WARTA IDAMAN

Tertulis Keterangan Gambar pada Artikel “SEJARAH SINGKAT MASJID AL MANSHUR KAUM CILEUNGSI” di Majalah Dinding Masjid:
Dokumentasi Masjid Kaum Cileungsi oleh Tentara Belanda saat Menguasai Cileungsi sekitar tahun 1947 dengan keterangan foto berbahasa Belanda “Moskee Tjileungsir West Java” dengan disisipkan foto Raden Haji Manshur.
AWAL MULA PENDIRIAN
Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1800an oleh salah seorang ulama dari Lebak Banten yang menetap di Cileungal Bogor, bernama Raden Muhammad Yusuf bin Syekh Mohammad Alim yang merupakan keturunan dari Syekh Abdul Karim Banten.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Abdullah bin Salam: Jangan Takut Mengubah Pandangan Setelah Menemukan Kebenaran
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
Pada awal mulanya Raden Haji Muhammad Yusuf berdakwah di lingkungan masyarakat kampung kaum dengan membaur bersama masyarakat sekitar, kemudian lambat laun pengaruhnya di lingkungan masyarakat menjadi sangat dihormati sebagai seorang tokoh ulama yang sangat disegani, disaat bersamaan datang pejabat Belanda, urusan pribumi yang berkuasa di wilayah Cileungsi untuk menawari beliau jabatan sebagai Penghulu Agama, sebelum menerima tawaran tersebut beliau mengajukan syarat kepada pejabat Belanda tersebut agar dibangunkan sebuah Masjid untuk kepentingan masyarakat Cileungsi dan sekitarnya.
Pejabat Belanda tersebut menyanggupi syarat dari Raden Haji Muhammad Yusuf. Dengan bantuan dana dari Tuan taneh Cileungsi yaitu Perusahaan Michiels Arnold Landen dikerjakan bersama-sama masyarakat sekitar juga, maka dibengunlah sebuah Masjid Besar yang memiliki Arsitektur Bangunan unik bergaya campuran Timur Tengah. Eropa, Tionghoa, dan Lokal yang diberi nama Masjid Kaum yang pada perjalanannya berganti-ganti nama. Salah satunya pernah bernama Masjid Al Huda kemudian Nurul Huda sampai akhirnya menjadi Masjid Al Manshur.
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
Views: 75






















