Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Azis Khafia: Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kaoem Betawi Jakarta
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
Ale, seorang pria berbadan bongsor yang ditolak oleh masyarakat sosial. Tiga puluh tujuh tahun usianya, dia hidup tanpa berteman dan tanpa makna. Ale didiagnosa oleh psikiater mengidap depresi. Di tempat kerjanya, dia tak memiliki rekan dekat, bahkan cenderung dijauhi. Ia punya masalah dengan bau badan karena tubuhnya yang besar lebih sering menghasilkan keringat. Bukannya ia tidak peduli, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkar pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Danrem 072/Pamungkas Ajak Mahasiswa Pesantren Perkuat Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
- Jawaban Lengkap Menhaj soal Pengangkatan Tenaga Ahli dan Awal Pembentukan Kemenhaj
- Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan Jajaki Museum Haji Indonesia, Lestarikan Jejak Sejarah Bangsa
- Hadiri Istighosah Kebangsaan Hari Santri 2026, KH Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup untuk Menjaga Persatuan Bangsa
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ketum PB Al Washliyah Sampaikan 4 Pesan
- Kapolda Gorontalo Beri Penghargaan kepada 26 Personel Berprestasi dalam Penindakan Tambang Ilegal
Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Ia meng-set waktu 24 jam sebelum mati. Ia sudah berencana menelan obat yang dia punya sekaligus satu telanan. Namun saat mendekati detik terakhir, Ale melihat label pada botol obatnya, anjuran untuk makan dulu sebelum minum obat. Seketika Ale berpikir untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri.
Namun, rupanya mie ayam yang hendak Ale beli, tidak jualan. Tutup. Rencana Ale untuk mati harus tertunda. Namun ia tetap bertekad untuk mati, setelah makan seporsi mie ayam.
Ale merasa hidupnya sangat sial dari fisik, cinta, pertemanan, hingga keluarga yang justru mematahkan semangatnya. Depresi akut membuatnya ingin mengakhiri hidup. Di hari terakhir, ia habiskan semua uang untuk bersenang-senang. Keinginan terakhirnya adalah makan seporsi mie ayam langganan. Tapi takdir malah menyeretnya ke kejadian tak terduga. Ia terlibat kesalahpahaman hingga masuk penjara. Di sana, hidupnya tak jauh berbeda, sampai Murad datang. Murad adalah tahanan “istimewa” polisi yang mengubah kehidupan Ale dari kepecundangan hingga keberanian lewat tempat yang tidak istimewa, kotor, berdosa, tetapi dari tempat itulah pertama kalinya Ale mendapatkan perlakuan manusiawi dari manusia.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 1909





















