Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Azis Khafia: Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kaoem Betawi Jakarta
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
Ia kemudian menyoroti perkembangan pendidikan tinggi Gontor yang dinilainya semakin memperluas warisan sistem tersebut. Menurut UBN, penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam lingkungan pendidikan menjadi salah satu karakter yang membedakan pendidikan Gontor.
“Di mana penyampaian dalam bahasa Arab dan Inggris berjalan di sana, dan mahasiswa-mahasiswa juga tetap mewarisi,” ujarnya.
Menurut UBN, kekuatan tersebut juga dirasakan mahasiswa yang tidak seluruhnya berasal dari KMI. Mereka tetap dapat menikmati lingkungan pendidikan yang berada dalam naungan nilai dan ruh yang diwariskan Gontor.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Danrem 072/Pamungkas Ajak Mahasiswa Pesantren Perkuat Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
- Jawaban Lengkap Menhaj soal Pengangkatan Tenaga Ahli dan Awal Pembentukan Kemenhaj
- Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan Jajaki Museum Haji Indonesia, Lestarikan Jejak Sejarah Bangsa
- Hadiri Istighosah Kebangsaan Hari Santri 2026, KH Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup untuk Menjaga Persatuan Bangsa
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ketum PB Al Washliyah Sampaikan 4 Pesan
- Kapolda Gorontalo Beri Penghargaan kepada 26 Personel Berprestasi dalam Penindakan Tambang Ilegal
UBN menilai perjalanan Gontor selama hampir satu abad menunjukkan bahwa lembaga pendidikan yang didirikan para tokoh tidak selalu berakhir bersama wafatnya pendiri. Sebaliknya, Gontor mampu terus berkembang karena memiliki sistem dan nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Di dunia ini ada dua jenis lembaga pendidikan yang didirikan oleh tokoh. Yang pertama, ketika tokohnya mati, lembaganya pun mati. Yang satu, ketika tokohnya wafat, tetapi lembaganya terus ada dan berkembang,” kata dia.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 2




















