Oleh: Amir Kumadin
Shilaturrohiim atau orang sering menyebutnya silaturrahmi, sering direduksi maknanya menjadi hanya sekedar bertamu dan bertemu secara fisik.
Padahal shilaturrohiim, dilihat dari arti etimologis saja berarti huhungan atau sambungan kasih sayang (cinta).
Lebih lanjut, biar tidak ada salah paham di antara kita, mari Anda saya ajak untuk mendalami arti dan makna shilaturrohiim…!
Istilah “shilaturrohiim” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu: *”shilah”* yang berarti *”hubungan”* atau *”sambungan”*, dan *”rohiim”* yang berarti “peranakan” (kerabat atau nasab yang disatukan oleh rahim ibu) . Rohiim juga berarti *”kasih sayang”* (cinta).
Dan secara terminologis, “shilaturrohiim” berarti menjaga hubungan baik dan kasih sayang (cinta) dengan saudara dekat (karib kerabat) khususnya, dan dengan saudara se-ideologis/se-agama dan dengan saudara sesama manusia pada umumnya.
Apa dibalik arti kata “menjaga” dalam definisi itu? Artinya, karena pada hakikatnya manusia itu sudah bersaudara, sudah ada hubungan persaudaraan, baik saudara sedarah (nasab), saudara senegara, saudara seagama, dan saudara sesama manusia (QS. An-Nisa [4]: 1 & QS. Al-Baqoroh [2]: 213).
Dan Nabi saw bersabda,
“Bukanlah bersilaturahmi itu orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahmi adalah yang menyambung apa yang putus”, (HR Bukhari).
Hadits ini bisa dipahami, salah satunya adalah, shilaturrohiim bukan sekedar saling bertamu dan saling memberi hadiah, akan tetapi juga menyambung hubungan baik dan kasih sayang dari saudara yang terputus karena kasus atau masalah tertentu, sehingga dua orang atau kelompok menyebabkan bertengkar, bermusuhan, atau saling sakit hati dan dendam, bahkan lebih dari itu, yaitu menyambung hubungan baik dan kasih sayang dengan orang atau kelompok lain (sesama manusia) yang belum dikenal karena pada hakikatnya seluruh manusia itu bersaudara.
Secara spesifik, setiap muslim dengan muslim yang lain itu saudara dan analog dengan satu tubuh (Al-Hujuroot [49]: 10). Artinya, jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit, ikut menanggung beban sakit juga. Itulah artinya, bahwa derita mereka adalah derita kita, dan sebaliknya, derita kita adalah derita mereka juga. Bahagia mereka adalah bahagia kita, dan sebaliknya, bahagia kita adalah bahagia mereka.
Jika Anda tidak mampu melepaskan ego Anda, atau tidak mampu mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya, atau tidak sampai pada *”memiliki kesadaran kasih sayang dan cinta”* seperti itu, maka tali persaudaraan dan shilaturrohiim tidak akan ber-eksistensi.
Dan jika Anda tidak bisa sampai pada *”memiliki kesadaran empati”* seperti itu, yakni “apa jadinya jika aku adalah kamu”, dan sebaliknya, “apa jadinya jika kamu adalah aku”, atau untuk menempatkan diri saya ke dalam situasi orang lain, saya harus melepaskan diri saya dari situasi dan kondisi saya sendiri, maka tali persaudaraan dan shilaturrohiim tidak akan terwujud.
Singkat kata, Anda tak akan dapat sampai pada menjaga hubungan baik dan kasih sayang (cinta) dengan orang lain (dengan sesama), atau Anda tak akan dapat sampai menjadi saudara secara hakiki dan bershilaturrohiim dengan orang lain, kecuali hanya dengan:
1. Mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya (melepaskan ego diri).
2. Memiliki nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama.
3. Kasih sayang atau cinta.
Dalam manifestasinya, ketiga point di atas, yang menjadi dasar dimana tali persaudaraan dan shilaturrohiim itu bisa terwujud adalah sangat banyak dan luas, di antaranya yakni:
✳️Saling kenal-mengenal, saling mengunjungi, saling menghadiri, saling menghormati, saling menghargai, saling sharing ilmu dan informasi, saling nasehat-menasehati, saling menjenguk ketika ada yang sakit, saling memaafkan, saling peduli, solider dan empati, saling tolong-menolong dan bekerja sama dalam kebaikan dan kebenaran, dll.
*Implementasi atau konkritnya:*
✳️Bertukar dan bertegur salam, senyum, dan sapa. ✳️Berjabat tangan. ✳️Bertutur kata yang baik dan rendah hati. ✳️Mengunjungi orang tua dan karib kerabat. ✳️Berinteraksi, bersosialisasi, dan berkomunikasi secara baik dengan keluarga, karib kerabat, tetangga, dan masyarakat. ✳️Berinfak, bersedekah dan berwakaf, baik dengan harta, tenaga, dan jiwanya. Salah satunya untuk membangun masjid, sekolah, pesantren, klinik/Rumah Sakit, jalan, khususnya di daerah-daerah pedalaman di seluruh pelosok negeri melalui lembaga2 yang valid dan terpercaya seperti DDII, Hidayatullah, Muhammadiyah, dll. ✳️Memenuhi kebutuhan anak yatim, fakir-miskin dan dhu’afa. ✳️Berdonasi/menjadi donatur penyandang dana suatu kegiatan dakwah/syiar. ✳️Berdonasi menolong atau memberi bantuan kepada saudaranya yang terkena musibah dan bencana (banjir, longsor, gempa, tsunami, akibat perang dan pembantaian). ✳️Menyelesaikan konflik dengan bijaksana, baik yang ada di keluarga, kelompok, organisasi, maupun masyarakat, dll. ✳️Berqurban saat ‘Iidul Ad-ha. ✳️Halal bil halal ‘Iidul Fithri. ✳️Ikut mengantar rombongan lamaran/besan. ✳️Menghadiri undangan (hajatan, selamatan, seminar, dll). ✳️Berta’ziyah. ✳️Menghadiri pengajian, yasinan, dan arisan. ✳️Sholat berjama’ah di masjid. ✳️Mendoakan orang lain. ✳️Dan masih ribuan manifestasi dan implementasi lainnya.
Artinya, jika Anda sedang melakukan manifestasi-manifestasi dan implementasi-implementasi seperti tersebut di atas, maka hakikatnya Anda sedang mengutamakan kepentingan orang lain, Anda sedang menegakkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama, dan Anda sedang mencintai orang lain. Dan pada saat yang sama, berarti Anda sedang menjaga hubungan baik dan kasih sayang (cinta) dengan orang lain. Dan pada saat yang sama juga, berarti Anda sedang *”MENJAGA dan MENYAMBUNG PERSAUDARAAN”* dengan orang lain atau Anda sedang *”BERSHILATURROHIIM* dengan orang lain (sesama).
Dengan sistem penjelas secara analitik dan operasional yang saya tampilkan di atas, maka mampu mengungkapkan secara logis dan akal sehat mengapa menjaga dan menyambung persaudaraan dan shilaturrohiim adalah merupakan perintah wajib bagi kita dan tanda beriman kepada Allooh, (QS. An-Nisa [4]: 1 dan 36). Dan balasannya adalah keselamatan di dunia dan di akhirat.
“Orang yang menjaga hubungan baik dengan kerabat, menebar salam, berkata baik, memberi makan orang lain, ramah terhadap anak yatim, dan shalat malam saat orang terlelap, maka akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, At Tirmidzi).
Demikian juga, dengan sistem penjelas secara analitik dan operasional yang saya tampilkan di atas, maka mampu mengungkapkan secara logis dan akal sehat mengapa menjaga dan menyambung persaudaraan dan shilaturrohiim yang ada di banyak hadits Nabi saw bisa:
1. Memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.
2. Meningkatkan keimanan.
3. Mendekatkan diri kepada Allooh ‘Azza wa Jalla.
4. Menciptakan kerukunan, keharmonisan, dan kedamaian.
5. Dijauhkan dari adzab dan neraka.
6. Menjadi sebab dicintai Allooh dan masuk surga.
7. Menjadi makhluk yang terhormat dan mulia.
8. Menggugurkan dosa.
9. Memperluas wawasan dan ilmu serta mendapatkan berbagai hikmah.
10. Menyehatkan mental dan jasmani serta menciptakan kebahagiaan.
Dan sebaliknya, memutuskan tali persaudaraan dan shilaturrohiim merupakan larangan keras bagi kita sebagai muslim maupun sebagai manusia. Dan balasannya adalah adzab dan neraka jahannam.
“Tidak ada dosa (adzab) yang lebih pantas disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat daripada perbuatan zalim dan memutus shilaturrohiim/silaturahmi.” (HR. Abu Daud).
Dan
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahmi)”, (HR. Bukhori dan Muslim).
*phofmu/ pjmi/ wi/ nf/ 241225
Views: 46










