0






















