oleh Dr. H.M. Suaidi,M.Ag
مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزّ َلَلِ
Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.
Syarah
Ar-raja’ (الرجاء)adalah istilah khusus dalam terminologi agama yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta’ala. Ar-raja’ (الرجاء) tidak selalu terkait dengan pengharapan akan ampunan Allah, melainkan lebih menyifati orang-orang yang mengharapkan kedekatan dengan Allah, yakni taqarrub.
Kalimat “wujuudi zalal” (وجود الزلل), artinya segala wujud yang akan hancur, diterjemahkan sebagai “alam yang fana”. Status ini menunjukkan seseorang yang masih hidup di dunia dan terikat oleh alam hawa nafsu dan alam syahwat; itu semua adalah wujud al-zalal, wujud yang akan musnah. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta’ala.
Jika kita berharap akan rahmat-Nya, maka kita tidak akan menggantungkan harapan kepada amal-amal kita, baik itu besar atau pun kecil. Dan hal yang paling mahal dalam suluk adalah hati, yaitu apa yang dicarinya dalam hidup. Dunia ini akan menguji sejauh mana kualitas raja’ (harap) kita kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah saw. bersabda:
لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ
Artinya, Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR Muslim).
والله اعلم
*amwi/ wi/ nf/ 080826
Views: 1








