Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.
Dalam “Al-Hikam” karya Syeckh Ibn ‘Atha’illah , menggambarkan bagaimana seorang hamba harus selalu berada di antara roja’ dan khauf untuk mencapai kesempurnaan spiritual dan dekat dengan Allah.
Al-Hikam Pasal 160
اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه اليكَ، واذا اردت ان يفتح لك باب الخوف فاشهد مامنك إليهِ
Apabila engkau ingin dibukakan Allah pintu roja’/harapan, maka perhatikan kebesaran nikmat pemberian Allah padamu yang berlimpah. Dan apabila engkau ingin dibukakan pintu khauf/ takut,maka perhatikan hati dan amal ibadahmu kepada Allah.
Hikmah ini menjelaskan dua cara untuk bertaqarrub kepada Allah yaitu :
1. Roja’ (berharap hanya kepada Allah), caranya: selalu memperhatikan apa yang ada pada dirimu dari nikmat pemberian Allah, macam-macamnya manfaat yang diberikan kepadamu, dan dihindarkan dari macam-macamnya bala’ bencana mulai dari kamu dalm kandungan ibumu sampai saat ini. Sehingga hati kamu bisa berharap secara optimis dan husnud-dhon kepada Allah dan tidak akan putus asa.
Dalil Raja’ (harapan) adalah firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan dengan apapun dalam beribadah kepada Robbnya” (QS. Al-Kahfi: 110).
2. Khouf (Takut hanya kepada Allah), caranya: selalu memperhatikan apa-apa dari dirimu tentang kekurangan dan kecurangan mu dalam menghamba kepada Allah, adab yang kurang baik terhadap Allah. Sehingga timbul dalam hatimu rasa takut kepada Allah. Kedua sifat ini harus dimiliki oleh setiap mukmin.
Dalil ibadah Khauf (takut) adalah firman Allah Ta’ala:
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 175).
Dalam tasawuf, seorang Muslim dianjurkan untuk menyeimbangkan antara roja’ dan khauf. Harapan tanpa rasa takut dapat mengarah pada kelalaian dan meremehkan dosa, sementara takut tanpa harapan dapat mengarah pada keputusasaan. Keseimbangan antara keduanya memastikan bahwa seorang Muslim tetap berusaha melakukan kebaikan dengan penuh harapan akan rahmat Allah, tetapi juga tetap waspada dan menjauhi perbuatan dosa karena takut akan azab Allah.
Imam Al-Ghazali dalam karyanya, seperti “Ihya’ Ulum al-Din”, juga menekankan pentingnya keseimbangan ini. Beliau menjelaskan bahwa seorang Muslim harus selalu berada di antara harapan dan takut. Harapan akan mendorong seseorang untuk terus berbuat baik dan mengharapkan rahmat Allah, sementara rasa takut akan mencegah seseorang dari berbuat dosa dan menjauhkan diri dari perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
*anwi/ wi/ nf/ 300726
Views: 0








