BEKASI — Suasana berbeda hadir di Pesantren Tahfidz Sahabat Quran Habibi, Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Para santri akhwat mengikuti berbagai perlombaan khas 17 Agustus yang dikemas sebagai sarana rekreasi sekaligus pembelajaran karakter.
Di tengah rutinitas menghafal Al-Qur’an, halaqah, setoran hafalan, dan pelajaran diniyyah, para santri mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dalam suasana yang lebih santai. Beragam permainan seperti pecah balon, pecah air, makan kerupuk, estafet air, estafet sarung, hingga membaca puisi menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kemerdekaan.
Bukan hanya peserta yang merasakan keseruan. Para santri juga tampak saling memberikan semangat ketika teman mereka mengikuti perlombaan. Suasana kebersamaan dan kekompakan terlihat dalam berbagai permainan yang membutuhkan kerja sama antarpeserta.
Melatih Keberanian Lewat Puisi
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah lomba membaca puisi bertema kemerdekaan. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada santri untuk menunjukkan kemampuan sekaligus melatih keberanian tampil di hadapan orang lain.
Haifa Nuha Kusuma berhasil meraih Juara 1 dalam lomba baca puisi. Bagi Nuha, pengalaman tersebut bukan hanya tentang menjadi pemenang, tetapi juga tentang kesempatan untuk tampil dan merasakan kemeriahan perayaan kemerdekaan bersama teman-temannya.
“Saya senang karena berkesempatan ikut lomba seperti anak-anak lainnya. Bisa kumpul dan seru-seruan bersama teman-teman,” ujar Nuha.
Pengalaman tampil di depan orang lain menjadi bagian penting bagi santri. Rasa gugup, keberanian untuk maju, hingga kemampuan menyampaikan puisi menjadi proses yang dapat membantu membangun rasa percaya diri.
Ruang Kebersamaan di Tengah Padatnya Aktivitas Pesantren
Pembimbing santri, Ustadzah Farah Anjeli Nurhidayani, S.Ag., S.Pd., mengatakan kegiatan 17 Agustus memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perlombaan dan hadiah.
“Lomba 17 Agustus bagi santri akhwat penghafal Al-Qur’an itu bukan cuma soal hadiah atau seru-seruan saja. Ini momen mereka bisa kumpul bareng dan lebih dekat, kerja sama, saling support satu sama lain,” kata Farah Anjeli.
Menurutnya, aktivitas santri sehari-hari cukup padat dengan kegiatan halaqah, setoran hafalan, serta pelajaran diniyyah. Karena itu, kegiatan bersama dalam suasana santai menjadi kesempatan bagi mereka untuk mempererat hubungan dan membangun kebersamaan.
Selain itu, perlombaan juga menjadi media untuk menanamkan nilai sportivitas dan kerja sama.
“Lewat lomba-lomba seperti estafet air atau estafet sarung, mereka juga belajar sportivitas, kompak, dan tetap menjaga adab meskipun sedang seru-seruan,” ujarnya.
Farah berharap momentum kemerdekaan juga dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap Tanah Air di kalangan santri.
“Selain merayakan kemerdekaan, saya juga berharap lewat kegiatan ini dapat menanamkan rasa cinta kepada negeri ini kepada mereka, tetapi tetap dalam bingkai bahwa cinta tanah air itu sebagian dari iman,” tuturnya.
Perempuan Muda dan Masa Depan Bangsa
Sementara itu, Kepala Pesantren Tahfidz Sahabat Quran Habibi, Umul Ma’rifah, S.Ag., memandang kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk pengenalan kepada santri bahwa perempuan juga memiliki peran dalam mengisi kemerdekaan.
“Ini menjadi gambaran partisipasi perempuan dalam mengisi kemerdekaan. Negara membutuhkan perempuan yang merupakan penentu masa kebaikan bangsa,” ujar Umul Ma’rifah.
Menurutnya, peringatan kemerdekaan juga menjadi momentum untuk mengajak santri mensyukuri kehidupan yang dapat mereka jalani saat ini tanpa mengalami penjajahan fisik sebagaimana yang dialami generasi terdahulu.
“Harapannya, kegiatan kemarin membuat mereka bisa bersyukur bisa hidup di zaman yang nyaman tanpa ada penjajahan fisik, dan sekaligus mengingatkan mereka ada peran keakhwatan yang dinanti oleh negara ini,” katanya.
Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran santri bahwa menjadi perempuan bukan berarti hanya berperan di lingkungan tertentu. Dengan ilmu, karakter, keterampilan, dan akhlak yang baik, mereka diharapkan mampu mengambil peran positif di tengah masyarakat.
Merayakan Kemerdekaan dengan Tetap Menjaga Adab
Kemeriahan perlombaan menjadi warna tersendiri bagi kehidupan para santri. Namun, di balik permainan dan tawa, terdapat proses pendidikan yang ikut berjalan.
Melalui perlombaan, santri belajar menerima kemenangan maupun kekalahan, menghargai teman, bekerja sama dalam kelompok, berani tampil, serta tetap menjaga adab dalam suasana penuh kegembiraan.
Pesantren Tahfidz Sahabat Quran Habibi sendiri berfokus pada pendidikan Al-Qur’an dan program tahfidz yang diarahkan untuk membentuk santri penghafal Al-Qur’an hingga 30 juz. Pendidikan tersebut dilengkapi dengan berbagai kegiatan yang mendukung kemandirian dan pembentukan karakter santri.
Karena itu, perayaan HUT ke-81 RI tidak hanya menjadi agenda tahunan untuk memeriahkan kemerdekaan. Bagi para santri akhwat, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk belajar bahwa kemerdekaan juga dapat diisi dengan keberanian mengembangkan potensi, memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan mempersiapkan diri agar kelak dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari halaman pesantren, semangat kemerdekaan pun tumbuh dalam bentuk sederhana: tawa bersama, keberanian tampil, kerja sama, sportivitas, dan rasa syukur. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para santri akhwat Sahabat Quran Habibi untuk tumbuh sebagai perempuan berilmu, berkarakter, beradab, serta mampu mengambil peran dalam memberikan kebaikan bagi agama, masyarakat, dan bangsa.
*infh/ wi/ nf/ 180826
Views: 6







