Beranda / KOLOM / Kalimantan Selatan: Gelap di Lumbung Energi

Kalimantan Selatan: Gelap di Lumbung Energi

| EKSKLUSIF, Hanya di WARTA IDAMAN |

Oleh: Iwan Samariansyah, S.Si., M.Si.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam 45 Bekasi dan Universitas Terbuka.

Selasa sore, 15 September 2026, warga di sejumlah jalan di Banjarbaru menerima kabar yang sudah terlalu akrab: aliran listrik akan dihentikan sementara pukul 17.00 hingga 20.30 WITA. Pengumuman serupa, dengan pola kalimat yang hampir seragam, “sehubungan dengan adanya gangguan pada sejumlah pembangkit”, juga beredar di Banjarmasin, di Martapura (Kabupaten Banjar), dan di Marabahan (Kabupaten Barito Kuala). Bagi warga di sana, pemadaman bergilir bukan lagi peristiwa insidental. Ia sudah menjadi ritme hidup, hampir setiap hari, sejak pertengahan tahun.

Yang membuat ironi ini terasa lebih pedih adalah lokasinya. Kalimantan Selatan bukan provinsi tertinggal yang belum tersentuh infrastruktur energi. Ia justru salah satu lumbung energi paling produktif di Republik Indonesia. Bersama Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, provinsi ini menjadi tulang punggung pasokan batu bara nasional, komoditas yang menghidupi lebih dari separuh pembangkit listrik di seluruh negeri.

Kaya di Atas Bumi, Gelap di Rumah Sendiri

Data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM menyebutkan Kalimantan menyumbang sekitar 82 persen produksi batu bara nasional pada 2024, dan sekitar 70 persen batu bara yang memasok pembangkit listrik dalam negeri berasal dari pulau ini. Kalimantan Selatan sendiri tercatat memproduksi 237 juta ton batu bara pada tahun itu, terbesar kedua setelah Kalimantan Timur. Ditambah hamparan kebun sawit yang membentang di Tanah Bumbu, Kotabaru, hingga Tanah Laut, provinsi ini pantas disebut lumbung energi ganda : energi fosil dan energi nabati sekaligus.
Namun kekayaan itu tidak berbanding lurus dengan keandalan listrik bagi penduduknya sendiri.

Sejak Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPRD Kalimantan Selatan dengan PLN Unit Induk Distribusi Kalselteng awal Juli 2026, publik mengetahui bahwa pemadaman bergilir dipicu gangguan pada sejumlah pembangkit swasta yang menjadi mitra pemasok PLN, termasuk kerusakan mesin di PLTGU Bangkanai, Barito Utara. Ketua Komisi III DPRD Kalsel saat itu menyampaikan keresahan warga yang terdampak pemadaman hingga empat kali dalam sepekan. PLN sendiri memperkirakan kondisi normal baru akan pulih pada akhir September 2026, sebuah tenggat yang, sampai pertengahan bulan, belum juga terpenuhi bagi banyak wilayah.

Views: 1

Halaman: 1 2 3

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 1
  • 123
  • 83
  • 107
  • 69
  • 629
  • 13,847
  • 76,107
  • 76,107
  • 151,788
  • 1
  • 4,831
  • 270