Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

JAKARTA – Di tengah gelombang disrupsi media yang tak terbendung, ratusan pekerja jurnalis yang terdampak PHK sejak 2012 memilih untuk tidak menyerah pada realita getir. Berbekal idealisme yang tetap membara, mereka mendirikan AGRIJurno, sebuah yayasan kewirausahaan sosial yang mengubah skill komunikasi menjadi kekuatan ekonomi nyata. Kini, mantan reporter, juru kamera, hingga redaktur eksekutif tersebut bertransformasi menjadi tenaga pemasaran komoditas pertanian dan peternak ayam mandiri, membuktikan bahwa jurnalis adalah aset SDM yang tangguh dan adaptif.

Inisiatif ini bermula dari kepedulian Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI, yang pernah merasakan beratnya perjuangan hidup sebelum sukses sebagai pengusaha. Titik balik kolaborasi ini terjadi saat banjir besar melanda Sumatera pada November 2025. Ketika pasar Aceh lumpuh dan surplus cabai merah tak terserap, Amran menginisiasi pengiriman via pesawat khusus ke Jakarta. Para eks jurnalis inilah yang kemudian turun tangan memasarkan komoditas tersebut ke masyarakat luas di Jakarta dan kota satelit. Keberhasilan misi kemanusiaan itu membuka pintu kepercayaan bagi AGRIJurno untuk mengelola distribusi komoditas strategis lainnya seperti bawang putih, beras, minyak goreng, gula, dan dalam waktu dekat, daging impor.

“Terbukti wartawan adalah tenaga marketing yang ampuh berkat keahliannya melobi narasumber selama ini,” ujar Mulia Nasution, salah satu penggerak AGRIJurno. Ia mengakui bahwa perubahan mindset dari pencari berita menjadi pelaku bisnis bukanlah hal mudah. Namun, desakan kebutuhan rumah tangga dan prinsip “tidak mau tunduk pada tangan di bawah” memaksa mereka beradaptasi. Idealisme mencerahkan masyarakat kini diwujudkan secara langsung; bahkan ketika ada kegiatan yang membutuhkan tenaga kasar, anggota AGRIJurno siap terlibat demi keberlangsungan usaha.

Kini, AGRIJurno telah menaungi setidaknya 280 eks pekerja media secara informal. Usaha ternak ayam di Sukabumi, Jawa Barat, baru saja beroperasi pada awal Agustus 2026, menyusul pengembangan di Jonggol. Inovasi produk juga terus dilakukan; bawang putih kini tidak hanya dijual per karung (20 kg), tetapi juga dalam kemasan eceran 1 kg yang sudah dikupas, menyesuaikan daya beli konsumen urban.

Meski secercah cahaya kemandirian mulai terlihat, AGRIJurno menyadari bahwa perjalanan masih panjang. Mereka mengajak para senior, simpatisan, maupun pihak industri—seperti pemilik pabrik sambal, jaringan restoran, atau pengguna korporat—untuk berkolaborasi dalam skema kemitraan yang saling menguntungkan. “Ini era kolaborasi, era kebangkitan ala gotong royong. Kami terbuka untuk bekerja sama dan berbagi keuntungan dengan transparan,” tegas Mulia.

Bagi siapa pun yang ingin mendukung atau menjalin kemitraan, dapat menghubungi Yusrizal (081338341075) atau Mulia (08118835165). Kisah AGRIJurno bukan sekadar tentang bertahan hidup, melainkan bukti bahwa di era digital yang serba cepat, nilai-nilai humanis, jaringan profesional, dan semangat gotong royong tetap menjadi modal sosial terbesar bangsa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

*anwi/ wi/ nf/ 130826 

Views: 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SPACE IKLAN

SPACE IKLAN