Menurutnya, setiap kader harus siap menerima keputusan musyawarah dengan lapang dada. Tidak terpilih dalam sebuah proses pemilihan bukan berarti seseorang gagal atau tidak memiliki kemampuan, tetapi merupakan bagian dari keputusan yang harus dihormati bersama.
“Kalau kita tidak terpilih, berarti Allah tidak menggerakkan hati para formatur itu,” ujarnya.
- Azis Khafia: Fahmi Tamami Milad ke-19, Sinergi Seni dan Dakwah di Tengah Arus Hoaks
- Pengukuhan Pengurus Ikatan Alumni SMPN 51 Jakarta; Maju Bergerak Bersama
- UIA Gelar Kuliah Umum Perdana Tahun Akademik 2026-2027
- Pameran Kaligrafi Internasional di Semarang Resmi Ditutup, JIC Dorong Inovasi hingga MTQ 2027
- Salat Istisqa Digelar di Alun-Alun Kabupaten Bogor, Tak Lama Kemudian Hujan Turun Deras
- PB Al Washliyah akan Dirikan Sekolah Sepak Bola: Bentuk SSB Bunker Al Washliyah Soccer School
Saifuddin memandang para anggota formatur atau AHWA sebagai orang-orang yang memiliki kapasitas keulamaan, intelektual dan integritas sehingga dipercaya mengambil keputusan strategis bagi organisasi.
Karena itu, ia mengajak seluruh kader untuk menghormati keputusan yang lahir dari musyawarah.
“Kalau mereka memilih, kita harus meyakini bahwa itu adalah bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sama dengan ketika Al Washliyah melakukan pemilihan ketua,” katanya.
Ia menambahkan, sebagai orang yang meyakini adanya takdir Allah SWT, dirinya memandang terpilihnya seorang pemimpin melalui formatur maupun AHWA sebagai bagian dari ketetapan dan kehendak Allah SWT.
BACA JUGA:
- Menjemput Cahaya di Ujung Lelah: Kisah Keikhlasan yang Menembus Langit
- Hikmah ke-3 Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu Athaillah al-Sakandari
- Salat dari Sisi Hakikat, Syariat, dan Tarekat
- 5 Tips Konsisten Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari agar Tetap Istiqomah
- Kajian Kitab Al-Hikam #2
- Ketum Al Washliyah: Teladani Kepemimpinan Amanah dan Keadilan Ekonomi Rasulullah
- Amal sedikit penuh kesadaran Ilahi lebih baik dari pada banyak amal dengan kesombongan diri
“Terpilihnya seseorang oleh formatur maupun AHWA tadi adalah gerak yang digerakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mereka orang-orang alim dan orang-orang yang dekat kepada Allah,” katanya.
Saifuddin berharap keberhasilan Muktamar NU ke-35 di Jombang menjadi momentum memperkuat tradisi musyawarah dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan Islam. Bagi Al Washliyah, pengalaman NU tersebut sekaligus mempertegas bahwa sistem formatur yang selama ini diterapkan memiliki landasan yang kuat dalam menjaga persatuan, ketenangan dan soliditas organisasi.***()
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com
*islu/ pjmi/ wi/ nf/ 030926
Views: 5





















