Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Azis Khafia: Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kaoem Betawi Jakarta
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
Dewan Pembina SWI Jaya, M. Guntur Alting, menegaskan bahwa tantangan terbesar bagi wartawan yang berhimpun di bawah SWI Jaya bukan hanya membangun organisasi, tetapi juga menjaga marwah profesi di tengah perubahan lanskap media yang semakin cepat.
«“Di sinilah letak ujian terberat bagi wartawan yang bernaung di bawah SWI Jaya. Organisasi ini harus berdiri sebagai benteng,” ujar M. Guntur Alting.»
Menurutnya, Kode Etik Jurnalistik tidak boleh berhenti sebagai dokumen formal atau sekadar materi dalam uji kompetensi wartawan. Kode etik harus menjadi pedoman moral yang membimbing setiap insan pers dalam menjalankan profesinya.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Jawaban Lengkap Menhaj soal Pengangkatan Tenaga Ahli dan Awal Pembentukan Kemenhaj
- Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan Jajaki Museum Haji Indonesia, Lestarikan Jejak Sejarah Bangsa
- Hadiri Istighosah Kebangsaan Hari Santri 2026, KH Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup untuk Menjaga Persatuan Bangsa
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ketum PB Al Washliyah Sampaikan 4 Pesan
- Kapolda Gorontalo Beri Penghargaan kepada 26 Personel Berprestasi dalam Penindakan Tambang Ilegal
- Hari Jadi Ke-75 Humas Polri: Kapolda Gorontalo Berbagi Kehangatan Dengan Insan PERS
“Kode etik jurnalistik bukan sekadar hafalan uji kompetensi atau hiasan di dinding kantor redaksi, melainkan sebuah panglima moral,” tegasnya.
Ia menambahkan, SWI Jaya harus mampu merawat identitas organisasi sebagai wadah wartawan yang kredibel, independen, dan objektif. Prinsip tersebut dinilai semakin penting di tengah persaingan media digital yang kerap menjadikan kecepatan dan jumlah klik sebagai ukuran utama keberhasilan sebuah pemberitaan.
SWI Jaya, kata dia, tidak boleh kehilangan orientasi jurnalistik hanya demi mengejar trafik.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
Views: 16




















