Menurut Hamid, pola tersebut membuat santri terbiasa melakukan berbagai pekerjaan sehari-hari, termasuk menjaga kebersihan dan mengelola kehidupan asrama. Hal-hal sederhana tersebut dinilai menjadi bagian penting dari pendidikan kemandirian.
Hamid menilai konsep pendidikan holistik tersebut turut menjelaskan kemampuan Gontor melahirkan alumni yang kemudian berkiprah di berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Ia menyebut sejumlah alumni awal Gontor yang kemudian menjadi tokoh nasional, di antaranya KH Idham Chalid yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama.
BACA JUGA di WARTA IDAMAN:
- Lestarikan Budaya Nusantara, 35 Penari Muda Sanggar KR Dinisha Unjuk Gigi di Kantor Kelurahan Cipayung Jaya
- PUISI: “KARHUTLA”
- Kesempatan Masih Terbuka! Ayo Daftarkan Tim di Kejurda AFI 2026
- Tiket Film Pirunduk Cuma Rp25 Ribu di Banjarmasin dan Kuala Kapuas, Ini Cara Mendapatkannya
- AFI DKI Jakarta Perkuat Pembinaan Floorball, Libatkan 200 Atlet Pelajar
- AFI DKI Jakarta Gelar Floorball Creative Competition 2026
- PUISI: “KOPI”
“Ini hadiah Gontor untuk Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia,” katanya.
Hamid menegaskan, keberlangsungan Gontor selama satu abad juga tidak terlepas dari keteladanan dan pengorbanan para pendirinya. Mereka, kata dia, mengembangkan pondok berdasarkan semangat perjuangan dan keikhlasan, termasuk mewakafkan pondok untuk kepentingan umat.
Setelah berkembang dan memiliki alumni yang berkiprah di masyarakat, Gontor kemudian diwakafkan. Wakaf tersebut memastikan aset pondok tidak menjadi milik pribadi atau keturunan pendirinya.
Bagi Hamid, prinsip tersebut menjadi bagian penting dari fondasi Gontor dalam memasuki abad kedua. Pendidikan, keteladanan, pengabdian, dan orientasi wakaf menjadi nilai yang perlu terus dipertahankan agar pesantren tetap mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.*
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com
RILIS 2
*ibsy/ pjmi/ wi/ nf/ 040926
Views: 4






















