
WARTA IDAMAN

Oleh : Aisyah Ulfa
Mahasiswa jurusan Program Doktor Politik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Dalam politik, perubahan sikap merupakan sesuatu yang lumrah. Seseorang yang semula mengkritik sebuah kebijakan dapat berubah menjadi pendukungnya ketika menemukan alasan baru, melihat manfaat yang berbeda, atau menilai bahwa kebijakan tersebut layak diterima. Karena itu, perubahan sikap tidak seharusnya langsung dianggap sebagai inkonsistensi. Namun, perubahan tersebut tetap menarik dikaji ketika terjadi pada seorang intelektual publik yang selama ini dikenal kritis terhadap kekuasaan.
Fenomena itu terlihat dalam sikap Rocky Gerung terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada Oktober 2025, Rocky mengkritik pelaksanaan program tersebut dan menyoroti risiko korupsi serta persoalan pengelolaannya. Namun, pada Juni 2026, ia menyatakan dukungan terhadap MBG dengan alasan bahwa program tersebut berkaitan dengan amanat konstitusi dan keadilan sosial. Ia juga menegaskan bahwa mendukung program tidak berarti membela pemerintah. (Riau Online, 1 Oktober 2025; Nusantara TV, 1 Juli 2026).
Perubahan penekanan ini memunculkan pertanyaan: apakah Rocky sedang mengubah sikap, mengubah cara pandang, atau justru memperjelas perbedaan antara gagasan dan pelaksanaan kebijakan?
Menurut saya, fenomena tersebut menarik dibaca melalui konsep retorika ambigu dan pragmatisme politik. Keduanya membantu menjelaskan bahwa dalam politik, sikap seseorang tidak selalu bersifat tetap, melainkan dapat berubah mengikuti pertimbangan, kepentingan, dan penafsiran terhadap situasi.
Retorika ambigu adalah cara menyampaikan pernyataan yang membuka kemungkinan penafsiran lebih dari satu. Dalam konteks politik, ambiguitas dapat muncul ketika batas antara kritik dan dukungan tidak dijelaskan secara tegas. Seseorang dapat mengkritik pelaksanaan sebuah program, tetapi tetap mendukung tujuannya. Secara logis, hal ini tidak bertentangan. Persoalannya muncul ketika publik tidak memperoleh penjelasan yang cukup mengenai alasan perubahan penekanan tersebut.
Dalam kasus Rocky, perbedaan antara mengkritik pelaksanaan MBG dan mendukung tujuan konstitusionalnya memang perlu diperhatikan. Kritik terhadap tata kelola tidak otomatis berarti menolak tujuan pemenuhan gizi masyarakat. Sebaliknya, dukungan terhadap tujuan program juga tidak berarti semua aspek pelaksanaannya harus diterima tanpa evaluasi.
Di sinilah pragmatisme politik menjadi relevan. William James, melalui bukunya Pragmatism: A New Name for Some Old Ways of Thinking (1907), mengajak kita memahami gagasan melalui konsekuensi praktis dan pengalaman. Dalam pengertian ini, sebuah pandangan dapat berubah ketika seseorang memperoleh alasan baru atau menilai manfaat suatu kebijakan secara berbeda.
Pragmatisme tidak menuntut seseorang mempertahankan pendapat lama hanya demi terlihat konsisten. Justru, kesediaan mengubah pandangan dapat menjadi tanda keterbukaan intelektual. Akan tetapi, perubahan tersebut idealnya disertai alasan yang jelas dan dapat diuji. Tanpa itu, pragmatisme berisiko hanya menjadi pembenaran atas perubahan sikap.
Di sinilah teori pembenaran menjadi penting. Sebuah pendapat tidak cukup dibenarkan hanya karena memiliki tujuan yang baik. Dukungan terhadap MBG atas dasar keadilan sosial, misalnya, merupakan alasan normatif yang dapat dipahami. Namun, keberhasilan program tetap harus dinilai berdasarkan hasil nyata, kualitas makanan, ketepatan sasaran, penggunaan anggaran, dan akuntabilitas pelaksanaannya.
Dengan demikian, ada perbedaan antara membenarkan tujuan dan membenarkan pelaksanaan. Keduanya membutuhkan dasar argumentasi yang berbeda. Tujuan yang baik tidak otomatis menjamin bahwa seluruh proses pelaksanaannya sudah benar.
Lantas, apakah perubahan sikap Rocky dapat disebut ambigu? Jawabannya tidak harus demikian. Jika ia secara konsisten membedakan dukungan terhadap tujuan program dari kritik terhadap pelaksanaannya, perubahan tersebut justru dapat dipahami sebagai posisi yang rasional. Namun, jika penjelasan mengenai perubahan itu tidak disertai argumentasi yang memadai, publik dapat menangkapnya sebagai retorika yang ambigu.
Kita juga perlu membedakan pragmatisme dengan oportunisme. Pragmatisme dapat berarti kesediaan menilai kembali pandangan berdasarkan manfaat dan konsekuensi. Oportunisme, sebaliknya, merujuk pada kecenderungan menyesuaikan sikap demi keuntungan tertentu. Keduanya tidak dapat disamakan begitu saja. Untuk menyebut perubahan sikap seseorang sebagai oportunisme, diperlukan bukti mengenai motif dan kepentingan yang mendasarinya.
Karena itu, saya melihat persoalan utama dalam fenomena Rocky Gerung bukanlah bahwa ia berubah sikap. Ia memiliki hak untuk mengubah pandangan, sebagaimana setiap warga negara berhak menilai ulang kebijakan publik. Yang lebih penting adalah bagaimana perubahan tersebut dijelaskan dan dipertanggungjawabkan secara intelektual.
Dalam demokrasi, konsistensi bukan berarti seseorang harus selalu mengatakan hal yang sama. Konsistensi justru dapat dilihat dari kesediaannya menggunakan standar penilaian yang masuk akal, menjelaskan perubahan pendapat, serta tetap terbuka terhadap kritik. Seorang pengamat politik boleh mendukung suatu program tanpa menjadi pendukung pemerintah, sebagaimana ia boleh mengkritik pemerintah tanpa harus menolak seluruh kebijakannya.
Pada akhirnya, retorika ambigu mengingatkan kita bahwa bahasa politik tidak selalu sesederhana pernyataan setuju atau tidak setuju. Di dalamnya terdapat kepentingan, penalaran, nilai, dan cara seseorang membenarkan sikapnya. Pragmatisme dapat menjadi jalan untuk memperbaiki penilaian, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan ketika alasan perubahan tidak dijelaskan secara terbuka.
Dalam politik, yang menarik bukan sekadar siapa yang berubah sikap, melainkan bagaimana perubahan itu dibenarkan. Sebab, pragmatisme dapat menjadi jalan menuju kebijaksanaan, tetapi tanpa kejelasan argumentasi, ia dapat mengaburkan batas antara prinsip dan kepentingan.
Referensi
- James, William. 1907. Pragmatism: A New Name for Some Old Ways of Thinking. New York: Longmans, Green, and Co.
- Riau Online. 1 Oktober 2025. “Rocky Gerung Kritik Pedas MBG: Bumi Beri Gizi, Politik Mengubahnya Jadi Racun.”
- Nusantara TV. 1 Juli 2026. “Rocky Gerung Blak-blakane Dukung MBG dan KDMP: Bukan Membela Pemerintah Melainkan…”
*****
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN Berita Semesta
- Dewan Fatwa Al Washliyah Tegaskan Pembakaran Hutan dan Lahan Hukumnya Haram, Desak Penegakan Hukum Tegas
- Bukan Sekadar Kumpul-Kumpul, Dai Pantura Ungkap 7 Pilar Membangun Organisasi yang Berdampak
- Disporа DKI Jakarta dan PRIMA DMI DKI Jakarta Dorong Remaja Masjid Bangun Bisnis Kaos dan Merchandise dengan Brand Sendiri
- BNCT dan Mitra Strategis Letakkan Fondasi Pendidikan bagi Generasi Muda Belawan
- Azis Khafia : Kiyai Syuqron Makmun, Singa Mimbar Indonesia telah Berpulang Ke Rahmatullah
- Forkomnas Ormas Islam Nasional Sampaikan Sikap atas Tiga Isu: Serangan ke Tanah Suci, Pelarangan Jilbab, dan Rencana Konser
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

rabawi/ pjmi/ wi/ nf/ 201026: banu
Views: 0





















