Beranda / SYIAR HIJRAH / Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)

Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)

Dr. H. M. Suaidi, M.Ag.

Dalam Islam, konsep rezeki yang dibagi menjadi dua jenis ini sering dikaitkan dengan pandangan para ulama dan riwayat (seperti dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau dinamakan sebagai rezeki kasbi dan taqdiri).

1. Rezeki yang Harus Dicari (Rezeki Kasbi)

Pengertian: Rezeki yang menuntut adanya usaha, ikhtiar, dan kerja keras dari manusia.

Sifat: Allah SWT telah menetapkan sebab-sebabnya, namun manusia harus aktif menjemputnya melalui pekerjaan, perdagangan, atau belajar.

Contoh: Gaji bulanan, hasil tani yang ditanam sendiri, atau keuntungan usaha yang dikelola.

2. Rezeki yang Datang Sendiri (Rezeki Taqdiri)

Pengertian: Rezeki yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT dan akan mendatangi hamba-Nya tanpa harus bersusah payah mencarinya.

Sifat: Datang dari arah yang tidak disangka-sangka karena ketetapan dan keadilan Allah.

Contoh: Rezeki tak terduga, hadiah, warisan, bantuan dari orang lain, atau nikmat kesehatan dan ketenangan hati.

Perspektif ini juga tercermin dalam kisah klasik antara pandangan Imam Syafi’i (yang lebih menekankan pentingnya ikhtiar/mencari rezeki) dan Imam Malik (yang menekankan tawakal bahwa rezeki akan tetap sampai pada pemiliknya), di mana kedua prinsip tersebut saling melengkapi—manusia tetap wajib berikhtiar, namun hati harus bersandar pada jaminan Allah SWT.

Imam Malik membacakan hadis Rasulullah yang berbunyi:

لَوْ ‌تَوَكَّلْتُمْ ‌عَلَى ‌اللَّهِ ‌حَقَّ ‌تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, maka Allah akan memberi rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, di mana ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, pulang sore dalam keadaan kenyang.

Sementara itu, Imam Syafi’i berpendapat sebaliknya. Ia berkata, “Wahai Guru, andai seekor burung tidak keluar dari sarangnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?”

Imam Syafi’i melihat rombongan orang yang sedang memanen anggur. Sang Imam pun ikut membantu mereka, lantas ia mendapat imbalan beberapa ikat anggur dari mereka.

Imam Syafi’i lantas bergegas kembali menemui gurunya (Imam Malik). Sang guru pun terlihat tengah bersantai. Sambil menaruh ikatan anggur yang diberi dari sang murid, Imam Syafi’i menceritakan pengalamannya. Ia berkata, “Andai saya tidak keluar dari rumah dan tidak bekerja, tentu anggur ini tidak akan sampai kepada tangan saya.”

“Engkau datang membawakannya untukku. Bukankah ini yang dimaksud dengan, ‘Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus yang lain’?” Akhirnya, keduanya pun tertawa lebar dan mereka melanjutkan menikmati anggur.

والله أعلم

*****

anwi/ pjmi/ wi/ nf/ 171026: anugrah

Views: 0

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 1
  • 1
  • 248
  • 223
  • 1,351
  • 4,697
  • 81,226
  • 81,226
  • 156,124
  • 0
  • 4,973
  • 256