Beranda / SYIAR HIJRAH / MASAKAN IBU YANG TINGGAL KENANGAN

MASAKAN IBU YANG TINGGAL KENANGAN

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Oleh: Iwan Samariansyah

 

Makanlah seperti lebah madu makan. Lebah memakan makanan yang bersih. Kenyamanan raga terletak pada sedikitnya makan.” ~ Ali Bin Abi Thalib

Di dapur kecil yang pernah menjadi saksi bisu tawa dan canda, kini hanya tinggal sunyi dan bayang-bayang. Aroma wangi rempah yang dulu menguar memenuhi ruangan, kini hilang bersama hembusan nafas Ibu yang terakhir. Ibu kami, Musliah Asmaradji, telah pergi selama-lamanya pada Agustus 2023 yang lalu.
 
Ibu pergi meninggalkan kami tujuh bersaudara saat itu, bukan hanya kepedihan hati, melainkan juga kenangan akan masakan yang tak tergantikan. Masakan ibu, yang rasanya tak pernah bisa kami temui lagi, hidup dalam memori dan doa yang terus kami jaga.
 
Walau ibu kini telah menjadi kenangan, masakan ibu tetap hidup dalam kami. Ia adalah lagu melankolis yang tak pernah berhenti berdetak dalam ruang hati, sebuah warisan rasa yang kekal melampaui waktu dan ruang. Di balik setiap suapan, aku melihat wajah ibu tersenyum, dan aku tahu, kasihnya tak pernah benar-benar pergi.
 
Di sudut dapur yang tak lagi bersuara, harum rempah dan senyum ibu tersimpan rapi dalam kabut kenangan. Ibu, yang dua tahun lalu menghilang dari waktu, meninggalkan jejak rasa yang tak mungkin hilang. Masakan ibu yang satu itu – Ikan Selangat Pedas dan Sayur Sapo Tahu putih – adalah puisi diam yang mengalir di darah, menggetarkan hati yang terus merindu.
 
Setap kali membuka lemari es, aku tak bisa menahan rindu yang datang dengan tiba-tiba. Di sana tak ada lagi bahan-bahan segar yang biasa ibu urai, tak ada lagi bumbu dapur yang siap dicampur jadi ramuan rasa. Aku rindu pada detail kecil yang dulu berdansa di tangan ibu—potongan cabai, cengkih, serai, dan daun salam—dan cara ibu memadu mereka menjadi harmoni yang membuat lidah kami menari dalam bahagia.
 
Masakan ibu bukan sekadar soal rasa. Itu adalah ungkapan cinta yang selalu hadir tanpa syarat. Ketika kami pulang dari sekolah atau bekerja, ibu menunggu dengan dapur hangat dan piring penuh harap. Ada lauk sederhana, mungkin hanya tahu, tempe dan sayur, tapi bagi kami itu surga yang tak tertandingi. Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sebuah pelukan yang dibungkus rasa asin dan manis di setiap suapan.
 
Aku ingat, suatu sore di mana angin lembut membawa dingin ke jendela dapur. Ibu sibuk mengulek cabe dan bumbu-bumbu dalam cobek tua, matanya tenggelam dalam petualangan rasa yang akan lahir. “Nak, jangan lupa, pedas itu bukan cuma cabai. Tapi cinta yang harus bikin hati hangat,” katanya sambil tersenyum. Suaranya, hangat dan penuh tenaga, membekas selamanya.
 
Ikan Selangat Pedas itu bukan sekadar ikan goreng dengan sambal. Di tangan ibu, ikan biasa itu seolah bernyawa, dibalut oleh bumbu pedas yang menggigit tapi mengandung kasih dalam tiap suapan. “Cicip yuk, biar tahu gimana rasa perjuangan di balik pedas,” goda ibu waktu menyerahkan piring penuh warna merah yang menggoda. Aku yang memang suka pedas akhirnya dibuat terpesona oleh sensasi yang tak lagi kutemukan di dapur sendirian.
 
Sayur Sapo Tahu, lembut dalam kuah hangat dengan irisan tahu yang mengambang seperti pelukan ibu. “Masakan ini kayak kita juga, Nak, sederhana tapi kuat bertahan di tengah badai,” bisiknya suatu malam. Dalam keheningan itu, aku mendengar getaran ketulusan yang hanya ibu bisa hadiahkan lewat masakan.
 
Kini, aku mencoba merekam kembali rasa itu—dengan tangan yang canggung dan dapur yang sepi. Tapi tak pedas seperti dulu, tak hangat seperti dulu. Masakan ibu adalah lagu lama yang sulit kuputar ulang sempurna, karena nada rindunya hanya bisa dibawakan oleh ibu sendiri.
 
Adakalanya di malam sepi, aku membayangkan ibu sedang meracik sambal tomat yang pedasnya pas, atau menumis sayur cah kangkung hingga harum semerbak. Bayangan itu terasa nyata sampai aku hampir bisa mencium aroma masakannya, dan aroma pedasnya yang membuatku terbatuk – seteguk kerinduan yang tajam menusuk dada.
 
Sedih dan pilu menyelimuti, tapi juga ada rasa syukur yang dalam. Syukur karena pernah merasakan cinta ibu dalam wujud yang paling sederhana namun paling bermakna: masakan yang dibuat dengan tangan yang penuh kasih. Aku belajar dari ibu bahwa rasa yang sesungguhnya adalah rasa dari hati. Rasa yang tak bisa ditiru oleh siapapun, bahkan oleh chef terbaik sekalipun di hotel berbintang lima.
 
Masakan ibu kini menjadi tanda tanya dan cerita yang kami sampaikan dari generasi ke generasi. Anak-anak kami mungkin tak pernah merasakan tangan ibu membelai sayuran atau mengaduk kuah, tapi mereka mendengar kisahnya berulang kali. Mereka tumbuh dengan cerita-cerita tentang nenek mereka yang selalu ada, tentang masakan yang mengisi ruang kenangan dan melindungi hati kami semua dari dinginnya dunia.
 
Aku percaya, setiap piring masakan ibu menaruh doa dan harapan yang tak pernah pudar. Masakan itu adalah bahasa tanpa kata yang menghubungkan kami dengan ibu, walau jarak dan waktu telah memisahkan. Maka setiap kali kami makan, kami tak hanya mengisi perut, melainkan juga memupuk kehadiran ibu dalam setiap hati yang bersemangat.
 
Rasa kehilangan ini memang tak mudah terlukiskan dengan bahasa. Namun melalui masakan ibu, aku menemukan sebuah cara untuk tetap merasa dekat. Kenangan akan masakan ibu menjadi jembatan antara masa lalu yang manis dan masa kini yang terkadang membingungkan, sebuah titian hati yang kuat menghubungkan kami dengan sumber cinta terdalam.
 
Dalam doa-doa kami, aku selalu memohon agar ibu diberi tempat terbaik di sisi-Nya.
Masakan ibu belajar mengajarkan kami banyak hal: kesabaran dalam melangkah, ketulusan dalam memberi, kehangatan yang tanpa syarat, dan kekuatan cinta yang abadi.
 
Ibu, di balik segala rasa dan hangat itu, engkau abadi. Masakanmu tak hanya mengisi perut, tapi menghangatkan jiwa, menghidupkan kenangan yang abadi di dalam kami.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
*iwsa/ pjmi kolab/ wi/ nf/ 121225

Views: 64

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 170
  • 132
  • 188
  • 125
  • 7,162
  • 20,284
  • 169,016
  • 255,254
  • 150,848
  • 64
  • 4,770
  • 270