Menurut Hamid, pola tersebut membuat santri terbiasa melakukan berbagai pekerjaan sehari-hari, termasuk menjaga kebersihan dan mengelola kehidupan asrama. Hal-hal sederhana tersebut dinilai menjadi bagian penting dari pendidikan kemandirian.
Hamid menilai konsep pendidikan holistik tersebut turut menjelaskan kemampuan Gontor melahirkan alumni yang kemudian berkiprah di berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Ia menyebut sejumlah alumni awal Gontor yang kemudian menjadi tokoh nasional, di antaranya KH Idham Chalid yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama.
BACA JUGA di WARTA IDAMAN:
- Salahudin Jalal Tanjung: _Ramai-Ramai Menuju Kediri_
- LOMBA NYANYI TARI FASHION DI CAFE TERAS MANGGA KEBON JERUK
- Berlangsung Dua Hari, Turnamen Tenis Piala Wamenag Romo Safii, Antusias Peserta Luar Biasa
- Kisah Cinta dan Dakwah di Atas Vespa: Pasutri Sigi Tempuh Jalur Lintas Pulau Demi Hadiri Muktamar V Wahdah Islamiyah
- On Love Karya Khairil Gibran
- Ngering Merapi, 35 Peserta CTC Nikmati 130 Kilometer Perjalanan dan Persaudaraan
- Ketua RW 007 CBS Mukhlis Syamaun Mengajak Warga Hidup Sehat Lewat Senam Ling Tien Kung
“Ini hadiah Gontor untuk Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia,” katanya.
Hamid menegaskan, keberlangsungan Gontor selama satu abad juga tidak terlepas dari keteladanan dan pengorbanan para pendirinya. Mereka, kata dia, mengembangkan pondok berdasarkan semangat perjuangan dan keikhlasan, termasuk mewakafkan pondok untuk kepentingan umat.
Setelah berkembang dan memiliki alumni yang berkiprah di masyarakat, Gontor kemudian diwakafkan. Wakaf tersebut memastikan aset pondok tidak menjadi milik pribadi atau keturunan pendirinya.
Bagi Hamid, prinsip tersebut menjadi bagian penting dari fondasi Gontor dalam memasuki abad kedua. Pendidikan, keteladanan, pengabdian, dan orientasi wakaf menjadi nilai yang perlu terus dipertahankan agar pesantren tetap mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.*
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com
RILIS 2
*ibsy/ pjmi/ wi/ nf/ 040926
Views: 2



















